Sabtu, 06 April 2013

Cerpen: IJINKAN IBU NAK...

oleh Erlin Erlina Soraya (Catatan) pada 16 Agustus 2012 pukul 1:58 

Tinggal beberapa suap lagi, namun Lestari tak sanggup menghabiskan makan sahurnya, dipandanginya Bangkit yang baru 9 bulan ketika itu, diambilnya lagi dari gendongan neneknya, dipeluk diciuminya berkali-kali.

"Jangan nakal ya nak, di rumah bersama nenek dan mba' Fina... Mereka yang akan menjagamu selama Ibu tidak di sisimu, juga ada Bude yang sangat menyayangimu, panggil dia Mak sebagai pengganti Ibumu." gemetar Lestari berbisik menahan runtuhnya airmata. Namun sia-sia.

Gilang hanya diam tidak mengerti. Hanya saja pelukannya lebih erat dari biasanya. seolah dia tahu, akan berpisah untuk waktu yang lama. Air mata Lestari deras mengalir seperti sungai dan tak terbendung lagi saat melihat Fina putri sulungnya yang masih pulas tertidur di kamarnya.

"Maaf, sayang, terpaksa Ibu tak pamit langsung denganmu, pasti kau takkan ijinkan Ibu pergi. Kelak kau pasti mengerti kenapa Ibu meninggalkanmu, baik-baiklah di rumah, tetaplah rajin sekolah ya. Jaga adikmu baik-baik." bisik Lestari di telinga Fina. Dengan sangat hati-hati diciuminya wajah putrinya sepenuh kasih sayang.

"Ya Allah... Kuserahkan kedua buah hatiku pada-Mu, jagalah mereka untukku, Engkau Maha Tahu kenapa aku harus pergi, lindungi pula aku saat di perjalanan dan saat tiba di tempat tujuanku, pertemukan aku dengan majikan yang penuh kasih sayang." Begitu doa yang Lestari panjatkan seusai sholat subuh.

Tak seorang pun tahu kepergian Lestari kecuali Ibunya dan kakak perempuan tertuanya. Tak ada yang mengiringi kepergiannya kecuali bekas aliran air mata yang mengering karena tersapu angin di pagi buta.

Tanpa suara, dengan kebulatan tekadnya Lestari menjatuhkan tubuhnya ke jok belakang motor kakaknya, yang akan mengantarnya ke sebuah agensi tenaga kerja.

BNA, Wanadadi 16/08/2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar