oleh Erlin Erlina Soraya (Catatan) pada 20 November 2012 pukul 19:16
Membaca matamu, adalah kristal puisi yang terekam hingga kedalaman hati
Buram temaram, terang benderang, kau memberiku pilihan
Aku mencoba menilas jejak, pada jalan panjang yang kau tunjukkan
Namun jalan-jalan itu masih tanpa nama
Sepertinya telah berjuta kali kucoba mencari, entah lagi
Ujung itu masih begitu jauh, bahkan seolah semakin menjauh
Kau bilang
: Itulah jalan pulang yang harus kau tempuh
Lantas malam seolah bentangkan jubahnya, kelam berpesta pora
Sehingga angin yang semilir menelusur mengajariku bernyanyi pada setiap sunyi
Kau lihatlah, awan yang enggan diam ketika bulan mencarinya
Ini hanya perasaan lain setelah kehilangan sebuah kisah
Ketika bulan mulai suka berbenah
BNA Wanadadi 20/11/2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar