oleh PYMK veat EES
Aku cuma berhenti mengeja malam
Membasahi embun di telunjukku
Tuk lukiskan wajahmu
Kulihat letih
Di teduh matamu
Menyapa burung malam
Lalu mencoba berdialog dengan mimpi
Di tengah rindu
Terajut doa
Untukmu
Lalu
Mimpiku juga malamku
Tersudut di ujung subuh
Menanti senyum
Di kabar kesunyian
Malam telah mengasingkan diri
Tanpa cerita tentangmu
Membiarkan senyap
Menyapa
Iyaa...
Bukankah sepi adalah nyanyi indah...
Eh, aku temui kau menanam rindu disepi-sepimu..
Lantas, akan kaubawa kemana asaku?
Adakah masih tersimpan dikedalaman jiwamu?
Bagai ibu merawat anaknya
Kau telah nyanyikan sepi rindumu
Dalam bayangnya mulai menghilang...
Biarlah...
Nyanyi-nyanyi itu hadir tanpa suara
Berhenti pada kecemburuan
Mengajaknya berpesta di lukaluka
Kau tak sempat membalutnya?
Iya, hingga separuh jiwaku pergi
Bersama serpih kenangan
Dan...
Darah sunyi itu masih segar dalam rongga hausku. Cukupkah satu nisan untuk nyawa rindu yang telah tawar....
Riau, BNA, 28112014
Photo by EES
Lalu mencoba berdialog dengan mimpi
Di tengah rindu
Terajut doa
Untukmu
Lalu
Mimpiku juga malamku
Tersudut di ujung subuh
Menanti senyum
Di kabar kesunyian
Malam telah mengasingkan diri
Tanpa cerita tentangmu
Membiarkan senyap
Menyapa
Iyaa...
Bukankah sepi adalah nyanyi indah...
Eh, aku temui kau menanam rindu disepi-sepimu..
Lantas, akan kaubawa kemana asaku?
Adakah masih tersimpan dikedalaman jiwamu?
Bagai ibu merawat anaknya
Kau telah nyanyikan sepi rindumu
Dalam bayangnya mulai menghilang...
Biarlah...
Nyanyi-nyanyi itu hadir tanpa suara
Berhenti pada kecemburuan
Mengajaknya berpesta di lukaluka
Kau tak sempat membalutnya?
Iya, hingga separuh jiwaku pergi
Bersama serpih kenangan
Dan...
Darah sunyi itu masih segar dalam rongga hausku. Cukupkah satu nisan untuk nyawa rindu yang telah tawar....
Riau, BNA, 28112014
Photo by EES
Tidak ada komentar:
Posting Komentar