Rabu, 20 Maret 2013

LAYAR TANCAP



LAYAR TANCAP
oleh Erlin Erlina Soraya pada 15 Agustus 2012 pukul 5:32 ·

Ketika itu umurku kurang lebih lima tahun, siang kudengar akan ada pertunjukan layar tancap di lapangan nanti malam, dengan suka cita kukabarkan pada ibu dan mengajaknya nonton, namun alasan adek-adek tak ada yang jaga ibu tak menolak ajakanku.

Semua berduyun-duyun pergi ke lapangan, dari anak anak, remaja, orang tua, bahkan ada ibu-ibu yang rela membawa bayinya, maklum tontonan semacam itu tergolong langka di tempat kami.

Sekilas ibu memandangku iba, lalu katanya "pingin nonton sayang?, mau ya ibu titipkan sama mba' Suprih dan Mba' Mar...?" agak ragu namun kuanggukan juga kepalaku tanda setuju.

Mba' Suprih dan Mba' Mar mengangguk patuh saat ibu meminta mereka menjagaku, lalu mereka menggandeng tanganku, namun begitu jarak rumah dan kami jauh, mereka melepas gandengan tangannya, agak terkejut tapi aku hanya bisa diam dan berusaha mengikuti langkah mereka yang tergesa. "tunggu aku, jangan cepat-cepat..." namun mereka tak hiraukan permohonanku. Bahkan tak hanya itu, aku kehilangan mereka di lapangan itu, entah sengaja atau tidak mereka meninggalkanku.

Aku tak berhasil menemukan mereka, tapi film "Diana" sudah di putar, dan aku mulai melupakan kalau aku sendirian berada di kerumunan orang-orang yang tidak kukenal, perasaan takut, was-was makin lama makin menghilang, karena lebih asik dengan cerita film itu, dari pada memikirka mereka yang sudah meninggalkanku.

Sampai Layar tancap di gulung aku tak temukan juga mereka, akhirnya aku pulang sendiri, jalanan sepi, gelap, listrik belum masuk ke desa kami ketika itu,dan jalan terlihat karena kebetulan masih ada sinar bulan, dan aku merasa senang bulan seolah terus menemani sepanjang perjalanan pulangku, sehingga melenyapkan ketakutanku.

Begitu sampai di tikungan jalan setapak ke rumah tiba-tiba kudengar samar orang tertawa tertahan (cekikikan) di balik rimbun pohon, aku sangat mengenal suara itu, akhirnya aku faham kalau mereka, Mba' Suprih dan Mba' Mar, tidak pernah menyukaiku, karena segan saja pada ibu sehingga mereka tak berani menolak saat ibu meminta mereka menjagaku.

Aku tak perdulikan suara itu , kuteruskan saja perjalananku, hanya bersama bulan teman setiaku, namun begitu sampai di halaman sekolah SD aku ingat kalau di salah satu kelas ada tengkorak yang terpajang, tak urung lari juga akhirya, karena takut tak lagi bisa kutahan, aku lari secepat kubisa, sampai rumah kuterjang saja pintu yang tidak terkunci itu, sampai terjungkal jatuh. Ibu terkejut melihatku pulang sendiri, lalu kata ibu... "Astaghfirullah... kenapa kau tinggalkan mbak Suprih dan Mba' Mar sayang, kasihan... mereka pasti kebingungan mencarimu" aku hanya bisa tersenyum kecut, lalu kutinggalkan ibu menuju kamarku.

BNA, Wanadadi 15/08/2012


Tidak ada komentar:

Posting Komentar