IA BERNAMA BAHAGIA
oleh Erlin Erlina Soraya
Aku hanya berusaha untuk bangun, ketika penat kian lekat saja, aku bukan sudah tak kuat tak berdaya, tapi hanya butuh rehat sesaat. Aku cinta dengan duniaku yang sekarang... Juga hidupku, bagaimanapun yang Dia kondisikan, aku masih tetap mau hidup. Diam sejenak bukan berarti kalah, tapi menyusun strategi, siap-siap, dengan menghimpun bekal yang Dia siapkan.
Perjalanan ini memang tidak mudah, aku punya dua kaki... Tapi jika tidak sesekali berhenti, kakiku bisa sakit, bisa terluka, sedang perjalanan yang aku lalui bukan jalan yang mudah untuk dipijak. Ia penuh dengan kerikil tajam, naik turun tebing curam. Namun, inilah kenikmatan yang tiada tara, ketika aku bisa dengan rasa syukur menjalaninya.
Dulu, boleh aku berpikir, untuk apa hidupku, ketika seolah semua yang kutemu buntu. Sedih putus asa seringkali menghampiri, perih tak terperi. Bahkan aku hampir tak mengingat setiap nikmat yang Allah anugerahkan. Menyedihkan sekali, dan aku malu mengingat ini...
Bahagia itu ternyata bukan seperti yang terlihat, seperti saat aku melihat kawan, yang seolah begitu bahagia dengan hidupnya, hingga ingin aku sepertinya juga. Tapi tidak, ternyata cara Allah membuat hamba-Nya berbahagia itu berbeda-beda. Satu dengan yang lain tidak selalu sama penyebabnya.
Bahagia itu datangnya dari sini, juga ketenangan; Di kedalaman lubuk hati. Ketika sudah bisa dengan kesadaran, menerima kenyataan dengan ikhlas, tidak meratapi nasib, atau putus asa dengan yang telah Allah kondisikan.
Aku yakin, dengan begini, Allah akan menggantikan kepedihan dengan kesenangan, dan menjadikan kesedihan itu sebagai awal bahagia. Tanpa rasa takut, biarlah takut itu menjelma tenteram, menjelma berani!
Kau lihat duhai Allah, aku masih ingin bersama-Mu, di setiap luka, setiap bahagia. Yang telah lalu, yang tak membahagiakan, akan kulipat, kusimpan di ruang yang kuberi nama lupa, bantu aku menutupnya rapat-rapat. Aku tahu, rasa sedih tidak akan mengembalikan yang telah hilang, air mata, takkan bisa membuatnya kembali. Dulu, aku bisa dengan berlari mengejar impianku, dan jika sekarang hanya bisa dengan pelan berjalan tidak apa, bukan berarti aku tak bisa mengejarnya pula.
Aku hanya ingin diam sejenak, ketika aku seperti ilalang kecil; Kering dan butuh air hujan. Tapi aku masih sangat berdaya, sebab keringku, bukan sedang putus asa, meski hanya sekelebat saja.
Selagi kumasih bisa hirup udara, meski seringkali tak sempurna, terima kasihku pada-Mu ya Allah, atas semua karunia. Kau masih memberiku kesempatan memandang langit yang membentang, biru dengan sedikit awan putih-putih cantik.
Ketika aku nyaris berhenti bernapas di pendakian, Kau perlihatkan aku pada indahnya semesta-Mu. Lalu kesunyian, kedamaian malam-Mu, Kau biarkan aku menikmatinya juga. Dari balik rimbun belukar aku melihat tebar bintang, penampakan bulan penuh yang menggantung. Dari sana ijinkan kuikuti semesta, berzikir pada-MU.
BNA Wanadadi 180620
Ilustrasi: LUKISAN CAT AIR, Karya © 2012-2013 ErlinErlinaSoraya
oleh Erlin Erlina Soraya
Aku hanya berusaha untuk bangun, ketika penat kian lekat saja, aku bukan sudah tak kuat tak berdaya, tapi hanya butuh rehat sesaat. Aku cinta dengan duniaku yang sekarang... Juga hidupku, bagaimanapun yang Dia kondisikan, aku masih tetap mau hidup. Diam sejenak bukan berarti kalah, tapi menyusun strategi, siap-siap, dengan menghimpun bekal yang Dia siapkan.
Perjalanan ini memang tidak mudah, aku punya dua kaki... Tapi jika tidak sesekali berhenti, kakiku bisa sakit, bisa terluka, sedang perjalanan yang aku lalui bukan jalan yang mudah untuk dipijak. Ia penuh dengan kerikil tajam, naik turun tebing curam. Namun, inilah kenikmatan yang tiada tara, ketika aku bisa dengan rasa syukur menjalaninya.
Dulu, boleh aku berpikir, untuk apa hidupku, ketika seolah semua yang kutemu buntu. Sedih putus asa seringkali menghampiri, perih tak terperi. Bahkan aku hampir tak mengingat setiap nikmat yang Allah anugerahkan. Menyedihkan sekali, dan aku malu mengingat ini...
Bahagia itu ternyata bukan seperti yang terlihat, seperti saat aku melihat kawan, yang seolah begitu bahagia dengan hidupnya, hingga ingin aku sepertinya juga. Tapi tidak, ternyata cara Allah membuat hamba-Nya berbahagia itu berbeda-beda. Satu dengan yang lain tidak selalu sama penyebabnya.
Bahagia itu datangnya dari sini, juga ketenangan; Di kedalaman lubuk hati. Ketika sudah bisa dengan kesadaran, menerima kenyataan dengan ikhlas, tidak meratapi nasib, atau putus asa dengan yang telah Allah kondisikan.
Aku yakin, dengan begini, Allah akan menggantikan kepedihan dengan kesenangan, dan menjadikan kesedihan itu sebagai awal bahagia. Tanpa rasa takut, biarlah takut itu menjelma tenteram, menjelma berani!
Kau lihat duhai Allah, aku masih ingin bersama-Mu, di setiap luka, setiap bahagia. Yang telah lalu, yang tak membahagiakan, akan kulipat, kusimpan di ruang yang kuberi nama lupa, bantu aku menutupnya rapat-rapat. Aku tahu, rasa sedih tidak akan mengembalikan yang telah hilang, air mata, takkan bisa membuatnya kembali. Dulu, aku bisa dengan berlari mengejar impianku, dan jika sekarang hanya bisa dengan pelan berjalan tidak apa, bukan berarti aku tak bisa mengejarnya pula.
Aku hanya ingin diam sejenak, ketika aku seperti ilalang kecil; Kering dan butuh air hujan. Tapi aku masih sangat berdaya, sebab keringku, bukan sedang putus asa, meski hanya sekelebat saja.
Selagi kumasih bisa hirup udara, meski seringkali tak sempurna, terima kasihku pada-Mu ya Allah, atas semua karunia. Kau masih memberiku kesempatan memandang langit yang membentang, biru dengan sedikit awan putih-putih cantik.
Ketika aku nyaris berhenti bernapas di pendakian, Kau perlihatkan aku pada indahnya semesta-Mu. Lalu kesunyian, kedamaian malam-Mu, Kau biarkan aku menikmatinya juga. Dari balik rimbun belukar aku melihat tebar bintang, penampakan bulan penuh yang menggantung. Dari sana ijinkan kuikuti semesta, berzikir pada-MU.
BNA Wanadadi 180620
Ilustrasi: LUKISAN CAT AIR, Karya © 2012-2013 ErlinErlinaSoraya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar