oleh EES
Malam yang telah menua menambah gulana hatinya, ketika asing di rumahnya melanda. Tetes bening yang menggenang di kelopak matanya tumpah.
"Aku gerah sudah tak betah: Aku mau pulang, kenapa kalian diam, rumahku tamansari bukan disini."
Sedih melihatnya sudah tak lagi mengingat pernah menunggu bulan sepotong hingga penuh, di jendela kamarnya, bahkan angin dingin yang berhembus dari sela-sela kesukaanya sudah tak di perdulikannya.
"Terbatuk ketika minum ,tersedak ketika makan: Kalian lihatlah wajahku yang kian lelah, Dia pun pasti Maha Faham, kenapa senyumku sudah tak lagi rekah."
Jerit lirihnya di tiap hela nafas, pada-Nya tak henti-henti, dari senja menjemput mentari hingga malam merayap mengajak kabut turun menjelma embun.
"Inilah tanda cinta Kekasihku di sepanjang waktu, satu-satu nafasku terhela tidak apa: Aku masih merindukan hujan-Nya, yang membawa pelangi untukku."
Hanya itu yang membahagiakannya...
BNA Wanadadi 05/11/2012
Ilustrsi: Koleksi EES
Malam yang telah menua menambah gulana hatinya, ketika asing di rumahnya melanda. Tetes bening yang menggenang di kelopak matanya tumpah.
"Aku gerah sudah tak betah: Aku mau pulang, kenapa kalian diam, rumahku tamansari bukan disini."
Sedih melihatnya sudah tak lagi mengingat pernah menunggu bulan sepotong hingga penuh, di jendela kamarnya, bahkan angin dingin yang berhembus dari sela-sela kesukaanya sudah tak di perdulikannya.
"Terbatuk ketika minum ,tersedak ketika makan: Kalian lihatlah wajahku yang kian lelah, Dia pun pasti Maha Faham, kenapa senyumku sudah tak lagi rekah."
Jerit lirihnya di tiap hela nafas, pada-Nya tak henti-henti, dari senja menjemput mentari hingga malam merayap mengajak kabut turun menjelma embun.
"Inilah tanda cinta Kekasihku di sepanjang waktu, satu-satu nafasku terhela tidak apa: Aku masih merindukan hujan-Nya, yang membawa pelangi untukku."
Hanya itu yang membahagiakannya...
BNA Wanadadi 05/11/2012
Ilustrsi: Koleksi EES

Tidak ada komentar:
Posting Komentar