Rabu, 10 April 2013

Cerpen: AKU TERKEJUT SENDIRI




"Mah, Han nggak mau pulang... Han mau sekolah sama mas El!" Anakku tak henti-hentinya memohon.

"Kan Han sekolah di Bekasi, lagian kasihan ayah, nak, di rumah sendirian, nggak ada yang masakin ayah sepulang kerja." Aku terus membujuk anakku, meski masih terus merajuk.

Lega rasanya ketika Han tidak menepis lagi gandengan tanganku. Sampai di bis pun anakku masih saja merajuk, malah semakin jadi ketika aku berusaha memberinya pengertian.

Aku tidak memberi tahu suamiku kalau hari ini aku pulang, sengaja untuk memberinya kejutan, dua minggu sudah aku meninggalkanya. Tapi suasana dalam perjalanan sudah sangat tidak nyaman, karena rengekan anakku yang tak ada henti-hentinya. Sampai akhirnya dia kecapekan, dan tertidur. Sebenarnya aku kasihan padanya, karena ingin sekolah di Jawa, ingin dekat dengan mas El katanya, tapi aku tidak bisa meninggalkan kewajibanku sebagai istri.

Begitu aku sampai di rumah, pintu masih tertutup rapat, padahal sudah jam lima pagi, tidak biasanya mas Aris telat bangun.

"Mas... adek pulang mas, cepat buka pintunya, kasihan Han kedinginan, anak kita tidur mas..." Aku heran, berkali-kali kuketuk sampai kugedor pintunya kok nggak ada sahutan dari dalam.

Aku coba menelpon, ada suara dering di sana... kenapa juga tak diangkat, padahal mas Aris paling mudah dibangunkan sekalipun dia kecapekan. Sesaat kemudian aku lega karena kudengar suara kunci pintu diputar.

"Langsung keluar dan lari ya..." aku medengar bisikan di balik pintu itu, perasaanku mulai bergemuruh, detak jantungku semakin cepat, ketika aku mendengar lagi ada suara perempuan.

"Mas?! Kau dengan siapa di dalam?!" seruku penasaran.

Tidak ada jawaban. Sejurus kemudian pintu terbuka. Sesosok perempuan berkerudung dan ditutup lagi memakai helm, berlari keluar dari dalam dan menabrakku.

"Astaghfirullah....!"

Agaknya sudah tak ada lagi yang tersisa, perasaanku seketika mati. Melihat dengan mata kepala sendiri suami bersama wanita lain di pagi buta, di rumahku sendiri. Aku tak memiliki kesanggupan membayangkan apa yang sudah dilakukan suamiku dengan wanita itu.

Suara-suara itu terus berdesakkan di kepalaku, antara berpisah atau membiarkan Han tetap berayah.

BNA Wanadadi 21032013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar