Kamis, 11 April 2013
Serangkum Sajak : PARANGTRITIS NUN JAUH
YANG TERJADI, AKU SEDANG BAHAGIA
ketika yang terlukis menjelma jadi nyata
siang itu tak lagi terasa panjang
saat aku seperti terbang di permukaan
oi..., aku sungguh-sungguh telah terbang
PADAMU PANTAI
yang ketika itu gontai
namun aku tetap berjalan
karena aku harus sampai padamu pantai
biar sedikit aku teriak
: kucinta kau
DEMI LAUT, KUBELAH BUKIT KUSIBAK KABUT
masih di sana
tak pernah seindah ketika itu
membalah bukit
menyibak kabut
kulihat pesona laut
nun jauh
beribu suara kudengar
dari ketinggian
kau tempatkan aku
berisak, berurai air mata
kenapa aku harus tak percaya
Kau telah beri yang kupinta
DAN KAU
yang pernah menyelimutiku
hati, jiwaku...
hingga segala tentangku
adalah puisimu
juga senandungku
kini, yang segala itu
hanya rindu yang tertinggal
: mendengar sunyi
adalah kesukaan kita
duduk bersama, menunggu senja
duhai...
kapan kau
segera tiba?
ah, aku hanya tahu
setiap haru
setiap pilu
datang membawa pesanmu
: kau, tidak akan bersamaku
HAPIR HABIS
selalu lebih dalam
dari rindu yang lalu
namun secangkir coklat hangatku
enggan memberi tahu
: entah kau sama?
bahkan ia lebih suka mengerling
dan
: ini akan lama
namun
jangan biarkan rindu habis
meski hampir
Jogja 01 Januari 2013
Ilustrasi: EES
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar