oleh Erlin Erlina Soraya (Catatan) pada 21 Oktober 2012 pukul 0:35
susah payah aku naik turun bukit berkabut
dari mendung siang hingga temaram senja memudar jingganya
aku pergi ke sebuah tempat
menaruh raga ketika lelah
aku berharap mendung tadi mengundang hujan
membawa pelangi, yang berjuntai seperti selendang penari
dan biar kularung pandanganku ke sana
pada ujung langit hingga bumi
malam ini, bulan sangat pemalu
dia selalu datang ketika malam menjelang
hanya pada gemintang dia banyak bercerita
tentang rindunya pada matahari
seringkali bulan sembunyikan sinarnya
yang keperakkan di balik awan
dia lebih suka hanya menitipkan pesan pada hujan
untuk mengikat rindu lewat tetesnya
waktu yang telah memisahkan aku dengannya
ke depan sana adalah rajutan misteri
yang tidak kumengerti
Kekasih
pasti Kau telah dengar gelisahku
kesudahan derita adalah keinginan
entah hanyut di lautan nyeri
hingga layar sabar mesti dikembangkan
demi lajunya perahu kebahagiaan
BNA Wanadadi 22/10/2012
dari mendung siang hingga temaram senja memudar jingganya
aku pergi ke sebuah tempat
menaruh raga ketika lelah
aku berharap mendung tadi mengundang hujan
membawa pelangi, yang berjuntai seperti selendang penari
dan biar kularung pandanganku ke sana
pada ujung langit hingga bumi
malam ini, bulan sangat pemalu
dia selalu datang ketika malam menjelang
hanya pada gemintang dia banyak bercerita
tentang rindunya pada matahari
seringkali bulan sembunyikan sinarnya
yang keperakkan di balik awan
dia lebih suka hanya menitipkan pesan pada hujan
untuk mengikat rindu lewat tetesnya
waktu yang telah memisahkan aku dengannya
ke depan sana adalah rajutan misteri
yang tidak kumengerti
Kekasih
pasti Kau telah dengar gelisahku
kesudahan derita adalah keinginan
entah hanyut di lautan nyeri
hingga layar sabar mesti dikembangkan
demi lajunya perahu kebahagiaan
BNA Wanadadi 22/10/2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar