
oleh Erlin Erlina Soraya
Sepanjang malam dibalik dinding kamar istighfar itu, tak henti-hentinya kudengar, malam seolah enggan berhenti berlari. Ia terus membawanya, mengitari wajah sejoli: Bulan dan bintang.
Engkau pun seperti malam, seperti bulan, seperti matahari... tak pernah berhenti. Berteman dengan kehilangan: Itu yang membuatmu berbeda, dan tidak kau mengerti.
Sedumu membuatku pilu, semakin pilu ketika rintihmu memanggil-manggil Asma Robbku, Robbmu juga.
Lega ketika perlahan kurasakan desir, seperti tarian angin di kamar jiwaku, seperti nyanyian yang paling lembut.
Rindu senyummu semakin bertubi, ketika sepi. Kejora dan tatapan lembut di matamu juga ingin kulihat lagi, peluk hangat, tutur kata penyejuk jiwa...
BNA Wanadadi 13/11/2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar