oleh Erlin Erlina Soraya (Catatan) pada 26 September 2012 pukul 5:42
Kenangan yang terpatri dalam memori sudah melukai jiwa, yang memenjarakan dan menjerat kegetiran masa remajanya. Lina bagaikan burung yang terjebak getah yang sengaja dipasang pemburu di dahan-dahan. Gagal mengepakkan sayap adalah penyesalan yang tak pernah sudah. Iri memandang kebebasan kawannya terbang bebas di angkasa.
Sesungguhnya keharmonisan di keluarga yang saling menyayangi sudah cukup menghibur lara hatinya. Namun kepahitan dan keputusasaan sudah terlanjur menjeratnya. Jiwanya sepi, pandanganya selalu kosong, diam. Tanganya bergerak hanya pada saat membuka album foto, setiap hari dibongkar lalu dipasang lagi. Foto dari masa kecil hingga dewasa itu adalah satu-satunya hiburan.
Jiwa Lina yang dulu, sewaktu remaja adalah warna, indah bagai lengkung pelangi. Dia juga mawar merah yang merekah. Kini warna itu memudar, mawarpun mengering berguguran kelopaknya. Jatuh saat menghadapi hembusan angin. Lara yang dirasakannya bukan karena tidak ada yang memnyayanginya. Setiap malam Ibu selalu menemani tidurnya, juga saudara-saudaranya yang tak pernah lupa dengan acara TV kesukaannya, mereka selalu mengalah demi untuk kebahagiaan kakak sulungnya. Makanan kesukaannya pun selalu tersedia di meja kamarnya. Namun, tetap saja itu tak membuat hati dan jiwanya berseri, meski tak jarang, Lina berupaya menunjukan seolah-olah dia cukup bahagia.
Juga pada saat mantan kekasihnya datang menjenguk, hati Lina yang sudah terlanjur beku pun tak bereaksi, kecuali senyum yang dipaksakan. Ketika mantan kekasihnya memintanya untuk menjalin kembali hubungannya, yang sudah terputus sejak setahun lalu.
Inilah malam ke sekian yang Lina lalui, sendiri bersama dunianya. Tiba-tiba saja Lina teringat, kalau dulu pernah membaca sebuah buku cerita, tentang Nabi-nabi yang sangat disukaiya. Kemudian Lina bangkit keluar dari kamarnya, menuju rak buku ayahnya. Ketika Lina mencari buku yang diinginkannya, seketika pandanganya terhenti pada satu buku "Samudera Al-Fatihah", seperti terhipnotis, sehingga lina segera mengambilnya, dan ia baca di kamarnya. Dari kata pengantar sampai isi, ia urut membaca, tak terlewatkan selembar pun.
Semangatnya seketika hadir ketika terbaca olehnya, "siapa yang membaca Surah Al-Fatihah, setiap ayat yang dibaca itu, langsung di jawab oleh Allah".
Lina semakin penasaran sehingga dia meneruskan bacaanya:
Yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah r.a. Katanya: "Kami berada di belakang imam (bershalat), maka berkatalah Imam kepadaku: Bacalah Al-Fatihah dalam hatimu, karena aku telah mendengar Rasulullah s.a.w mengatakan: Telah berkata Allah Azza-wa Jalla: Aku bagi shalat (di sini maksudnya ialah Al-Fatihah) antara-Ku dan hamba-Ku menjadi dua bagian (maksudnya adalah seperdua lagi untuk hamba-Ku, dan lagi hamba-Ku apa yang mereka minta).
Apabila hamba-Ku itu berkata: "Alhamdulillahi Rabbil 'alamin", Allah menjawab: "Hamba-Ku memuji-Ku"; apabila hamba-Ku berkata: Arrahmannirahiim, Allah menjawab: "hamba-Ku menyanjung-Ku "; dan apabila hamba-Ku berkata: "Maaliki Yaumiddin", Allah menjawab: "Hamba-Ku memuliakan-Ku", dan apabila hamba-Ku berkata: "Iyyaka na' budu wa iyyaka nasta'iin", Allah menjawab: "Ini seperdua untuk-Ku dan seperdua untuk hamba-Ku, bagi hamba-Ku, apa yang ia minta; dan apabila hamba-Ku berkata: "Ihdinash shiraathal mustaqiim, shiraathal ladziina an'amta 'alaihim, ghairil maghduubi 'alaihim waladhaalliin", Allah menjawab: "Ini semuanya untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta".
"Subhanallah!" Jeritnya dalam hati, sehingga bola matanya mengaca, dan tanpa disadarinya bulir-bulir air matanya menetes, membasahi buku yang sedang di bacanya. Semakin deras air matanya ketika terbaca lagi olehnya, sebuah hadist yang diriwayatkan oleh al-Buzar dari Anas r.a. Rasulullah s.a.w berkata: "Bila engkau baca Al-Fatihah dan Qul Huwallahu Ahad, maka amanlah engkau dari segala sesuatu, kecuali maut".
Membaca semua itu, membuat Lina merasa begitu malu pada Allah, karena sejak fonis dokter ketika itu, Lina benar-benar terpuruk. Dia malu karena selama ini tak menyadari kalau Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Maha Penyembuh. Selagi seorang hamba gigih berupaya, menyempurnakan ikhtiar dan tak melalaikan do'a, tidaklah akan jadi sia-sia apa yang telah menimpanya.
"Ya Allah, ampuni Lina, terima kasih, engkau sudah menggerakkan hatiku untuk membacanya, dari sana Engkau menunjukkan padaku, kalau semua yang Engkau ciptakan, engkau kondisikan, yang bahkan itu karena kesalahanku, itu bukanlah hal yang sia-sia. Selalu ada hikmah di balik semua kejadian. Dan yang paling kusyukuri, aku meraskan kenikmatan yang lebih agung dari ketika aku terbangun di pagi hari, menikmati hangatnya mentari. Aku seperti terlahir kembali, setelah dalam gelap menemukan cahaya. Seluruh jiwaku merasakan keagungan-Mu, kini aku merasakan betapa Kau begitu baik, tak pernah meninggalkanku sekejap pun." Lina menghapus air matanya, setelan selesai berdo'a. Ia membuka-buka album foto di tumpukan terbawah di rak lemarinya, di situlah foto ibu dia temukan di antara banyak foto yang tersimpan. Ia sering melakukan itu hingga tertidur. Tapi kali ini berbeda, dia merasa sangat merindukan ibunya, padahal setiap hari ibu selalu menemaninya.
Antara sadar dan tidak, Lina ulurkan tangan, saat seperti ada usapan lembut di pipinya. " Sayang, Ibu mau berangkat ke Kuningan," sayup-sayup Lina dengar suara lembut membangunkannya ketika itu. Uluran tangan Lina disambut dengan pelukan oleh ibunya.
"Ibu sudah di jemput pa'likmu, untuk berangkat. Baik-baiklah di rumah, jangan lupa obatnya, ibu sudah siapkan di tempat biasa." Bergetar hati Lina mendengar bisik lembut ibu di telinganya.
Rasa hati Lina tak terkatakan lagi... Lina hanya tersenyum lalu menghujani ciuman di wajah ibunya, sebagai tanda sayangnya. "Maafkan... maafkan... maafakan Lina, Ibu, Lina selalu menyusahkan." Berulangkali Lina ucapkan itu dengan tidak menghentikan ciumannya.
Malam itu, Lina serasa mengulang kembali sejarah hidupnya, mengecup, menciumi ibunya, sesuka-hatinya. Meski sering Lina melakukan itu, tapi malam itu seolah hal baru. Rasa tak ingin lepas, tak ingin lepas. "Aku sangat menyayangimu Ibu, terlepas dari yang sudah terjadi padaku, sayangku pada ibu tak berubah sedikitpun. Lina tidak akan sedih lagi." Lina terus menenangkan ibunya dalam pelukannya, ketika dirasakan ibunya mulai terisak. Senyum yang paling manis ditunjukannya, sampai ibunya terlihat lega meninggalkannya di kamar.
Berlama-lama Lina pandangi foto Ibunya, bulir air mata menetes di pipi. Melihat guratan-guratan kecil di dahi dan bawah kantung mata Ibu, sudah banyak terukir di situ. "Oh Ibu... Aku tahu, engkau mencintaiku, tatkala engkau mengandung, melahirkan aku, hingga kini aku dewasa. Cintamu tak pernah berkurang, sekalipun aku telah membingungkan, mengacaukan, dan mencemaskanmu. Engkau selalu mencintai dan menyayangiku, ketika aku terbaring karna lemahnya tubuhku. Ibu... Aku menunggumu pulang, sudah kusiapkan senyuman, senyum kerinduan yang tak terbilang. Pulanglah dengan selamat Ibu, aku ingin cinta, rindu ini terus berulang."
BNA Wanadadi 25/09/2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar