Selasa, 23 April 2013

BRAILE



BRAILE

oleh Erlin Erlna Soraya


Sesungguhnya kenyataan itu diterimanya sudah sejak lama, dengan penuh keyakinan, percaya kalau karena Dia teramat sayang sehingga dikurangi-Nya kenikmatan penglihatan, agar terhindar dari pandangan yang menyesatkan. Namun kujuga mau sempurnakan ikhtiar untuknya. Aku merasa sangat bersalah karena terlalu lama menunda.

Sungguh, aku bahagia saat dia setuju menjalani pengobatan, penuh suka cita aku melakukan perjalanan. Sembari berdoa pada Tuhan, semoga tidak mengecewakan. Mobil travel bergerak meninggalkan kota kami, pemandangan di luar jendela jadi begitu indah, semua sangat membahagiakan dengan diawali bismillah, aku dengan adikku berangkat. Dengan segumpal harapan yang kami bawa.

Entah kenapa, semakin dekat dengan rumah sakit, hatiku semakin sakit. Perasaan takut tiba-tiba saja menggangguku. Untuk menghilangkan kecemasanku, aku terus melihat keluar jendela. Segala benda seolah berlarian di luar sana, meninggalkan kami.

Entah macam apa pemeriksaan yang dijalani adikku di dalam sana... Tapi, seketika lututku tak sanggup untuk kutegakkan, ketika dokter memanggilku dan kudengar yang dia sampaikan. Adikku sudah tak bisa lagi disembuhkan.

"Sayang, ini menyakitkan, namun harus kaudengar."

"Mbak, kita sudah berusaha, Tuhan sudah senang melihat kita berupaya, Dia senang kita tak berhenti menyempurnakannya, namun kembali pada kasih sayang-Nya yang luar biasa aku sungguh lega juga bahagia."

Subhanallah! Pecah tangisku di pelukannya...

Dia bahkan tersenyum menerima kenyataan kalau matanya tak lagi bisa diobati.

"Mbak, kita sudah terbiasa dengan kenyataan bukan? Tidak ada yang perlu disesali, semua hal yang Allah berikan bukankah yang terbaik? Itu selalu yang Mbak katakan padaku, tapi kenapa malah mbak sedih?".

Tuhan! Iya... Saat aku sakit aku bisa berkata tidak apa-apa, tapi saat melihat adikku sakit dan bisa mengatasi perasaanya, aku tak kuasa!

"Kita berjuang sama-sama adikku..." ucapku dengan suara bergetar, kulihat adikku tersenyum sumringah.

"Iya, tidak ada yang sia-sia dengan perjalanan kita, melihat kita tetap bahagia Allah makin sayang dengan kita," semakin erat adikku memelukku.

Hari ini, adalah hari pertama aku melihat adikku belajar menulis dengan huruf braile. Ya, berubah, semua sudah berubah. Bening yang mendesak di kelopak mataku sudah tak dilihatnya lagi. Semangatnya menghadapi perubahan yang mungkin bagi orang lain sebagai awal penderitaan, namun tidak untuk adikku. Bahkan dia begitu bersemangat setelah vonis dokter di rumah sakit itu, yang menyatakan kalau dia sudah tidak mungkin bisa disembuhkan lagi. Itu artinya dia harus dengan lapang menerima kenyataan bahwa kini ia telah menjadi seorang tuna netra, yang bahkan aku sendiri tak sanggup mendengarnya.


UNTUKMU ADIKKU


/1/
Hatiku sesaat seperti dilantakkan, sendi terasa terlepas hingga kulemas lunglai
Langit seketika gulita, di sini, di ruang asing kuterima kenyataan
bagiku pedih, namun tidak baginya

Aku ciut takut, memandangnya jantungku berhenti berdetak
Sedih, dadaku sakit seolah dihantam berulang kali
Mulutku terkatup, bahkan kedua kakiku tak teguh
gemetar gentar


/2/
Saat pergi senang, saat pulang pun senang
Masih ada rahasia Tuhan

Kita adalah sang pemimpi, teruslah ikuti kisah
Hidup ini indah

Inilah perjuangan, meski kian sulit
seakan terjepit, terlilit terbelit
Namun putus asa tak pernah terbersit



: Sesaat di RS dr Yap, Yogyakarta 03 Agustus 2009.
Based on true story of  EES
Edited by Farrah - Image source: Internet

Tidak ada komentar:

Posting Komentar