Aku
mulai melukis hari ini, rumah di lembah yang cantik terlihat dari sudut
manapun, di tepi danau yang selalu biru. Selalu ingin kumerayap
kepuncak bukit di belakang rumah. Mataku terlalu lapang untuk bisa
melukiskan keindahannya.
Aku bebas bernafas, sejuk semilir anginnya yang tak bosan berhembus, seringkali menidurkan aku di bawah cemara itu.
Ku lagi-lagi tersentak oleh pesona ketika kau nyanyi, padahal telah berulang kali kudengar lagu sunyi. Syair-syair itu merambat di dinding-dinding tebing, hinggap pada liuk daun cemara dan bunga-bunga kecil dibawahnya. Senyum daun dan bunga, aku merasa.
Bukit ini telah menyihirku, hingga enggan aku pergi. Angin gemeresik daun lembut membelai kalbu, sungguh bagai simfoni yang agung. Seketika senyap suara burung, menghentikan kicaunya ketika terdengar lantun angin bersama daun kering gugur, jatuh.
Aku pun menyimak, aku tergerak.
BNA Wanadadi 01/12/2012
Aku bebas bernafas, sejuk semilir anginnya yang tak bosan berhembus, seringkali menidurkan aku di bawah cemara itu.
Ku lagi-lagi tersentak oleh pesona ketika kau nyanyi, padahal telah berulang kali kudengar lagu sunyi. Syair-syair itu merambat di dinding-dinding tebing, hinggap pada liuk daun cemara dan bunga-bunga kecil dibawahnya. Senyum daun dan bunga, aku merasa.
Bukit ini telah menyihirku, hingga enggan aku pergi. Angin gemeresik daun lembut membelai kalbu, sungguh bagai simfoni yang agung. Seketika senyap suara burung, menghentikan kicaunya ketika terdengar lantun angin bersama daun kering gugur, jatuh.
Aku pun menyimak, aku tergerak.
BNA Wanadadi 01/12/2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar