Kamis, 11 April 2013

SEPERTI TERBINGKAI



oleh Erlin Erlina Soraya



"Mintalah ampun sama Allah, karena kautelah mengambil haknya, meski tak kausengaja." Ini sungguh-sungguh telah aku pikirkan beberapa hari ini. Ketika perasaan tak tenang dan kecemasan yang tidak bisa aku ceritakan pada siapapun juga.

Kesalahan siapa ketika aku dicintai? Sehingga harus menanggung yang tidak aku mengerti. Hatiku kian gemeresik, ketika satu demi satu lapisannya terbuka. Perlahan namun membuatku semakin seperti di atas panggung sandiwara yang tak pernah usai ceritanya. Tertahan tanpa bisa berbuat apa-apa.

Aku terus menahan silau lampunya, hingga terpicing mataku nyaris terpejam karena terlalu terangnya. Aku hanya butuh sebentuk tangan untuk menggapaiku, membimbingku, sehingga aku tak salah tangga demi menuruni panggugnya. Dan aku butuh suara, bukan sekedar gumam.

Bantu aku, mengangkat kepala, biar kumampu menatap keluar jendelaku, dengan tanpa harus memicingkan mata. Aku rindu taman yang dulu aku semaikan bunga-bunga. Entah kenapa kelopak mataku bergetar, setiap kali kupalingkan wajahku pada mimpi yang sama. Hampir tak sanggup kubuka mata.

Mungkin pagi ini belum bisa kusebut sebagai pagi terdingin, sepanjang musim hujan yang aku rasakan di tiap riuh tetesnya. Juga semalam... Hujan tak berhenti hingga pagi menjelang. Membuat aku tak lupa, kalau seraut wajahlah sebabnya. Aku seperti telah terbingkai pada sandiwaranya.

BNA Wanadadi 11042013
Ilustrasi: Aquaticforum

Tidak ada komentar:

Posting Komentar