BILAKAH LINA KEMBALI
Kenangan
yang terpatri dalam memori sudah melukai jiwa, yang memenjarakan dan menjerat
kegetiran masa remajanya. Lina bagaikan burung yang terjebak getah yang sengaja
dipasang pemburu di dahan-dahan. Gagal mengepakkan sayap adalah penyesalan yang
tak pernah sudah. Iri memandang kebebasan kawannya terbang bebas di angkasa.
Sesungguhnya
keharmonisan di keluarga yang saling menyayangi sudah cukup menghibur lara
hatinya. Namun kepahitan dan keputusasaan sudah terlanjur menjeratnya. Jiwanya
sepi, pandanganya selalu kosong, diam. Tanganya bergerak hanya pada saat
membuka album foto, setiap hari dibongkar lalu dipasang lagi. Foto dari masa
kecil hingga dewasa itu adalah satu-satunya hiburan.
Jiwa
Lina yang dulu, sewaktu remaja adalah warna, indah bagai lengkung pelangi. Dia
juga mawar merah yang merekah. Kini warna itu memudar, mawarpun mengering
berguguran kelopaknya. Jatuh saat menghadapi hembusan angin. Lara yang
dirasakannya bukan karena tidak ada yang memnyayanginya. Setiap malam Ibu
selalu menemani tidurnya, juga saudara-saudaranya yang tak pernah lupa dengan
acara TV kesukaannya, mereka selalu mengalah demi untuk kebahagiaan kakak
sulungnya. Makanan kesukaannya pun selalu tersedia di meja kamarnya. Namun,
tetap saja itu tak membuat hati dan jiwanya berseri, meski tak jarang, Lina
berupaya menunjukan seolah-olah dia cukup bahagia.
Juga
pada saat mantan kekasihnya datang menjenguk, hati Lina yang sudah terlanjur
beku pun tak bereaksi, kecuali senyum yang dipaksakan. Ketika mantan kekasihnya
memintanya untuk menjalin kembali hubungannya, yang sudah terputus sejak
setahun lalu.
Inilah
malam ke sekian yang Lina lalui, sendiri bersama dunianya. Tiba-tiba saja Lina
teringat, kalau dulu pernah membaca sebuah buku cerita, tentang Nabi-nabi yang
sangat disukaiya. Kemudian Lina bangkit keluar dari kamarnya, menuju rak buku
ayahnya. Ketika Lina mencari buku yang diinginkannya, seketika pandanganya
terhenti pada satu buku "Samudera Al-Fatihah", seperti terhipnotis,
sehingga lina segera mengambilnya, dan ia baca di kamarnya. Dari kata pengantar
sampai isi, ia urut membaca, tak terlewatkan selembar pun.
Semangatnya
seketika hadir ketika terbaca olehnya, "siapa yang membaca Surah
Al-Fatihah, setiap ayat yang dibaca itu, langsung di jawab oleh Allah".
"Subhanallah!"
Jeritnya dalam hati, sehingga bola matanya mengaca, dan tanpa disadarinya
bulir-bulir air matanya menetes, membasahi buku yang sedang di bacanya. Semakin
deras air matanya ketika terbaca lagi olehnya, sebuah hadist yang diriwayatkan
oleh al-Buzar dari Anas r.a. Rasulullah s.a.w berkata: "Bila engkau baca
Al-Fatihah dan Qul Huwallahu Ahad, maka amanlah engkau dari segala sesuatu,
kecuali maut".
Membaca
semua itu, membuat Lina merasa begitu malu pada Allah, karena sejak fonis
dokter ketika itu, Lina benar-benar terpuruk. Dia malu karena selama ini tak
menyadari kalau Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Maha Penyembuh. Selagi
seorang hamba gigih berupaya, menyempurnakan ikhtiar dan tak melalaikan do'a,
tidaklah akan jadi sia-sia apa yang telah menimpanya.
"Ya
Allah, ampuni Lina, terima kasih, engkau sudah menggerakkan hatiku untuk
membacanya, dari sana Engkau menunjukkan padaku, kalau semua yang Engkau
ciptakan, engkau kondisikan, yang bahkan itu karena kesalahanku, itu bukanlah
hal yang sia-sia. Selalu ada hikmah di balik semua kejadian. Dan yang paling
kusyukuri, aku meraskan kenikmatan yang lebih agung dari ketika aku terbangun
di pagi hari, menikmati hangatnya mentari. Aku seperti terlahir kembali,
setelah dalam gelap menemukan cahaya. Seluruh jiwaku merasakan keagungan-Mu,
kini aku merasakan betapa Kau begitu baik, tak pernah meninggalkanku sekejap
pun." Lina menghapus air matanya, setelan selesai berdo'a. Ia membuka-buka
album foto di tumpukan terbawah di rak lemarinya, di situlah foto ibu dia
temukan di antara banyak foto yang tersimpan. Ia sering melakukan itu hingga
tertidur. Tapi kali ini berbeda, dia merasa sangat merindukan ibunya, padahal
setiap hari ibu selalu menemaninya.
Antara
sadar dan tidak, Lina ulurkan tangan, saat seperti ada usapan lembut di
pipinya. " Sayang, Ibu mau berangkat ke Kuningan," sayup-sayup Lina
dengar suara lembut membangunkannya ketika itu. Uluran tangan Lina disambut
dengan pelukan oleh ibunya.
"Ibu
sudah di jemput pa'likmu, untuk berangkat. Baik-baiklah di rumah, jangan lupa
obatnya, ibu sudah siapkan di tempat biasa." Bergetar hati Lina mendengar
bisik lembut ibu di telinganya.
Lina hanya tersenyum lalu menghujani ciuman di
wajah ibunya, sebagai tanda sayangnya. "Maafkan... maafkan... maafakan
Lina, Ibu, Lina selalu menyusahkan." Berulangkali Lina ucapkan itu dengan
tidak menghentikan ciumannya.
Malam
itu, Lina serasa mengulang kembali sejarah hidupnya, mengecup, menciumi ibunya,
sesuka-hatinya. Meski sering Lina melakukan itu, tapi malam itu seolah hal
baru. Rasa tak ingin lepas, tak ingin lepas. "Aku sangat menyayangimu Ibu,
terlepas dari yang sudah terjadi padaku, sayangku pada ibu tak berubah
sedikitpun. Lina tidak akan sedih lagi." Lina terus menenangkan ibunya
dalam pelukannya, ketika dirasakan ibunya mulai terisak. Senyum yang paling
manis ditunjukannya, sampai ibunya terlihat lega meninggalkannya di kamar.
Berlama-lama
Lina pandangi foto Ibunya, sehingga yang menggenang berdesak di kelopak matanya akhirnya tumpah. Melihat
guratan-guratan kecil di dahi dan bawah kantung mata Ibu, sudah banyak terukir
di situ. "Oh Ibu... Aku tahu, engkau mencintaiku, tatkala engkau
mengandung, melahirkan aku, hingga kini aku dewasa. Cintamu tak pernah
berkurang, sekalipun aku telah membingungkan, mengacaukan, dan mencemaskanmu.
Engkau selalu mencintai dan menyayangiku, ketika aku terbaring karna lemahnya
tubuhku. Ibu... Aku menunggumu pulang, sudah kusiapkan senyuman, senyum
kerinduan yang tak terbilang. Pulanglah dengan selamat Ibu, aku ingin cinta,
rindu ini terus berulang."
BNA
Wanadadi 25/09/2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar