KEMBALI, KAU DAN AKU
oleh Erlin Erlina Soraya
Kutangkupkan kedua tangan kewajah, kemudian tengadahkan, "aku akan
lihat wajah, yang lebih cantik dari bulan yang putih dan bundar itu..."
Senyummu cukup sebagai tanda setuju. Kalau kesedihan yang dirasakanmu bukan hanya milikmu, tapi juga aku. Bundamu.
Berdiri, disisi pintu, masih ada wangi mawar dari dalam kamar. Seperti
rindu yang memanggil-manggil. Kamar tempat bunda bacakan cerita, setiap
malam menjelang tidurmu. Kini telah sepi, hanya bersama malam yang
pekat, dan biasnya lilin kecil yang tak mampu membuyarkan lamunan.
Kau tak perlu bertanya lagi padaku, sambil memanggil awan di langit.
"Apa aku akan terus disini, hingga aku tertelan fajar menjelang? Bahkan
hingga tertidur di bawah langit menunggu malam. Menantimu, besama
kunang-kunang, kerlipnya bintang."
Kembali, kau, aku...
Tersenyum, menangis dan bahagia bersama... Berjalan melintas kerikil
tajam, tanah kering hingga berlumpur... Mendaki bukit terjal, menerjang
badai... Dengan kaki beralas sampai telanjang dan berdarah... Takkan
menyerah.
BNA Wanadadi 05082013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar