Terjagaku ketika sekelebatmu, mimpi pun kutak bisa percaya kaukan henti, sekejap pun tak. Berlalu, lalulah pergi... Perihku bukan lagi jadi beban yang harus kausesali. Terbiasaku dulu, kembalilahku pada biasaku. Helai-helai sunyiku kubawa, biarkan aku.
Aku terus berharap, ada keberanian tanpa kupaksa untuk berani. Seperti ketika ada semacam gulma yang tertanam teramat dalam, hingga susah untuk kucabut dan membuang lalu menggantinya dengan bunga-bunga yang rekah indah.
Dan, di hadapanmu senyumku selalu letih, entah yang membuatku begitu berat. Apakah masih selalu menyalahkanmu? Tapi tidak, maafku untukmu adalah seluas bentangan tanganku.
Pada-Nya Kekasihku yang dulu dan juga kini, bersama-Nya kembaliku kembali, entah sejauh pun kembaraku. Berulang kali kupergi, selalu kukembali. Meski kubagai menembus ilalang ketika kupulang.
Tak mungkin kubisa jungkit rentang, hingga kulangkahkan kaki tanpa bentang kuasa-Nya. Napas yang kuhela pun tak akan kubisa tanpa seijin-Nya.
Yang kuingat, tak satu dinding bahkan tirai pun yang memisahkan. Dia dan aku. Hingga riuh hatiku seperti konvoi tentara-tentara hendak berangkat perang, bergemuruh menggetarkan dada. Setiap kubiskkan nama-Nya, di tiap kudengar detik jam itu. Kau tak terlupakan bagiku.
Berbaringku di hamparan pemadani-Nya, adalah dari segala yang ternikmat di muka bumi. Yang tidak pernah tidak aku suka. Hingga kurasakan wajahku berdekat dengan wajah-Nya, ketika kuterpejam mata. Hingga paru-paruku bebas mengembang menyusut, dan hela nafasku kian lega. Angin kecil yang Kauhembuskan, membuatku kian lena.
BNA Wanadadi 13042013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar