/1/
Entah tersentuh
Sehingga riuh hati meski tak sampai keluh
Adalah bencimu membuatku kelu
Ketika kau duga masih cerita yang sama
Bagaimana aku sanggup kau jadikan aku permata
Ketika wajahku yang hanya bayangan saja
Pendam saja derita, kubur dalam dada
Biar aku bertanya pada hidup tentang pertemuan
Seperti hari ini yang membuatmu bertanya tentang kehilangan
: Aku tak sanggup jadi bidadari meski imaji
Adalah kelembutan menerbangkan lara yang sudah lalu
Ketika angin telah lelah, aku mulai menyanyikan lagu
Lalu ketika kau mendekat padaku yang sejarak denyut nadi
Kudengar panggilan dari riuhnya sunyi
Demi pelangi yang lengkung hingga pelataran ilalang
Aku tak lagi mabuk oleh jalan panjang
Dibawah bulan bintang begitu benderang
Hingga malam tak sempat membuatku berhenti
: Meski kerpas, kau dengar aku
Berjingkat pun jalanku
/2/
Ketika bidadari yang kau agungkan
Hanya sebatas pintas
Selebihnya kita bercengkrama dengan angin
Ilalang itu menusuk pelan meninggalakan rona di hati
Setelah puluhan rasa senja kita lewati bersama
Pada waktu membeku di setiap detiknya
Kau hafal tentangku membatu pilu dari bayang
Pernah kau lukiskan ini tentang kita
Aku telah membilang bilang ketika menimbang
Aku bukan pilihan pilahmu dari ribuan orang
Kelopak melati pun melayu sebelum sempat dicumbu
Aku hanya ingin melukis di kanvas kosongku
Angka-angka kita yang meleleh kelelahan menunggu masa
Sedangkan kita asyik menerbangkan bunga ilalangmu
Seandainya kita duduk dalam kencana yang kita suka
Ketika sembrani memberi pesan lewat rintik hujan
Aku akan kidungkan lagu yang kau suka
Engkau memandangku dengan mata kejora
Kereta kencana akan membawa kita menjauh
Dari kaki sepi di antara bintang
Dan aku, bukan lagi sebatas bayang
BNAAY Wanadadi 23/11/2012
Entah tersentuh
Sehingga riuh hati meski tak sampai keluh
Adalah bencimu membuatku kelu
Ketika kau duga masih cerita yang sama
Bagaimana aku sanggup kau jadikan aku permata
Ketika wajahku yang hanya bayangan saja
Pendam saja derita, kubur dalam dada
Biar aku bertanya pada hidup tentang pertemuan
Seperti hari ini yang membuatmu bertanya tentang kehilangan
: Aku tak sanggup jadi bidadari meski imaji
Adalah kelembutan menerbangkan lara yang sudah lalu
Ketika angin telah lelah, aku mulai menyanyikan lagu
Lalu ketika kau mendekat padaku yang sejarak denyut nadi
Kudengar panggilan dari riuhnya sunyi
Demi pelangi yang lengkung hingga pelataran ilalang
Aku tak lagi mabuk oleh jalan panjang
Dibawah bulan bintang begitu benderang
Hingga malam tak sempat membuatku berhenti
: Meski kerpas, kau dengar aku
Berjingkat pun jalanku
/2/
Ketika bidadari yang kau agungkan
Hanya sebatas pintas
Selebihnya kita bercengkrama dengan angin
Ilalang itu menusuk pelan meninggalakan rona di hati
Setelah puluhan rasa senja kita lewati bersama
Pada waktu membeku di setiap detiknya
Kau hafal tentangku membatu pilu dari bayang
Pernah kau lukiskan ini tentang kita
Aku telah membilang bilang ketika menimbang
Aku bukan pilihan pilahmu dari ribuan orang
Kelopak melati pun melayu sebelum sempat dicumbu
Aku hanya ingin melukis di kanvas kosongku
Angka-angka kita yang meleleh kelelahan menunggu masa
Sedangkan kita asyik menerbangkan bunga ilalangmu
Seandainya kita duduk dalam kencana yang kita suka
Ketika sembrani memberi pesan lewat rintik hujan
Aku akan kidungkan lagu yang kau suka
Engkau memandangku dengan mata kejora
Kereta kencana akan membawa kita menjauh
Dari kaki sepi di antara bintang
Dan aku, bukan lagi sebatas bayang
BNAAY Wanadadi 23/11/2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar