Senin, 05 Agustus 2013

KEMBALI, KAU DAN AKU

KEMBALI, KAU DAN AKU
oleh Erlin Erlina Soraya

Kutangkupkan kedua tangan kewajah, kemudian tengadahkan, "aku akan lihat wajah, yang lebih cantik dari bulan yang putih dan bundar itu..." Senyummu cukup sebagai tanda setuju. Kalau kesedihan yang dirasakanmu bukan hanya milikmu, tapi juga aku. Bundamu.

Berdiri, disisi pintu, masih ada wangi mawar dari dalam kamar. Seperti rindu yang memanggil-manggil. Kamar tempat bunda bacakan cerita, setiap malam menjelang tidurmu. Kini telah sepi, hanya bersama malam yang pekat, dan biasnya lilin kecil yang tak mampu membuyarkan lamunan.

Kau tak perlu bertanya lagi padaku, sambil memanggil awan di langit. "Apa aku akan terus disini, hingga aku tertelan fajar menjelang? Bahkan hingga tertidur di bawah langit menunggu malam. Menantimu, besama kunang-kunang, kerlipnya bintang."

Kembali, kau, aku... Tersenyum, menangis dan bahagia bersama... Berjalan melintas kerikil tajam, tanah kering hingga berlumpur... Mendaki bukit terjal, menerjang badai... Dengan kaki beralas sampai telanjang dan berdarah... Takkan menyerah.

BNA Wanadadi 05082013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar