Aku
harus mengerti ketika kau sudah tidak ingin bicara, berbagi keindahan
denganku. Dulu aku mengenalmu sebagai seorang teman, sepertiku, sebagai
penunggang sembrani yang pemberani, menembus awan, membelah langit
kelam.
Kau hanya bisikkan; Aku dan kau sama, sang penunggang semberani perkasa mengarungi awang-awang. Pantang takut, pantang gentar. Tantang tembus langit sekalipun hitam kelam mega penghalang. Tembus! lurus! hapus kegelapan jemput kecerah-ceriaan. Yang kelam hitam berubah cerah, gores garis pena koas warna warni. Berani!
Selalu kudengar, gemeresik sumber merdunya musik iring mengiring irama warna-warni sang pemberani penunggang sembrani, jejak langkah hingga dini hari, hingga fajar cerah. Senyum rekah indah teriring musik asik tak berisik, mengusik, bisik-bisik...gemeresik...menggelitik. Menerawang ke awang-awang terbang senang riang keawan putih-putih, dendang sang pawang keindahan, kebahagiaan.
Adalah pesan bagiku; meski mendung hari siang pun pagi tak usahlah bersedih terlalu duhai puteri tamansari, tapi tegak beranjaklah bersama tungganganmu sembrani, dalam gerak semarak melintas taman mega luas. Dekap erat asamu, pantang renggang, lekatkan dalam semangat selaras tekad. Terbang membelah angkasa, gugah, gubahlah puisi indah, seindahmu: Puisi! Seindahmu.
Dan seru bisikmu, pijak jejaklah langkah dakilah tebing meski kauanggap asing, melintas lereng hingga puncak tinggi tebarlah pandang lebar luas tanpa batas bisikkan suara lepas: duhai, wajahmu, betapa indah menggairah sukma; Aku merasakan kehangatan, ketika cerita sembrani sang gagah berani kaubisikkan.
BNA, Wanadadi 10 Juni 2013
Kau hanya bisikkan; Aku dan kau sama, sang penunggang semberani perkasa mengarungi awang-awang. Pantang takut, pantang gentar. Tantang tembus langit sekalipun hitam kelam mega penghalang. Tembus! lurus! hapus kegelapan jemput kecerah-ceriaan. Yang kelam hitam berubah cerah, gores garis pena koas warna warni. Berani!
Selalu kudengar, gemeresik sumber merdunya musik iring mengiring irama warna-warni sang pemberani penunggang sembrani, jejak langkah hingga dini hari, hingga fajar cerah. Senyum rekah indah teriring musik asik tak berisik, mengusik, bisik-bisik...gemeresik...menggelitik. Menerawang ke awang-awang terbang senang riang keawan putih-putih, dendang sang pawang keindahan, kebahagiaan.
Adalah pesan bagiku; meski mendung hari siang pun pagi tak usahlah bersedih terlalu duhai puteri tamansari, tapi tegak beranjaklah bersama tungganganmu sembrani, dalam gerak semarak melintas taman mega luas. Dekap erat asamu, pantang renggang, lekatkan dalam semangat selaras tekad. Terbang membelah angkasa, gugah, gubahlah puisi indah, seindahmu: Puisi! Seindahmu.
Dan seru bisikmu, pijak jejaklah langkah dakilah tebing meski kauanggap asing, melintas lereng hingga puncak tinggi tebarlah pandang lebar luas tanpa batas bisikkan suara lepas: duhai, wajahmu, betapa indah menggairah sukma; Aku merasakan kehangatan, ketika cerita sembrani sang gagah berani kaubisikkan.
BNA, Wanadadi 10 Juni 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar