Senin, 20 Oktober 2014

MINGGAT


oleh Erlin Erlina Soraya

Ini awal musim hujan, jadi teringat peristiwa saat kecil..
Menjelang maghrib pergi tanpa pamit, ketakutan, tak sengaja tangaku mendaratkan rantang yang kupakai sebagai gayung ke kepala adek. Seperti biasa, rebutan tengadah dibawah talang rumah saat hujan. Maklum, selisih usia kami hanya 2 tahun, aku 8, adekku 6 tahun, apa-apa masih suka rebutan.

Menjauh, sejauh jauhnya, adalah pkirannku, yakin pasti Mak marah jika jeritan adek sampai terdengar olehnya.

Suasana semakin lama semakin gelap, apalagi kanan kiri jalan masih hutan dan persawahan... Rumah Mbah adalah satu-satunya tujuanku. Tubuh basah kuyup, bertelenjang kaki. Tak peduli hujan petir menyambar, aku terus berlari menembus lebatnya hujan.

Ketakutanku akan gelap seketika sirna, melihat ada nenek renta berjalan didepan, tanpa pikir panjang, aku mengejar dan berjalan disampingnya.

"Mbah,, mau kemana?" Si Mbah hanya menoleh dan sedikit tersenyum.
"Bareng ya mbah, aku takut sendirian." Lagi-lagi si Mbah hanya menoleh dan sedikit tersenyum.
Suasana jalan sungguh semakin gelap, pandanganku hampir tak jelas, lampu jalanan tidak ada. Tapi perasaan masih cukup tenang, sebab ada Si Mbah, di sampingku.

Hampir sampai ke 'Talang Ireng.' Tempat yang dikenal angker oleh semua orang di kampung, aku berniat berpegangan lengan Si Mbah, untuk mengurangi rasa takut.

Aakkk...! seketika jantungku seperti loncat keluar dari tempatnya, begitu menoleh, dia sudah nggak ada. Ke mana Si mbah? Sejak kapan dia tak ada di sampingku...?

Tubuhku gemetar, jantung berubah jadi godam yang memalu-malu, menambah suasana disekitarku semakin gelap, bahkan suara binatang malampun tak terdengar, entah sebab lebatnya hujan, atau sebab hebatnya ketakutanku.

Aku berlari, berlari dan berlari, mulut terus komat-kamit, meski cuma ucapan bismilah, bismilah, bismilah, tak henti ucap doa itu sepanjang jalan. Belum lagi reda gemuruh di dada, begitu samapai jalan pekuburan, kelebat kilat menyambar, petir menggelegar, serasa persis di atas kepala. Kondisi itu menambah kecepatan lariku. Sampai di rumah mbah, pintu kutabrak.

"Astaghfirullah nduukkk...! Sama siapa?" Terkejut mbah melihat kondisiku yang sendirian dan tidak karuan. Pecahlah tangisku yang sejak dalam perjalann tertahan, dalam pelukannya.

Sambil mengeringkan tubuhku, mbah tak henti-hentinya bertanya, tapi tak satupun pertanyaannya yang kujawab, mulut terasa kelu, tak bisa berkata-kata. Sampai akhirnya mbah menyerah, lalu membawaku ketempat tidur, menghangatkanku dengan selimut dan pelukannya.

Keesokan harinya, aku melihat bapak tiduran disampingku, entah kapan datang. Begitu melihat aku terbangun, bapak tersenyum.

"Nduk... Kenapa pergi tak bilang-bilang? Semua orang mencarimu, mak nagis terus tuh... Apa kamu tidak takut gelap di jalan, hmmm..."

"Emmm, adek masih nangis nggak pak?"

Mendengar pertanyaanku, bapak hanya tersenyum dan memelukku.

"Bapak lega, ternyata kamu berada di tempat embah, jangan diulang ya, nanti sampai rumah minta maaf sama adek, juga emak."

Aku hanya menganggukan kepala, dan meminta bapak segera membawaku pulang.

BNA 21102014



Tidak ada komentar:

Posting Komentar