Rabu, 20 Maret 2013
TERIMA KASIH IBU
Usiaku baru menginjak angka empat sampai lima ketika aku merasa hampir semua orang menyalahkanku atas kecelakaan yang menimpa kakakku. Aku selalu ketakutan setiap kali menjumpai genangan air yang serupa kolam, sering orang-orang kesal karena kaget mendengar teriakan histerisku. Tak jarang orang memarahiku, bahkan memukul. Itu terjadi ketika aku bermain sendiri di luar rumah.
El, demikian orang sekitar memanggilku. Setiap kali perasaan bersalah itu hinggap dalam batin dan anganku, aku berusaha melupakannya. Aku berusaha membuang, melemparkannya sejauh langit, lalu mengunci rapat ingatanku tentang kejadian menyedihkan, menyakitkan itu. Sehingga seringkali aku menghindari pertemuan dengan orang-orang yang selalu berusaha menanyaiku. Mereka tidak pernah mengerti, betapa luka itu teramat dalam.
Dan, tatkala bayangan kakak menari-nari dalam mata rinduku, hanya hela nafas panjang, lalu aku membiarkanya tetap di sana, tersenyum. Aku terus membiarkanya, yang seolah menikmati kembali kebersamaan dengannya. Anganku terus melayang pada peristiwa-peristiwa yang telah sudah. Berebut ranting kering, ketika bermain rumah-rumahan, berebut boneka, berebut punggung ayah, luar biasanya kakak lebih suka mengalah dari pada melihatku menangis. Kakak tak pernah keberatan memberikan miliknya padaku, meski dia sangat menyukainya.
Rasa rindu itu dapat seketika muncul ketika tengah malam, aku terbangun dan berharap ada kakak di balik punggung ibu. Aku terus berharap dia kembali, bisa kudengar lagi teriakannya saat kami berebut tempat tidur di dekat ibu. Aku rindu candanya, aku rindu tawanya di saat tidak sengaja kepala kami beradu di atas tubuh ibu.
Seketika aku terkesiap ketika menyadari betapa kerinduanku pada kakak begitu mencekamku sedemikian rupa. Kegalauanku pun terdapat tiap kuterjaga di tengah malam. Ketika kusadari tak ada lagi tubuh lain di balik punggung ibu.
Tangisku seringkali memecah malam. Sedih tak terkira sakit tak terperi, perasaan bersalah, kenapa saat itu badanku lebih kecil dari pada kakak. Tuhan! Mata itu penuh pengharapan memandangku hanya tergagap timbul tenggelam, berusaha memanggil namaku, tanpa teriakan minta tolong.
Menyesal... Kenapa pada saat itu tanganku begitu pendek lagi kecil hingga tak bisa kugapai tangannya di saat ia berusaha menggapaiku berusaha meraih tanganku namun hanya udara yang dipegangnya dan tak menolongnya. Aku hanya duduk tertunduk lelah ketika teriak jeritanku tak berhasil memecah kesunyian di bibir kolam. Aku hanya bisa terisak di saat melihatnya berjuang sendiri dengan mata penuh basah air, dan air mata... Sampai habis kekuatannya, dan tenggelam.
Aku seolah terdampar di tempat sunyi, tanpa sempat merasakan bahagia lebih lama bermain bersama kakak. Kebahagiaanku seketika hilang, telah diterjang angin badai, dan memporak porandakannya. Semakin terasa hatiku patah kian parah, kelopak yang dulu manis berterbangan entah kemana. Nama kakak telah benar-benar bersemayam dalam hatiku, sehingga seolah kawan baik selain kakak tak pernah lagi ku temu.
Untuk mengobati rasa rinduku, hampir setiap pagi buta, begitu aku terbangun dari tidurku, aku pergi kebibir jurang belakang rumah, tempat aku dan kakakku bernyanyi bersama, senang mendengar suara sendiri yang menggema ketika itu. Aku nyanyikan semua lagu kesukaanku dengannya. Sampai ibu memanggilku, aku baru selesaikan laguku. Lagu rindu.
Setelah kepergian kakak, aku tiba-tiba saja menjadi gadis kecil yang mudah marah, nakal, dan sangat di takuti oleh teman-teman sebayaku. Bahkan orang tua mereka pun melarang anaknya bermain denganku. Sampai aku merasa, tak ada lagi orang yang percaya kalau aku bisa jadi teman yang baik. Yang paling menyedihkan, setiap kali ada yang celaka dan kebetulan aku ada di dekatnya, mereka mengira akulah penyebabnya, padahal aku sama sekali tidak melakukan apa-apa.
Pernah kejadian, ada kesempatan aku bermain dengan teman-teman. Di sungai, kita semua hendak menyeberang, di sana ada jembatan dari batang kelapa utuh, satu kawan mencoba meniti, namun dia terjatuh. Entahlah, apa yang membuatku seketika ulurkan tanganku padanya, "peganglah tanganku, jangan takut ya, tidak apa-apa... Kau pasti selamat, kau tidak seperti kakakku... dia jatuhnya di kolam, kau di sungai... ." Aku melihatnya ragu untuk menyambut uluran tanganku, terpaksa aku beranikan diri turun, menolongnya, lantas kubersihkan dia karena tubuhnya penuh lumpur, begitu kubuka bajunya ada luka menganga. Karena takut aku kenakan kembali bajunya dan kuantar dia pulang.
Sesampainya di rumah temanku, apa yang terjadi... "El, siapa lagi kalau bukan kau...! Kau apakan anakku heh!" Teriak orang tua temanku dan semua orang yang berkerumun di rumah itu, semua orang menyalahkan aku, semua mata memandangku dengan penuh kebencian. Namun karena sudah terbiasanya aku dengan yang demikian, sepatahpun tak keluar dari mulutku untuk melakukan pembelaan.
Begitu aku sampai rumah, ibu melihatku sedang menyeka air mata dengan punggung tanganku. "Sayang, kenapa putriku yang pemberani ini menangis hmm... katakan sama ibu, ada yang celaka lagi? Bukan kamu kan penyebabnya? Ceritakan sam ibu nak, apa yang terjadi..." Sekujur tubuhku bagai tersiram air sedingin es, ketika kulihat senyum ibu, meski ia banyak bertannya, namun tak sekalipun pernah membuatku takut. Begitu aku selesai ceritakan kejadian yang baru aku alami, ibu pun hanya tersenyum dan katanya, "Allah, Maha Melihat sayang, sekalipun seisi dunia ini menyalahkanmu, itu tidak akan berpengaruh apa-apa bagimu, juga Ibu. Ibu dan ayah sangat menyayangimu, juga pecaya, anak ibu tidak nakal seperti yang di tuduhkan orang-orang."
Luar biasanya ibu, ia sungguh-sungguh telah menjadi sumber kekuatanku, disamping ayah yang selalu mendukungku. Apalagi aku termasuk anak yang cukup bisa membanggakan ayah ibuku karena perestasiku di sekolah. Dan ini sungguh membahagiakanku.
BNA Wanadadi 14022013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar