oleh Erlin Erlina Soraya
Meja bundar kayu tua itu tak biasanya begitu memikatku, lara yang semalaman kusimpan perlahan hilang, begitu kulihat dua orang yang amat aku cinta setelah Dia, yang mengaruniakan keduanya bagiku, dari awal kehidupanku hingga kini, sedang duduk di sana... Kasih yang tak terpisahkan. Meski dulu aku pernah terpisah, jarak itu pun tak membuatku merasa jauh. Ketulusan cinta yang mereka miliki untukku mengalahkan segala cinta baru yang hadir padaku.
Ibu mengenakan baju dan kerudung biru muda, sangat serasi dan cantik seperti biasa, senyum pesonanya bagai es yang menyejukkan jiwaku yang kerontang, sejak terakhir kudengar ciricit si burung cantik di dahan pohon besar depan rumah sore kemarin. Yang terjadi itu ternyata, bukan hal berat yang harus aku pikirkan dan membuatku menderita. Hanya hal biasa yang setiap orang bisa mengalaminya.
Ayah yang duduk di sebelah ibu, masih dengan baju taqwa kesayangannya, sangat sederhana, namun tidak mengurangi kegagahannya. Di mataku ayah adalah pahlawan yang tak pernah kalah. Dari dulu aku tahu, ayah adalah seorang pejuang yang gigih. Menyerah tidak pernah terlintas, sekilas pun tidak. Ibu sebagai perempuannya pun tidak pernah tidak mengaguminnya... Sejak mula berjumpa.
Ini bukanlah cerita, sekadar cerita, tapi aku ingin gambarkan, ayah ibuku yang seperti gelombang yang setia pada lautan, dan aku adalah pantai yang selalu ayah ibu rindukan. Kami saling sayang tak sekalipun terpisahkan. Membayangkan yang terjadi... Bukan lagi yang harus aku sesali, cukup melihat senyum sejuk ibu dan pesona wajah ayah sumringah, hilang segala gundah.
BNA Wanadadi 14032013
Ilustrasi: Aquaticforum
Tidak ada komentar:
Posting Komentar