CINTA
KECILKU
Jika hidup ini seumpama lesat
bintang
maka pengalaman yang membelah waktu
demi waktu
adalah cahaya yang kelebat
lesatnya
Adalah lelah yang singgah
ketika aku seperti berjalan di
lorong
yang kian menyempit
sehingga aku tak bisa lagi
membangkitkan energi
untuk kembali mengingat masa
ketika aku seperti tak terbebani
apapun
ketika kelukaanku terobati
oleh seulas senyum
yang datang tepat di saat aku
membutuhkanya
Hari itu tidak seperti biasanya, aku
menolak ajakkan Lusi turun, Lusi menarik tanganku dan setengah memaksaku untuk
menuruti kemauannya. "Ayuklah El, dari pada nggak ngapa-ngapain..."
aku hanya menggelengkan kepalaku, menolak ajakkannya, aku sedang malas pergi ke
perpus tempat biasa kami ngumpul saat istirahat, atau pelajaran kosong. Meski
aku tidak pernah berharap ada surat untkku di kantor TU yang ada di dekat
perpustakaan, sebelum masuk ke perpustakaan aku selalu mampir dulu ke loket
kantor TU, tempat surat-sutrat yang terkirim berderet. Aku senang datang ke
sana, meski hanya melihat-lihat siapa yang beruntung mendapat kiriman surat
hari itu.
"El, lihat apa yang aku bawa
untukmu...!" sambil berlari-lari kecil Lusi si tomboy, teriak dengan binar
di matanya yang biasa kulihat ketika dia merasa senang. Sambil melambaikan
sesuatu yang serupa surat, Lusi menuju ke arahku, sebelum lusi sampai,
aku sudah bangkit dan merebutnya dengan sesigap mungkin, mengingat si gadis
yang lebih bisa dibilang ganteng itu suka usil. Aku hanya tertegun tak percaya
ketika membaca siapa pengirim surat itu. "Oh, Mas Annas... kau masih mengingatku."
Aku tak bisa sebunyikan kejora di mataku. Berkali surat itu aku cium, meski tak
wangi, aku senang aroma kertas daur ulang itu. Lusi hanya melongo melihatku,
keheranan. "Hoh, tau begitu aku tak mengambilkanya untukmu, kau langsung
melupakan keberadaanku!" Sambil kupeluk Lusi dan, "terima kasih ya
Lus... Sungguh ini kejutan yang sangat menyenangkan setelah enam tahun
berlalu."
Adalah hal yang paling memalukan
ketika aku menangis dan ada yang mengetahuinya. Iya, bola mataku mengaca,
rinduku telah sederet tentara yang aku sendiri seolah pingsan di
tengah-tengahnya, hatiku mengawang. Aku mulai menduga-duga, bahkan surat belum
aku buka. Aku seperti hendak membuka tabir misteri yang telah sekian lama.
"Kamu baik-baik ya disini,
jangan lagi malas ke madrasah, masa sudah gede maunya masih terus digendong
sama Mamas. Besok mas harus sudah pindah sekolah di Slawi, kembali ikut sama
Ummi dan Abah." Sambil menyeka air mataku mas Annas terus memberiku
pengertian, kalau aku bisa tanpa dia. "Kelak, pasti kita bisa bertemu
lagi, sudah jangan menangis, El masih pemberani seperti dulu, dengan atau tanpa
Mas." Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku sambil tersedu.
Hari-hariku tidak pernah tidak
bersamanya, berangkat pulang sekolah selalu bersama, juga sekolah di madrasah sore,
tempat kami belajar membaca dan menulis arab. Mas Annas tergolong paling rajin,
bahkan ketika aku malas berangkat, dia rela menggendongku sampai ke madrasah.
Aku dibawanya berlari, "heaaa... heaaa... heaaa...! berlarilah secepet
kilat kudaku...!" Itu yang selalu aku teriakkan ketika aku berada di
punggungnya.
Aku masih kelas empat, dan mas Annas
kelas enam SD, ketika mas Annas meninggalkanku untuk pindah sekolah ke kota
asalnya. Sedih luar biasa, membayangkan bagaimana sunyinya hati nanti setelah
dia tak lagi di sisih. Berat sekali ketika aku mesti di tinggalkan. Seolah ada
yang menghujam teramat dalam, dilanda perasaan kehilangan. Sekarang aku faham
kenapa orang mesti menangis ketika berpisah.
Dengan perlahan dan hati-hati, aku
buka surat yang berbalut kertas daur ulang itu, "pasti ini dibuatnya
sendiri" aku membatin.
Jumpa Adik
di Kidul sono
Assalamu'alaikum wr wb
Seamo... Merdeka!
Met senyum pepsodent selalu
sebelumnya Mas ucapkan padamu adikku yang lagi ngelamun mikirin cowok...
uha..uha... Alhamdulillah kabar mas baik-baik saja semoga adek pun demikian,
dan nggak lagi kasmaran kaya.... Embuh ya...
El, yang lagi kangen sama Mas...
kaget kan, kenapa Mas tahu alamat sekolahmu? Hayo... pasti baru nyadar tuh,
tapi, Mas nggak akan cerita, hihihi... nah lho, bibirmu tuh dek manyun, jelek
ah.
Mas tulis surat ini, nggak pake
nangis lho Dek, tapi ada yang menggenang dan mendesak di kelopak mata Mas.
Berapa lama kita tak ketemu Dek? tak ada tegur sapa, bahkan surat pun tidak...
Adek tidak kangen sama mas? Mas bayangkan pasti adek sudah tinggi, juga lebih
cantik dari yang dulu yang pernah Mas lihat... Juga bertambah rajin belajarnya,
meski mas tak bantu adek seperti dulu.
Harapan Mas masih sama seperti
ketika mas pamit denganmu, semoga kelak Allah memberi kita kesempatan untuk
bisa bertemu... Meski entah kapan. Sekarang mas sudah mualai sibuk, hingga
sulit sekali untuk bisa meluangkan waktu bahkan untuk menulis surat mas harus
curi-curi waktu, apalagi pergi ke Banjar menemuimu. Mas kerja di Sebuah SMA di
Tegal, dan di luar itu Mas adalah tim sukarela di PMI, jadi hampir setiap hari
waktu mas habis untuk kerja dan membantu di PMI.
Dek, sudah dulu ya, untuk sementara
baru kabar ini yang mas sampaikan untukmu, tugas Mas sudah menunggu cepat di
balas... Mas penasaran apa tulisanmu sekarang sudah sebagus tulisannya mba'
Faridah Hanum... hehe.
Pesan Mas, jadilah El yang biasa mas
kenal, tetap baik dan selalu manis, tidak pernah mahal untuk tersenyum pada
siapa saja, tapi... senyum-senyum sendiri... hahaha!
wassalamu'alaikuam Sampaikan salam
Mas untuk semua
--- Mas Annas---
Air mataku mengalir deras membaca
surat Mas Annas, entahlah... ada sedikit mengganjal di dadaku,
serupa dengan kecewa.
"El, apa isinya sampai kau
menangis?" tanya Lusi sambil menyodorkan sapu tangannya padaku. Aku hanya
menerima sapu tangan Lusi tanpa menjawab pertanyaanya.
BNA Wanadadi 16032013
Ilustrasi: Internet
Tidak ada komentar:
Posting Komentar