Diangkat dari kisah nyata oleh EES
"Aku tak akan bisa menyerah tanpa berjuang terlebih dahulu." Sembari membereskan beberapa keperluanya dimasukkan kedalam tas, El sulut semangatnya sendiri, agar tidak menyerah begitu saja.
Begitu sampai di perusahaan El langsung ke kantor HRD dan menemui orang yang kemarin menginterviewnya. "Hari ini saya cukup sibuk membantu HRD melakukan seleksi pelamar, jadi silahkan menunggu kalau anda tidak keberatan." Begitu jawaban yang diterimanya
Menunggu dari jam delapan pagi hingga jam empat sore, letih luar biasa sebenarnya, tapi membayangkan adik-adiknya di rumah, letih itu sirna seketika.
Jika melihat aplikasi yang masuk, cukup banyak pelamar yang rontok, hanya dari seleksi awal. El termasuk yang beruntung, gagal di interview terakhir, penasaran apa yang membuatnya tidak diterima sedangkan jawaban yang diberikan menurutnya tidak masalah. Untuk itu ia beranikan diri mencoba datang lagi dan minta interview ulang.
"Duhai Penggenggam Hidup, tolong aku, beri aku kemudahan untuk bisa bekerja di sini. Aku bersumpah pada-Mu duhai Kau, Sang Pembolak-balikan Hati, kalau sampai diterima di perusahaan ini, aku akan berjilbab...!" El, terkejut ketika tidak disadarinya sudah mengucap sumpah di sela doanya.
"Apa aku mampu, seandainya benar-benar diterima? Dengan suasana panasnya kota Bekasi yang hampir tidak pernah usai, apa nantinya kuat menahan gerah setiap hari? Belum lagi repotnya ketika harus menambah waktu dandan mengenakan jilbab yang harus kusemat dengan peniti atau aksesories lain untuk mempercantiknya."
"Saudari El, silahkan masuk!" Lamunan El seketika buyar ketika ada yang memanggil namanya dari dalam ruangan kantor. Bergegas dia masuk, dan segera duduk di tempat yang ditunjuk orang HRD itu. "Kenapa kamu ngotot ingin bekerja di sini, padahal kamu sudah dinyatakan tidak diterima kemarin?"
"Saya hanya ingin bekerja di sini, Pak." Jawab El singkat.
El mulai ditanya-tanya sampai pada pertanyaan apa pengalamannya, sehingga dia begitu percaya diri. Pertanyaannya demi pertanyaan dijawab El sejujur mungkin, sampai pada pengalaman kerja yang belum dia punya.
"Kapan saya bisa punya pengalaman kerja kalau setiap melamar selalu ditolak, Pak? Tolong beri saya kesempatan, agar saya punya pengalaman itu, kalau saya terbukti tidak mampu, bapak boleh pecat saya." Orang HRD itu hanya tersenyum sambil mempersilahkan El keluar, dan memintanya untuk kembali besok.
"Semoga besok adalah kabar baik." El terus berharap.
El, tak sabar menunggu senja berlalu. Ia hampir tak berkedip menatap bola matahari itu menggelincir masuk ke batas cakrawala meninggalkan rona jingga yang juga menghilang perlahan. Sampai malam merayap turun, El masih duduk di depan jendela kamarnya. Sampai keesokannya dia terbangun dari tidur dan masih di depan jendela.
"Ya Allah, hari ini adalah harapan terakhirku pada perusahaan itu, aku hanya mohon ridha-Mu, Kau yang tahu yang terbaik bagiku, aku pasrah apapun keputusan-Mu, duhai Sang Penggenggam Hati, Sang Penggenggam Hidupku..." Doa El setelah subuh tadi.
El bergegas, siap-siap untuk kembali ke perusahaan tempat ia meggantungkan harapan. Mulutnya komat-kamit sepanjang jalan, entah apa yang dia lafalkan, sampai tak perduli orang memandangnya aneh.
"Alhamdulillah...!" El langsung bersujud syukur, begitu namanya dipanggil di urutan kedua, dari sekian ratus pendaftar, 90 orang terpilih. Dan dia termasuk di antara mereka yang diterima. Betapa gembiranya El ketika itu. "Allah mendengar doaku, dan... sumpahku juga." El merinding mengingat sumpah itu. Namun begitu, betapapun ada yang mengganjal dalam dadanya, puji syukur tak henti dihaturkan pada sang Rabb.
Sepulang dari perusahaan, hari itu juga si rambut keriting diekor kuda belanja. Semua keperluan jilbabnya, dia Beli dari uang saku yang diberikan ibunya dan omnya kemarin. Baju-baju longgar lengan panjang, rok dan celana panjang.
"Hoh! Gimana sih, biar terlihat pantas? Atau bertambah cantik, gitu, meski sedikit?" Tak sekali dua kali El berputar-putar di depan cermin, jilbabnya disemat sana semat sini. Ini adalah hari pertamanya mengenakan jilbab.
Sejak awal ia merasa orang memandangnya dengan pandangan aneh. Tapi kebulatan tekadnya telah mengalahkan kecanggungannya. "Tuhan, buat aku tak perduli dengan mereka!" El terus menghibur diri dengan doa.
Untuk beberapa waktu ia cuek, dengan pandangan teman mengenai penampilan barunya, tapi semakin lama godaan untuk melepas jilbab dan semua atributnya mengganggu pikirannya. Melihat pakaian teman-teman sekerjanya, terlihat lebih indah dan lebih modern. Sehingga perasaan seperti memakai pakaian ibu-ibu di kampung terus menggelitiknya.
Karena teringat pada sumpah, gadis yang dulu lebih suka jeans dan kaos oblong, tidak ada keberanian untuk melakukannya. Ia lebih takut kalau Allah murka. Perang di hatinya antara melepas jilbab atau tidak, terus berkecamuk. Ini berlangsung sampai 6 bulan, selama bekerja.
Akhir bulan November masa trainingnya sebagai karyawan berakhir. El lulus dan diangkat sebagai karyawan tetap. Rasa gembira, perjuangannya tak sia-sia.
"Terima kasih ya Allah...!" Ucap syukurnya tak henti-henti.
Beberapa saat setelah terima berita gembira, tiba-tiba dadanya sesak. Pukul 16.00 WIB, jam kerja berakhir. El menahan sesaknya sampai selesai sholat Ashar. Namun sesak di dadanya tak juga reda, malah semakin menjadi-jadi. Segera El menuju bus jemputan, akomodasi yang disediakan perusahaan untuk karyawan. Di bis, duduknya menyandar, ia berharap itu bisa mengurangi sesak di dada. Tapi dadanya kian berat saja untuk bernafas.
Begitu bis sampai ke perbatasan Jababeka, El ganti kendaraan umum. Di sinilah puncak kejadiannya. Sesak nafas yang dirasakannya, sejak masih di perusahaan tadi semakin menjadi. Tiba-tiba saja perasaan takut luar biasa melanda. Sesaat setelah ia terbatuk dan merasa ada sesuatu yang keluar dari dada ke mulut, entah kenapa tak punya keberanian untuk memuntahkannya.
Dengan hanya memberi isyarat, sopir angkot itu tahu, El meminta menghentikan mobilnya. Begitu turun yang terpikir oleh El adalah menjauh dari keramaian dan melihat, gerangan apa yang ada di mulutnya itu. Semakin ditahan, batuknya semakin menjadi dan semakin banyak sesuatu yang tertampung di mulutnya.
Setelah merasa cukup jauh dari jalan, dan keramaian orang, dimuntahkannya semua yang ada di mulut. "Astaghfirullah..!" Kaget luar biasa, dada El semakin bergemuruh, detaknya semakin keras, tubuhnya gemetar ketakutan. Semakin sulit nafasnya di hela. Ternyata yang ditahan-tahan dari tadi itu adalah darah segar. El batuk dan muntah darah!
"Alhamdulillah," El bersyukur, tidak kesulitan mencari klinik terdekat. Ia berusaha untuk segera mendapatkan pertolongan. Sesampainya di sana, dokter segera memeriksanya dan memberi obat, untuk segera diminum. Namun itu tidak bisa menolongnya, batuknya semakin menjadi, darah semakin banyak keluar. Darah dan darah, anyir darah di mulutnya.
"Dek, kamu habis makan apa? Opname aja ya..." Sambil memberikan wadah untuk menampung darah, dokter memberinya saran. Entah kenapa dokter itu malah terlihat kebingungan melihat kondisinya. Meski El tahu, kalau dia harus mendapat perawatan. Tapi dia menolak, karena di kota Bekasi, ia tidak ada sanak saudara. Selain itu, uang dari mana, sedang gajinya untuk bayar kost dan kebutuhan sehari-hari saja masih pas-pasan. Sedang SK karyawan tetap baru dia dapat tadi.
Setelah batuk agak reda, El pulang ke kost dengan kondisi masih belum membaik.
"Siapa yang akan mengurusku?" El kebingungan, karena omnya yang satu kost denganya sudah pindah lokasi kerja.
Parahnya, kondisi El tidak ada yang tahu.
"Ya Allah, haruskah aku akhiri hidupku di sini?"
"Assalamualaikum El, kau ada didalam?" Suara itu tak asing di telinga El, pelan-pelan El bangun dari tempat tidur, dan membuka kamarnya.
"Eni... " Lirih suara El memanggil nama teman masa SMA-nya itu.
"Astaghfirullah El! kau kenapa? Sakitkah...?" Eni semakin terkejut ketika melihat ada plastik berisi darah di sebelah kasur El.
Tanpa meminta ijin, Eni langsung telepon bapaknya, dan memintanya untuk mengabari orang tua El. Jaringan telepon memang belum sampai ke daerah El.
Keesokan harinya Ibu dan Bapak El datang. Pecahlah tangis keduanya memeluknya, melihat kondisi El yang demikian lemah.
"Kenapa kau nak, apa om-mu tidak tahu kau sakit? Bahkan kemarin dia sudah sampai di rumah, padahal katanya dia mengajakmu pulang, tapi kau tidak mau, kenapa?" El, hanya menggelengkan kepala.
"Waktu itu El belum libur bu, dan El baru mimisan aja, jadi El pikir besok El juga akan baik lagi" Pelan El menjelaskan.
Sesak napas El kian parah. Bukan main sulit dadanya menerima aliran udara. Batuk dan darah. Kondisinya yang kian melemah.
"Ayo, pulang sayang... Sama ibu, sama bapak ya, sudah cukup, jangan kau teruskan lagi, kami tidak mau kehilanganmu..." bisik ibu di sela tangisnya. El hanya mengangguk tanda setuju.
Hari itu juga El pulang ke kampung. Kampung yang telah ditinggalkannya untuk mengejar cita-cita. Sekarang pulang bukan dengan keberhasilan, tapi membawa sakit.
Begitu sampai rumah, langsung di bawanya El ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. EL menjalani beberapa pemeriksaan yang cukup melelahkan. Dan diagnosa dokter tentang penyakitnya membuat orang tua dan El lemas.
"Kelainan jantung bawaan sejak lahir, cacat jantung, ini tidak bisa sembuh, harus dioperasi dan berobat seumur hidup." Vonis yang memberatkan dan menghancurkan mimpi-mimpi El.
Karena sakit, dokter melarang El bekerja, harus istirahat total seumur hidup. Alangkah menyedihkan keputusan ini. "Seumur-umur, aku harus di rumah?" El pasrah.
Dengan sederet peristiwa yang dialaminya, El teringat akan 'sumpah' sebelum diterima kerja, dengan segala godaan-godaan yang membuatnya terbersit niat melepas jilbab.
"Aku harus syukuri. Mungkin inilah sebenar-benarnya hidayah, mungkin inilah peringatan perlindungan langsung dari Allah. Mungkin inilah wujud kasih sayang dari-Nya bagiku, agar aku tak sampai terjerumus. Hampir saja aku melepas jilbab." El tak henti-hentinya merenungi semua yang telah terbersit sebelum dia mengalami sakit.
Hingga sekarang sudah hampir 17 th, telah El jalani pengobatan untuk jantungnya.
"Pasti karena Allah sedang menyelamatkanku dengan cara-Nya, menguji dengan sakit, hingga aku terhindar dari perbuatan tercela yang bisa mencelakakan dunia akhirat. Aku bersyukur karena Allah menjaga auratku. Jilbab bukan lagi beban bagiku. Alhamdulillah. Luar biasa cara Allah menyelamatkan menyayangiku. Semoga setelah ini dan untuk seterusnya, hingga ajal menjemput, aku tetap istiqomah. Insya Allah. Bagaimanapun yang dikondisikan Allah padaku adalah yang terbaik yang Allah pilih."
BNA Wanadadi 06042013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar