Sabtu, 04 Oktober 2014

AKSARAKU...

1/ TEMANI LANGKAH KECILKU
oleh Erlin Erlina Soraya

Di sana, masih adakah ruang? Sepetak saja untukku...demi setatapan teduh-Mu, selengkung senyum-Mu. Biar kudatang, rasakan nikmat lapar, nikmat haus, nikmat sabar, dan kemenangan yang indah.

Hari kemarin biarlah jadi sebuah mimpi. Kau, bantulah aku melupakan, menjadikannya sebagai kenangan, dan sekarang, adalah keindahan yang Kau sempurnakan.

Aku hanya perlu berbenah, mengubur kisah laraku, di rengkuh-Mu, dalam dekap-Mu. Biar kusenandung lagu cinta, yang Kau suka, di tiap detak jantung denyut nadiku. Terus beriring bagai buih ombak berkejaran, di pantai.

Rinduku menyapa-Mu, Engkau tahu meski tak harus dengan teriak. Kusemat seuntai harap, di malam hingga pagi senyap. Kau, temanilah langkah kecilku, menuju fajar terang.

Telah Kau titipkan pesan pada burung-burung, pada awan, pada pohon-pohon, pada bukit-bukit, biar terang kudengar mereka lirih bertasbih, mengiring langkahku. Juga pada kesiurnya angin...kurasakan tiupan cinta-Mu.

BNA Wanadadi 30172013

2/ ADALAH KAU DAN AKU, KEKASIH
oleh Erlin Erlina Soraya

Ketika kuingat asa, setelah pada Dia...adalah kau. Ada yang mengecup ketika pagi, setelah Dia, itu pasti kau. Rindu yang menjejak, kidungnya menyapa Setelah Dia, itu juga kau

Hadirmu yang semilir, tak diam, namun kutemu keteduhan, di tiap lorong terlewat, kilat senja terlihat, pun lirih lagu rindu syahdu, membuatku merasa... Semakin cantik di hadapanmu.

Kekasih, di tiap rinduku, doa untukmu. Tiap helai kasih, kan kurajut menjadi lembar bahagia. Haru semakin biru, menjadi hiasan di pelataran, terhampar, permadani kemenangan

Bersamamu, belahan hati belahan jantungku, telah berpuluh tahun menyaksi... Jaman terus berlalu. Telah berjuta warna singgah, lalu kita bawa terbang, membelah tabir langit kelam.

BNA Wanadadi 27072013

3/ SEMANGKUK RASA
oleh Erlin Erlina Soraya

1/ tongkatku nyaris patah
lubang kecil itu
hentikan langkah

sejenak hatiku
terbungkus pilu
sebab sembilu
: jiwaku menertawaiku
malu

2/ rintih itu
sepanjang malam gelisah
mengingat kelak
bungkuk punggung
serupa busur panah
kemudian...
punah

tapi
ini belum sampai titik akhir
siapa tahu
sedetik kemudian?

3/ halangi pandanganku
dari makhluk-Mu
untuk sebuah sebab
cukup dengan segala kelembutan-Mu

4/ ijinkanku
menekuninya
hingga kutemu
hamparan rindu di taman
yang tersemai bunga-bunga
istana-istana megah
Kau bangunkan
kebahagiaan berselimut keindahan
: biar kusebut, sebutan yang Kau cinta, hingga Kau henti nafas yang kuhela

BNA Wanadadi 27062012

4/ DENGANMU LENTERAKU
oleh Erlin Erlina Soraya

Ketika aku dalam gulita, kau adalah lentera, yang mengantarku pada terang-Nya. Dalam gelap, kau lebih merasakan cinta-Nya.

Merindukan sinar bulan, cahaya matahari...itu aku. Kau bahkan telah menyimpan terang keduanya dalam hatimu.

Peta menuju-Nya pun sudah kausalin, kausimpan, kaubingkai indah di dinding hati. Juga nyanyi sunyi yang biasa kausuka, selalu ada di selanya. Iramanya tak pernah sirna, menemani setiap kaulantunkan yang Dia cinta.

Gerbang itu pasti terbuka untukmu, ketika istana-istana megah selesai dibangun-Nya. Bunga-bunga yang kausemai di halamannya akan tersenyum memesona. Ia abadi, dan takkan meremah lagi.

Kaubawalah aku di helai-helai waktumu, bersama menyapa kabut, mengajaknya berteman dengan embun, juga matahari yang tak pernah ingkar janji.

Dibalik gulita, kau bahkan banyak bercerita tentang warna, yang aku belum pernah melihatnya. Kau bilang, langit tak pernah pucat, bulan tak pernah meredup, bintang selalu kejora, dan matahari tak pernah kehilangan sinarnya.

BNA Wanadadi 29062013

5/ BU, AKU...
oleh Erlin Erlina Soraya

Bu...
di sela pun
tidak ada aku bu
jemput saja aku
pintunya rapat ibu
aku...mau pulang

Bu...
aku berjalan
lupa menghitung
jalan mana
harus kuhenti
: isakku tenggelam

Bu...
airku menguap
aku kehilangan
segantang cinta yang aku simpan
suara yang biasa kudengar
sudah enggan
aku kian letih ibu

Bu...
aku kehilangan rumah bulan
terbawa badai
ketika kulalai di siang mendung

Bu...
langitku gelap
mana lentera yang kemarin
aku ingin melihatnya
kenapa matanya jadi begitu dingin

Begitu dia ibu
ketika benci mencacah-cacah nurani
meremah hati
seketika kesah berlimpah
sejak bertahun kemarin

BNA Wanadadi 10062013

6/ AKU dan KAU PENUNGGANG SEMBRANI; BERANI!
oleh Erlin Erlina Soraya veat AKI

Aku harus mengerti ketika kau sudah tidak ingin bicara, berbagi keindahan denganku. Dulu aku mengenalmu sebagai seorang teman, sepertiku, sebagai penunggang sembrani, berani menembus awan, membelah langit kelam.

Kau hanya bisikkan; Aku dan kau sama, sang penunggang semberani perkasa mengarungi awang-awang. Pantang takut, pantang gentar. Tantang tembus langit sekalipun hitam kelam mega penghalang. Tembus! lurus! hapus kegelapan jemput kecerah-ceriaan. Yang kelam hitam berubah cerah, gores garis pena koas warna warni. Berani!

Selalu kudengar, gemeresik sumber merdunya musik iring mengiring irama warna-warni sang pemberani penunggang sembrani, jejak langkah hingga dini hari, hingga fajar cerah. Senyum rekah indah teriring musik asik tak berisik, mengusik, bisik-bisik...gemeresik...menggelitik. Menerawang ke awang-awang terbang senang riang keawan putih-putih, dendang sang pawang keindahan, kebahagiaan.

Adalah pesan bagiku; meski mendung hari siang pun pagi tak usahlah bersedih terlalu duhai puteri tamansari, tapi tegak beranjaklah bersama tungganganmu sembrani, dalam gerak semarak melintas taman mega luas. Dekap erat asamu, pantang renggang, lekatkan dalam semangat selaras tekad. Terbang membelah angkasa, gugah, gubahlah puisi indah, seindahmu: Puisi! Seindahmu.

Dan seru bisikmu, pijak jejaklah langkah dakilah tebing meski kauanggap asing, melintas lereng hingga puncak tinggi tebarlah pandang lebar luas tanpa batas bisikkan suara lepas: duhai, wajahmu, betapa indah menggairah sukma; Aku merasakan kehangatan, ketika cerita sembrani sang gagah berani kaubisikkan.

BNA, 2013

7/ Sebab Cinta Terlanjur Singgah
oleh Erlin Erlina Soraya

Pada malam, kubaringkan rasa, ia terburai tadi, tentang rintih, yang mengalir di sekujur tubuhku, aku tak sanggup menjadikannya sebuah cerita. Di kelopak tak lagi ada tetes bening menggenang, apa lagi hingga tumpah, bahkan bola mataku pun sudah tak lagi mengaca.

Ini bukan yang serupa biasa, hingga membuatku ingin berlari saja, sebelum ujung waktu memanggil namaku. Kau tahu, demi cinta kutelusur bukit kecil berselimut kabut, ketika temaram senja memudar beganti kelam, tak perduli bias semakin jauh meninggalkan, namun cinta tak pernah menghilang.

Riuh di dadaku, juga bukan biasa... Kenapa jadi begitu lara? Mungkin sebab cinta terlanjur singgah, hingga teriak jiwaku tak terdengar lagi, aku hanya takut bulir doa menjadi sia-sia.

Lembar demi lembar, kubuka perjalanan yang telah sudah; Kusut masai. Ah, kembaraku seperti melangkah di kerikil tajam, terikat di relung batu karang. Aku ingin berputar arah, namun angin di depan sana lebih badai.

Kekasih, biarkan aku meniti jembatan panjang itu, pinjami aku pelita, pelita yang kupunya sudah meredup, nyaris mati. Aku tahu, di ujung sana masih ada permadani yang terhampar, setelah jembatan...

BNA Wanadadi 31052013

8/ Serangkum Sajak: RINDU
oleh Erlin Erlina Soraya

1/ TENTANGMU

Di luar sana
masih hujan
sepi
kurasakan entah apakah sama
seperti juga ceritamu kemarin?
aku ingin membuka jendela kamar
melihat tetes embun
apakah juga sama,
setiap tetesnya adalah rindu?
: kelebat pikiranku mengingat tentangmu

/2/ TAK SEPERTI KAU

Aku tak pernah lihat
senyum lebar seperti saat kau melihat laut
membahagiakan
sehingga ciricit camar pun
tak mengalahkan ceriamu

Bahkan riak gelombang
tak mampu melebihi riuh bahagia di dadamu...

/3/ RINDU

Bahagia
melihat senyum yang dulu...
kau, masih seperti yang aku tahu
setelah semua terjadi
harapan
sebelumnya tenggelam
seperti batu kecemplung
di kedalaman lubuk
: mengapung

/4/ SETIA

Bilakah kau datang?
sudah sekian masa
adamu sirna
dan kau
bagian kekosonganku

Ada yang menekan batin
demikian dalam
kau dan aku
ingin bertahan
mengabadikan cahaya bintang
hingga sampai di ujung persuaan

Apa kau tak pernah lagi merasa?
aku masih selalu
setia

/5/ KAU JUGA RINDU

Aku hanya sedang hela napas
sebentar menghilangkan lelah
bukan aku sudah berhenti...
lelah
hanya singgah

Ketika kumulai melukis rindu
melukis sayang
ingin kumuarakan keduanya
di tempat yang paling nyaman
: ada banyak yang kuingat

Tiba-tiba saja
helai demi helai rindu hadir
di tiap gores yang kusapukan
dengan koasku...
kau, kembali mendampingiku
dengan senyum yang entah
atau seperti pesona
yang biasa kunikmati
juga lekatnya tatapanmu
aku tahu
kau...

BNA Wanadadi 26052013

9/ DUHAI KAU
oleh Erlin Erlina Soraya

Doa-doamu, serupa anak panah meluncur dari busur, tak luput dari pengawasan-Nya. Bagai lesatan cahaya bintang di langit, tak lepas dari penglihatan-Nya. Bagai gemericik air hujan yang selalu diturunkan-Nya.

Kau, selalu menyadari ketika dosa-dosa telah tertampung dalam tabung penghalang, nur-Nya. Kau tahu saat harus bersegera kembali pada petunjuk-Nya, ke mana jerit permohonan, meminta pengampunan.

Ketika ketidakberdayaan melandamu, mengamuk bagai gelombang lautan, bagai angin, membadai... Hanya pada-Nya kau mengaku tak berdaya. Betapa kau tak meragukan kemampuan-Nya, kemahakayaan-Nya. Kau tak pernah hentikan lidahmu untuk melafadzkan asma-Nya.

Kau tak pernah takut, pintu-pintu yang kauketuk akan terus tertutup, karena kau yakin, pintu-pintu itu milik-Nya. Betapapun jauh perjalanan yang kautempuh, demi pintu-pintu itu, tak pernah mengeluh. Meski begitu peluh, tak henti mencari tali-tali-Nya.

BNA wanadadi 06052013

KOK, JADI GINI...

10/ Namaku Tari
Terpaksa pensiun jadi istri
Suami nikah lagi
Anakku Lani
Cita-cita sekolah tinggi
Terpaksa aku pergi
Keluar negeri

-------------------------------

2/ Tahun 2003
Suami tak kerja lagi
Aku pamit
Ke luar negeri
Perbaiki ekonomi
Uang kukirim suami

Tahun 2005
kuperpanjang
Kata suami
Belum cukup modal
Usaha lagi

Sampai tahun 2007
Suami kabari
Rumah perlu diperbaiki
Terpaksa lagi...

Setelah tahun 2009
Anakku mau masuk sekolah tinggi
meski lelah
kuperpanjang 5 tahun lagi

Aku sudah tidak tahan lagi
Aku pulang
Tak ngabari
Sampai rumah...
Suami sudah kawin lagi

-----------------------------------------

3/ Mbah, memanggilku Marni
Kemarin cerita
Emak pergi
Ke luar negeri
Sudah lama tak kabar kabari

Suatu hari
Ada paket besar dikirim untuk kami
Ternyata peti mati

BNA, 05102014

11/ ROSE (I)
oleh Erlin Erlina Soraya

Kudengar tentang kejadian, menimpamu...pelan, memukul-mukul dada. Sebab kau terperangkap dalam lorong sempit yang dijejali kerikil tajam, batu-batu terjal. Berkali kuhela napas, merasakanmu sesak di dalam sana.

Kau... Harus dengan sebesar mungkin upaya dan tekad, keluar, menerjang segala yang menjejal.

Dengar, Rose... Teriakanmu takkan terdengar, hanya serak menyakitkan, maka diam dan berjalanlah. Jangan sebab telah kautoreh ikrar, yang bertahun tersemat dalam hatimu, lalu kaubiarkan ia penuh luka.

membahagiaka, melihat kau serupa kupu kecil, mengembangkan sayap, merentang cahaya.

Dan, cobalah ingat lagi, tentang pelangi tempat kau senandungkan lagu, di bawah lengkungnya, merengkuh hangat cinta yang Dia tawarkan.

BNA, 26092014

12/ ROSE (II)
oleh Erlin Erlina Soraya

Kau tahu, jalanan diluar sana penuh, duri... Ada banyak menanti di setiap sudut. Aku yakin, yang terburuk bisa jadi menghadangmu, mungkin hanya dengan mukjizat, bisa sampai ke ujung sana.

Kau tataplah juga gumpalan asap di hadapanmu, tak cukup hanya dengan mengibaskan telapakmu ia sirna. Juga dengan muram wajahmu...
: Cukup senyummu saja.

Sepenggal lagi, kau tahu Rose... Sepengal lagi, hidup yang hendak kaujalani. Jangan sampai tertahan, biarkan sebagian dari dirinya masih tetap hidup dalam dirimu, menumbuhkan asa yang nyaris terkubur. Tidak apa, jika itu menjadi satu-satunya yang masih tersisa, dari kehidupanmu yang telah sudah.

BNA 29092014

13/ ROSE (III)
oleh Erlin Erlina Soraya

Bahkan kau tak lagi mengenali dirimu. Tak seorangpun kauijinkan memecah sepi, apa yang menyelimutimu hingga mengutuki diri, mengutuki gelap lalu menolak pelita-Nya?

Apa kau tak lagi sanggup menyelam Rose, hingga kedalaman yang biasa? Kau tahu lautan nikmat itu memang dalam, tidak mungkin tanpa cahaya bisa sampai ke sana, meski bisa, pun kau takkan melihat keindahan, menikmati setiap pesona milik-Nya, takkan bisa.

Kau juga sama, seperti setiap yang bernapas, berhak menikmati keindahan. Jangan lagi membisu di sudut gelap, bangunlah. Pasti kau tak lupa, setiap karunia-Nya adalah sapaan lembut-Nya.

Menangislah, jika ingin menangis, kaupejamkan matamu, biarkan bening air mata mengalir, dan semoga ketika mata terbuka, akan lihat cahaya sempurna karunia-Nya.

BNA 25042014

14/ Seketika Tentang Aku dan Cehko (I)
oleh Erlin Erlina Soraya

Bahkan ini adalah hariku, sembarani yang membawa Cehiko dua tahun lalu tak juga kembali menjemputku. Di mana pun sekarang, kuhanya berharap, dia berada di tempat terbaik yang dipilih Tuhan.

"Dikhayangan... Aku akan pergi ke sana, memenuhi panggilan mulia-Nya..." Begitu yang dia bisikkan terakhir dulu padaku.

Meski rela, berat melepasnya pergi, tanpa mengajakku. Lambaian tangannya yang tak sempat kulihat, membuat luka semakin nganga. Hari yang kutunggu setelah dua tahun... Menyisa rindu.

Aku masih ingat bagaimana dia merengkuhku. Jembatan itu memang rapuh, bahkan ia bergoncang saat seorang saja berjalan di atasnya. Namun cintanya, membuat ketakutanku sirna.

Dan kau, tidak akan membuatku melupakannya. Biar, terus kusenandungkan lagu, seperti permintaanya, kisah kehidupan seperti yang kuingat tentangnya. Kembali percaya pada kekuatan cinta, kekuatan mimpi-mimpiku dan mimpinya untukku.

BNA, 08062014

15/ Seketika Tentang Aku dan Cehiko (II)
oleh Erlin Erlina Soraya

Menyesal, kenapa tak kudengar bisiknya ketika mengajakku, ke pengembaraan di sepanjang mendung, menghabiskan masa senjanya? Kubiarkan tubuhnya separuh membeku, ketika hujan menitipkan dinginnya pada siang.

Sepi kurasakan kian menekan, mendesak hingga sesak. Dia selalu datang serupa bayang, menghilang. Dan hujan yang langit tumpahkan terasa sayatnya, namun tak kupedulikan, bahkan ingin terus tengadah di bawahnya, kupejam mata, hingga hujan Dia usaikan.

Terbayang, Cehiko berada di atas punggung kuda putih, serupa awan, bediri segagah dia hadapanku. Memenuhi janji, pergi ketempat impian.

BNA, 8 Juni 2014

16/ TANPA-MU?
oleh Erlin Erlina Soraya

Mencintaimu Itu saja
Cukup sudah cerita itu bagiku
Kau Hadir di saat tersengalnya napasku
Beratnya perjalananku
Tebing terjal berliku kulalui
Entah jika tanpa-Mu

17/ Andai Bisa Kuminta
oleh Erlin Erlina Soraya

Seperti di dunia lain
Begitu mengingat membacamu...
Tentang kau
dan aku
Andai bisa kuminta
kau...
Jangan pergi

BNA, 9062013

18/ TETAPLAH BERSAMAKU
oleh Erlin Erlina Soraya

Bu, jangan tinggalkan aku di sini, berdiam dengan kesedihan dan kesendirian. Ajak aku seperti dulu, menunggu bulan muncul di balik sudut telaga. Aku rindu semilirnya angin, riuh nyanyi daun.

Rindu tegak liuknya pohon, bagai pesona tarian. Aku ingin lihat lagi Ibu, saat malam larut, bulan bergerak turun, lalu telaga dimandikan oleh cahayanya. Kunang-kunang perlahan mengitari tempat kita duduk bersama.

Di bawah pohon kenari, biasa kita memandang tenang air, berkilau keperakan. Bercerita tentang cinta...

Temani aku Ibu, ceritakan kembali tentang hening malam, yang Dia muliakan. Tentang kisah kearifan, dan kisah-kisah kebesaran-Nya. Lalu isyaratkan padaku, bisikkan pada jiwaku, cerita-cerita indah, biar kelak kujadikan bekal untuk kepulanganku.

BNA Wanadadi 02092013

19/ TENTANG BUNDA
oleh Erlin Erlina Soraya

Kelembutannya
tak pernah gagal menjelma cinta
tentang semilir angin
tak pernah memudarkan rasa
tentang asa
sebelum kelam mengganti petang
tentang puisi
yang selalu kutulis
di malam sepi.

Adalah cerita tentang bunda
setiap ceritanya
selalu serupa samudera lepas
tak kuasa kulihat tepinya
serupa lengkung langit
entah di mana sudutnya

BNA, 18122013

20/ BISAKAH?
oleh Erlin Erlina Soraya

Aku hanya ingin Kau, membawaku ketempat ketika dulu bisa perlahan berjalan menyusurinya. Tengadahkan wajah, hingga bisa kurasakan Kau sunggingkan, sekulum senyum pesona.

Biarkan khayalku mengapung, kembali menelusuri jalan-Mu, biar, kuingat Kau, ada di mana-mana. Kupejam mata, seolah di sungai, duduk di atas batu besar, merasakan kibasan angin.
: menentramkan

Jejak pijakku, sudah ribuan jejak, pun hujan tak sanggup menyapunya... Selama jiwa masih bisa berbisik, aku akan terus mendatangi-Mu.
: Ini masih belum selesai.

Tak ada, selain ingin kudengar bisik-Mu di pekat malam... Seakan kudengar Kau menjawab.
: Selamanya kau, akan bersama-Ku.

BNA Wanadadi 29082013

21/ MESKI MASIH SEANDAINYA BAGIKU
oleh Erlin Erlina Soraya

Lelah telah hinggap, ragaku berada di antara serpih perih. Petualangku sejauh pergimu, pernahkah kau tahu? Letihku disergap sunyi, tak sesekali, namun setiap singgah, setiap menepi, ia masih selalu menyusup di tiap celahnya dinding hati.

Aura adamu masih kulihat, di antara lesat bintang semalam, sejak bulan putih dua enam kautinggalkan. Seperti sudut cakrawala, aku masih mengingatmu. Harum senyummu yang tertinggal masih tercium...menyimpan asa.

Perlahan kuhirup napas, membebaskannya dari terasing serupa fana. Kupu-kupu yang kemarin melandaku pergi, sirnakan senyum, bersama hening. Selamanya.

Aku mengering, tanpa sejuknya embun di pucuk kuntum. Menantimu kembali. Kucoba bertahan, biarkan mata menyentuh cahaya, menyibak pekat, meluntur dalam kilau kuning keemasan.

Kulihat masih terbias terang, dan kelopakku sudah tak lagi takut berkedip, menumpahkan yang telah lama menggenang. Meski nun jauh, bahkan mendaki...akan aku tempuh. Kupeluk tebingnya dengan hatiku, kudengarkan ceritanya tentang gerimis hingga hujan, tentang sepoi angin hingga badai, juga tentang tetes-tetes harapan yang dibawa embun pagi.

Kau, yang di relung terdalamku, karena Kau, aku akan menemukannya. Adalah persuaan yang Kau janjikan, meski masih dalam seandainya bagiku, namun bayang itu telah menari-nari di pelupukku...dan tentang pelangi setelah badai, aku masih percaya itu...

22/ MENEMBUS TEMARAM
oleh Erlin Erlina Soraya

Gerimis ini sudah tak lagi sama, ia membuat embun jatuh... "Raih tanganku, bawa aku pergi. Kaulihat, langit semakin pias, hampa, terluka."

Di mana bulan sembunyi, cahayanya akan aku jadikan lagu, menjadi irama yang mendendangkan harapan. Di senyap malam, bintang-bintang merintih, berbisik padaku, betepa sepinya kehilangan.

Duhai Kau, Pemilik bulan, aku hanya ingin tempuh jalan cinta, walau beribu kali kuterluka. Tolong, Kauterangilah, biarkan aku dengan cahaya-Mu, masuk ke dalam-Mu, jangan biarkan aku sendiri, perih, merasai hati.

Aku hanya ingin menundukkan jiwa, tenggelam bersama hening. Menyemayamkan rindu, takkan aku terlempar pada bayang hampa yang telah sudah. Melaju, menembus temaram melipat waktu.

Kutabur bunga, biar menebar wangi di taman-Mu. Menikmati canda angin dengan daun, yang sesekali membelai wajahhku. Dan kubisik pada malam : Aku menyukai kelamnya, heningnya, sebab Kau, ada.

BNA Wanadadi 14082013

23/ BIARKAN AKU DENGAN-MU
oleh Erlin Erlina Soraya

Menyebut-Mu duhai, Jangan pernah meninggalkan aku dalam perih. Berkali kulepas pinta, dari tetes air mata, hingga serupa derasnya hujan... Selama kumasih hela napas, tak kuhenti, kulepas. Kau, penuhilah relung hatiku, dengan-MU.

Cintaku takkan pernah selesai...adalah Kau. Jangan butakan aku sebab rasa, ingatkan aku pada suatu masa yang aku akan menjalaninya. Jadikan air mataku air mata rindu, di tiap terik siang, gigilnya malam.

Di hening pelataran-Mu...takkan kupergi, dari gelap hingga langit pias. Biarkan semesta membisik padaku, tentang-Mu. Khusuk menyelusup sejuk ke relung terdalam, mengalir seiring denyut nadi detak jantungku.

Meski hari terus berganti, aku akan terus berdiri...simpuh, di hadapan-Mu. Seperti semesta yang tak pernah istirah, menyebut nama-Mu, bertasbih pada-Mu.

Kirimkan padaku wangi kasturi-Mu, Kekasih... Di hampar sajadah yang tak henti memanjang, hingga saatku tiba. Biarkan kunikmati semilir sejuk jatuh di pucuk sunyi. Juga indah kristal embun di saat pagi.

BNA Wanadadi 13082013

24/ MARIAH, MARIANA
oleh Erlin Erlina Soraya

Di kampung panggilanku Mariah
usia lima belas tahun
setelah di kota
suami mengenalkanku sebagai
Mariana...
setiap hari wajib dandan
biar tambah cantik
secantik nama baruku katanya
baju-baju yang mak beli dibungnya
rok mini kaos ketat penggantinya
biar nggak kampungan
katanya lagi

Suatu malam
ada dering panggilan
di ponsel suamiku
samar kudengar
jemput ya
sudah siap kok

Setengah jam kemudian
aku sedang duduk di teras
jip hitam berhenti persis dihadapanku
keluar dua laki-laki serupa serigala
mereka sangar memandangiku
dari ujung kaki hingga rambut

Suamiku keluar
lalu bertanya pada dua lelaki serupa serigala itu
bagaimana?
cantik, kan...

: dan... tawa seringai mereka

BNA, 06092014

25/ AH, YAN...
oleh Erln Erlina Soraya

Aku hanya suka melihatmu tersenyum Yan... Dari pagi hingga senja menjelang, kau...tak lagi seperti di ceritamu kemarin. Setiap yang menghempas bukan alasan untuk patah.

Ada bagian yang menguatkan... Bahkan tak menyadari, sudah sejak lama kaumiliki. Tak mudah dikendalikan apapun, kecuali oleh sang Pemilik waktu.

Ah, Yan.. apa kau ingat, saat mengajakku melihat satu-satunya bintang yang bertahta di alam raya? Ia semakin nampak jelas, sebab gulita langit tempatnya menggantung.

Bukan rambut panjangmu yang kausibakkan, sebab hijab itu sudah cukup menampakkanmu sebagai perawan putih. Dan secerah sinar tadi, masih sama terangnya, bahkan kian terang, laksana intan berkilau.

Kau bisa lihat Yan, bagaimana bintang menyaksikanmu malam ini.

BNA, 15082014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar