Yang mendesak di pelupuk adalah karena kau, tak bersuara sejak lama. Dan setiap nyanyi adalah kau... setiap linang adalah kau gadisku. Seperti mengulang kesah, ketika mungil terbayang dari suarasuara.
Duhai cericit burung cantik, bening yang kulihat itu adalah yang berambut berurai mayang, bergelombang tercium angin yang berkesiur. Bergaun putih panjang duduk manis di ayunan, seolah melayang terbang.
Aku suka matamu yang bintang, ketika kubawa kau berlari mengejar matahari. Kau tahu, kita masih burung bersayap, kelak akan kita jumpa sang pemegang cakrawala. Kau, aku akan bisa lihat disana, terangnya semakin terang.
Dan kita bukan lagi sedang melewati lorong-lorong, namun berada di tempat kita berpapasan dengan orang-orang dan saling berbagi senyuman.
Ah, kau... aku ingat ketika kau Hyu An.
BNA Wanadadi 31012013
Ilustrasi: Aquaticforum
Tidak ada komentar:
Posting Komentar