BIARKAN AKU, MENGINGATNYA
oleh Erlin Erlina Soraya
Aku hanya senang mengenang masa kecilku, meski tak semua bergelimang
keindahan. Kesedihan, sebab luka yang mendalam juga kualami. Namun tetap
saja ada kerinduan untuk kembali kemasa itu.
Akan nampak
olehku, begitu kupejam mata, sawah, sungai, bukit kecil, dan bibir
jurang di belakang rumahku. Terngiang kembali, nyanyian-nyaian kecilku.
Sejuknya angin yang selalu kurasakan
setiap aku berada di ketinggiannya. Tersimpan berjuta kenangan kisah,
tak terlupakan, bahkan setelah kutinggalkan bertahun-tahu lalu.
Masih seagar diingatan. Juga ketika Ibu memanggilku, dengan panggilan
sayang. Tidak sekali pun ibu lupa untuk mendaratkan ciumannya di
keningku begitu aku mendekat menyambut panggilannya. Senyum ibu yang
selalu pesona... Ah, tidak mungkin aku melupakannya.
Ayah,
selalu dengan rela menyerahkan punggungnya untuk kunaiki, aku
melonjak-lonjak gembira ketika ayah meloncat-loncat seperti kuda. Ayah
bilang, aku adalah setangkai bunga yang indah, yang selalu mengundang
sayang bagi siapapun yang memandangnya. Indah sekali ayah melukiskannya.
Hatiku berbunga setiap kali mendengar tuturnya.
Lima
sekawanku, duh, ingat mereka... Perang pasir, lomba renang di sungai,
mandi lumpur, berlari berkejaran di pematang sawah. Gelak tawa yang tak
ada habisnya setiap hari, meski begitu pulang disambut cubitan ibu, tak
berkurang bahagiaku.
Kubuka kembali mataku, setelah terpejam
beberapa saat, malam sudah menjelang, merayap perlahan membawa kelam.
Aku hanya berharap pada sinar bulan ketika cakrawala kian melegam. Biar
kuteruskan mimpi hingga pagi datang. Dan esok mentari masih selalu setia
biaskan sinar. Kembali pada kenyataan sekarang.
BNA Wanadadi 16062013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar