Selasa, 02 April 2013

CERPEN: Cinta Kecil


Jika hidup ini seumpama lesat bintang
maka pengalaman yang membelah waktu demi waktu
adalah cahaya yang kelebat lesatnya 

Adalah lelah yang singgah
ketika aku seperti berjalan di lorong
yang kian menyempit
sehingga aku tak bisa lagi
membangkitkan energi
untuk kembali mengingat masa
ketika aku seperti tak terbebani apapun
ketika kelukaanku terobati
oleh seulas senyum
yang datang tepat di saat aku
membutuhkanya


Hari itu tidak seperti biasanya, aku menolak ajakkan Lusi turun, Lusi menarik tanganku dan setengah memaksaku untuk menuruti kemauannya. "Ayuklah El, dari pada nggak ngapa-ngapain..." aku hanya menggelengkan kepalaku, menolak ajakkannya, aku sedang malas pergi ke perpus tempat biasa kami ngumpul saat istirahat, atau pelajaran kosong. Meski aku tidak pernah berharap ada surat untkku di kantor TU yang ada di dekat perpustakaan, sebelum masuk ke perpustakaan aku selalu mampir dulu ke loket kantor TU, tempat surat-sutrat yang terkirim berderet. Aku senang datang ke sana, meski hanya melihat-lihat siapa yang beruntung mendapat kiriman surat hari itu.

"El, lihat apa yang aku bawa untukmu...!" sambil berlari-lari kecil Lusi si tomboy, teriak dengan binar di matanya yang biasa kulihat ketika dia merasa senang. Sambil melambaikan sesuatu yang serupa surat, Lusi menuju ke arahku, sebelum lusi  sampai, aku sudah bangkit dan merebutnya dengan sesigap mungkin, mengingat si gadis yang lebih bisa dibilang ganteng itu suka usil. Aku hanya tertegun tak percaya ketika membaca siapa pengirim surat itu. "Oh, Mas Annas... kau masih mengingatku." Aku tak bisa sebunyikan kejora di mataku. Berkali surat itu aku cium, meski tak wangi, aku senang aroma kertas daur ulang itu. Lusi hanya melongo melihatku, keheranan. "Hoh, tau begitu aku tak mengambilkanya untukmu, kau langsung melupakan keberadaanku!" Sambil kupeluk Lusi dan, "terima kasih ya Lus... Sungguh ini kejutan yang sangat menyenangkan setelah enam tahun berlalu."

Adalah hal yang paling memalukan ketika aku menangis dan ada yang mengetahuinya. Iya, bola mataku mengaca, rinduku telah sederet tentara yang aku sendiri seolah pingsan di tengah-tengahnya, hatiku mengawang. Aku mulai menduga-duga, bahkan surat belum aku buka. Aku seperti hendak membuka tabir misteri yang telah sekian lama.

"Kamu baik-baik ya disini, jangan lagi malas ke madrasah, masa sudah gede maunya masih terus digendong sama Mamas. Besok mas harus sudah pindah sekolah di Slawi, kembali ikut sama Ummi dan Abah." Sambil menyeka air mataku mas Annas terus memberiku pengertian, kalau aku bisa tanpa dia. "Kelak, pasti kita bisa bertemu lagi, sudah jangan menangis, El masih pemberani seperti dulu, dengan atau tanpa Mas." Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku sambil tersedu.

Hari-hariku tidak pernah tidak bersamanya, berangkat pulang sekolah selalu bersama, juga sekolah di madrasah sore, tempat kami belajar membaca dan menulis arab. Mas Annas tergolong paling rajin, bahkan ketika aku malas berangkat, dia rela menggendongku sampai ke madrasah. Aku dibawanya berlari, "heaaa... heaaa... heaaa...! berlarilah secepet kilat kudaku...!" Itu yang selalu aku teriakkan ketika aku berada di punggungnya.

Aku masih kelas empat, dan mas Annas kelas enam SD, ketika mas Annas meninggalkanku untuk pindah sekolah ke kota asalnya. Sedih luar biasa, membayangkan bagaimana sunyinya hati nanti setelah dia tak lagi di sisih. Berat sekali ketika aku mesti di tinggalkan. Seolah ada yang menghujam teramat dalam, dilanda perasaan kehilangan. Sekarang aku faham kenapa orang mesti menangis ketika berpisah.

Dengan perlahan dan hati-hati, aku buka surat yang berbalut kertas daur ulang itu, "pasti ini dibuatnya sendiri" aku membatin.

Jumpa Adik
di Kidul sono

Assalamu'alaikum wr wb

Seamo... Merdeka!
Met senyum pepsodent selalu sebelumnya Mas ucapkan padamu adikku yang lagi ngelamun mikirin cowok... uha..uha... Alhamdulillah kabar mas baik-baik saja semoga adek pun demikian, dan nggak lagi kasmaran kaya.... Embuh ya...

El, yang lagi kangen sama Mas... kaget kan, kenapa Mas tahu alamat sekolahmu? Hayo... pasti baru nyadar tuh, tapi, Mas nggak akan cerita, hihihi... nah lho, bibirmu tuh dek manyun, jelek ah.

Mas tulis surat ini, nggak pake nangis lho Dek, tapi ada yang menggenang dan mendesak di kelopak mata Mas. Berapa lama kita tak ketemu Dek? tak ada tegur sapa, bahkan surat pun tidak... Adek tidak kangen sama mas? Mas bayangkan pasti adek sudah tinggi, juga lebih cantik dari yang dulu yang pernah Mas lihat... Juga bertambah rajin belajarnya, meski mas tak bantu adek seperti dulu.

Harapan Mas masih sama seperti ketika mas pamit denganmu, semoga kelak Allah memberi kita kesempatan untuk bisa bertemu... Meski entah kapan. Sekarang mas sudah mualai sibuk, hingga sulit sekali untuk bisa meluangkan waktu bahkan untuk menulis surat mas harus curi-curi waktu, apalagi pergi ke Banjar menemuimu. Mas kerja di Sebuah SMA di Tegal, dan di luar itu Mas adalah tim sukarela di PMI, jadi hampir setiap hari waktu mas habis untuk kerja dan membantu di PMI.

Dek, sudah dulu ya, untuk sementara baru kabar ini yang mas sampaikan untukmu, tugas Mas sudah menunggu cepat di balas... Mas penasaran apa tulisanmu sekarang sudah sebagus tulisannya mba' Faridah Hanum... hehe.

Pesan Mas, jadilah El yang biasa mas kenal, tetap baik dan selalu manis, tidak pernah mahal untuk tersenyum pada siapa saja, tapi... senyum-senyum sendiri... hahaha!


wassalamu'alaikuam Sampaikan salam Mas untuk semua


--- Mas Annas---

Air mataku mengalir deras membaca surat Mas Annas, entahlah... ada sedikit  mengganjal di dadaku,  serupa dengan kecewa.

"El, apa isinya sampai kau menangis?" tanya Lusi sambil menyodorkan sapu tangannya padaku. Aku hanya menerima sapu tangan Lusi tanpa menjawab pertanyaanya.


BNA Wanadadi 16032013
Ilustrasi: Internet

Tidak ada komentar:

Posting Komentar