Semangkuk bubur itu kubuat dengan penuh kegembiraan, berharap lahap kau santap. lalu percakapan kita akan terus mengalir, tentang bahagia.
Semalaman aku habiskan waktu tidurku hanya untuk memikirkan, bagaimana aku bisa mengembalikan senyum yang telah sekian lama sirna. Entah yang merenggutnya?
Sayang, selain senyum yang biasa, aku rindu suara sengau saat
kaulantunkan ayat-ayat-Nya. Lantas kau genggam tanganku penuh kasih,
ketika lidahku salah menirukan bacaanmu. Sedih ketika suara itu harus
terganti dengan suara dari pemutar pita kaset.
BNA, 01122014
BNA, 01122014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar