oleh Erlin Erlina Soraya (Catatan) pada 3 Oktober 2012 pukul 4:48
nafas malam yang resah
mengemas serpihan mimpi
dari tidur yang tak lagi nyenyak
dalam selimut pekat malam
di langit rembulan tak muncul
kelamnya malam bentangkan sepi
mendung menyanyikan kidung kemarin
yang senandungnya masih samar
bersama malam
ia ingin bermimpi, menenun hari
bersama embun di pucuk daun
dan
mimpi lepas
dari ikatan yang menjerat sukma
dari janji yang tak terurai
seperti ketika ia menuruni bukit
yang berselimut kabut
ia ingin, pagi menyapanya lembut
mentari masih tertutup mendung
ketika dingin lepaskan sekat
antara jiwanya dan yang dipujanya
lewat jendela terlintas wajah
yang mengganggu malam-malamnya
menyapanya dalam mimpi
yang hilang ketika pagi
siang
adalah cerita
yang tak sempat ia ingat
kamar yang sepi
jendela yang mati
sendiri
BNAAY Wanadadi, 03/10/2012
mengemas serpihan mimpi
dari tidur yang tak lagi nyenyak
dalam selimut pekat malam
di langit rembulan tak muncul
kelamnya malam bentangkan sepi
mendung menyanyikan kidung kemarin
yang senandungnya masih samar
bersama malam
ia ingin bermimpi, menenun hari
bersama embun di pucuk daun
dan
mimpi lepas
dari ikatan yang menjerat sukma
dari janji yang tak terurai
seperti ketika ia menuruni bukit
yang berselimut kabut
ia ingin, pagi menyapanya lembut
mentari masih tertutup mendung
ketika dingin lepaskan sekat
antara jiwanya dan yang dipujanya
lewat jendela terlintas wajah
yang mengganggu malam-malamnya
menyapanya dalam mimpi
yang hilang ketika pagi
siang
adalah cerita
yang tak sempat ia ingat
kamar yang sepi
jendela yang mati
sendiri
BNAAY Wanadadi, 03/10/2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar