LAYAR TANCAP
Ketika
itu umurku kurang lebih lima tahun, siang kudengar akan ada pertunjukan layar
tancap di lapangan nanti malam, dengan suka cita kukabarkan pada ibu dan
mengajaknya nonton, namun alasan adek-adek tak ada yang jaga
ibu tak menolak ajakanku.
Semua
berduyun-duyun pergi ke lapangan, dari anak anak, remaja, orang tua, bahkan ada
ibu-ibu yang rela membawa bayinya, maklum tontonan semacam itu tergolong langka di
tempat kami.
Sekilas
ibu memandangku iba, lalu katanya "pingin nonton sayang?, mau ya ibu
titipkan sama mba' Suprih dan Mba' Mar...?" agak ragu namun kuanggukan
juga kepalaku tanda setuju.
Mba'
Suprih dan Mba' Mar mengangguk patuh saat ibu meminta mereka menjagaku, lalu
mereka menggandeng tanganku, namun begitu jarak rumah dan kami jauh, mereka
melepas gandengan tangannya, agak terkejut tapi aku hanya bisa diam dan
berusaha mengikuti langkah mereka yang tergesa. "tunggu aku, jangan
cepat-cepat..." namun mereka tak hiraukan permohonanku. Bahkan tak hanya
itu, aku kehilangan mereka di lapangan itu, entah sengaja atau tidak mereka
meninggalkanku.
Aku
tak berhasil menemukan mereka, tapi film "Diana" sudah di putar, dan
aku mulai melupakan kalau aku sendirian berada di kerumunan orang-orang yang
tidak kukenal, perasaan takut, was-was makin lama makin menghilang, karena
lebih asik dengan cerita film itu, dari pada memikirka mereka yang sudah
meninggalkanku.
Sampai
Layar tancap di gulung aku tak temukan juga mereka, akhirnya aku pulang
sendiri, jalanan sepi, gelap, listrik belum masuk ke desa kami ketika itu,dan
jalan terlihat karena kebetulan masih ada sinar bulan, dan aku merasa senang
bulan seolah terus menemani sepanjang perjalanan pulangku, sehingga melenyapkan
ketakutanku.
Begitu
sampai di tikungan jalan setapak ke rumah tiba-tiba kudengar samar orang
tertawa tertahan (cekikikan) di balik rimbun pohon, aku sangat mengenal suara
itu, akhirnya aku faham kalau mereka, Mba' Suprih dan Mba' Mar, tidak pernah
menyukaiku, karena segan saja pada ibu sehingga mereka tak berani menolak saat
ibu meminta mereka menjagaku.
Aku
tak perdulikan suara itu , kuteruskan saja perjalananku, hanya bersama bulan
teman setiaku, namun begitu sampai di halaman sekolah SD aku ingat kalau di
salah satu kelas ada tengkorak yang terpajang, tak urung lari juga akhirya,
karena takut tak lagi bisa kutahan, aku lari secepat kubisa, sampai rumah
kuterjang saja pintu yang tidak terkunci itu, sampai terjungkal jatuh. Ibu
terkejut melihatku pulang sendiri, lalu kata ibu... "Astaghfirullah...
kenapa kau tinggalkan mbak Suprih dan Mba' Mar sayang, kasihan... mereka pasti
kebingungan mencarimu" aku hanya bisa tersenyum kecut, lalu kutinggalkan
ibu menuju kamarku.
BNA,
Wanadadi 15/08/2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar