Baris
awan putih tipis, menyelimuti pagi yang sejuk. Alicia berjalan di
antara sungai dan danau yang biasa dia dan Omar lalui, untuk datang ke
rumah neneknya. Udara dingin membuat kelu...
arnya kepulan kabut dari mulut Alicia, sehela dengan keluarnya napas.
Alicia memasukan kedua tangannya kedalam kedua saku jaketnya, demi untuk penawar dingin yang sangat menusuk tulang. Bibir Alicia sampai menggigil membiru menahan dingin pagi itu. Jika bukan karena Omar, Alicia lebih suka menarik lagi selimut lalu mendekap guling kesayangannya.
Dengan membawa sepucuk surat untuk Omar, setapak demi setapak jalanan penuh kenangan itu dilewatinya. Tampak begitu banyak burung-burung yang hinggap dan terbang dari dahan ke dahan, kicaunya sungguh sangat menghiburnya, setelah peristiwa yang sudah membingungkannya bersama Omar kemarin.
Arie sedang sibuk mencuci motornya di samping rumah, ketika Alicia datang. Arie menampakkan senyum, ia paham apa maksud kedatangan Alicia. Seperti biasa, Arie-lah yang selalu menyampaikan pesan Alicia pada Omar, baik lisan maupun dengan surat. Alicia langsung duduk percis di hadapan motor Arie.
"Aku tahu dari Mak, bahwa tadi dia lewat depan rumah. Apa tak sebaiknya ditunggu di sini saja, paling dia sedang kasih makan ikan-ikan di karambanya." Kata Arie, sepupu yang paling dekat, dan sangat memahaminya.
"Karamba, tempat itu, dulu aku sangat menyukainya. Membantu Omar kasih makan ikan-ikannya atau sekedar duduk-duduk di lincak, di pinggir karamba, melihat ikan-ikan berebut makanan. Tuhan, apa masih bisa aku mengulangnya?" Seketika Alicia kaget, tersadar dari lamunannya, ketika tiba-tiba saja tangan Arie menyentuh bahunya.
"Eh, iya... Aku cuma mau memastikan saja, kenapa dia bersikap seperti itu kemarin ketika datang kerumah." Jawab Alicia sambil menyerahkan sepucuk suratnya pada Arie.
"Apa ini surat keputusan final?"
"Apa maksudmu Rie?" Alicia memandang Arie meminta keterangan.
"O, Omar belum cerita apa sebenarnya yang terjadi dengannya, Alicia?" Alicia hanya bengong, tidak mengerti dengan keterangan Arie. "Ya sudah, nanti kusampaikan suratmu ini padanya, biar dia sendiri yang cerita padamu." Alicia mengangguk setuju.
"Aku pulang ya Rie, tolong jangan bilang aku datang ke sini." Sambil menepuk bahu Arie.
***
Dengan hati-hati, Omar menyobek sampul surat Alicia, yang diterimanya dari Arie, ketika melintas di depan rumah nenek Alicia tadi.
Debar jantungnya berpacu bergemuruh tak karuan, solah ada puluhan kuda berlarian di sekelilingnya. Getar rindu yang dia tahan mengiring jemarinya untuk segera menarik lembar-lembar cintanya. Omar sangat penasaran apa yang tertulis di sana. Meski Omar sudah bisa menduga kalau isi surat itu pasti sederet pertanyaan yang mungkin tak sanggup Omar menjawabnya.
Yang selalu ada dalam hatiku
Kak Omar...
Assalamu'alaikum warahmatullah.
Semoga kakak senantiasa sehat wal afiat dan dalam lindungan Allah swt. Aamiin.
Keadaan Alicia seperti yang kakak lihat kemarin, Alicia tidak mengerti kenapa kakak demikia bersikap.
Kakak berkunjung ke rumah dengan kondisi yang tidak biasa. Jujur Alicia bingung kak, dan tanpa penjelasan kakak berlalu begitu saja.
Dengan sabar Alicia menunggu kepulangan kakak, dari detik ke menit, dari hari ke minggu, hingga bulan ke tahun. Namun begitu saat yang di nanti tiba... kenapa kak?
Entah kenapa orang bisa mengatakan kalau cinta itu akan selalu indah, dan bahagia.
Kak, kepulanganmu sudah membawa kesedihan. Rindu yang telah tersimpan berubah jadi kepingan luka. Dulu, Alicia kau tinggalkan sudah dalam keadaan sakit. Alicia pasrah, namun kakak meyakinkan Alicia untuk terus bertahan. Tidak masalah betapapun parahnya sakit Alicia, bahkan andaikan bisa, akan kakak berikan jantung kakak pada Alicia.
Dokter pernah bilang bahwa sakit Alicia hanya bisa dikurangi keluhannya dengan tidak menghentikan pegobatan, namun untuk sembuh... adalah keajaiban.
Kak, Alicia menunggu penjelasan.
Wasalam, Alicia.
Omar sangat terenyuh membaca, dan tak segera melipat surat itu. Tak terasa bola matanya mengaca, mengingat yang diharuskan orang tua dan seluruh keluarganya, di sisi lain ia tak ingin menyakiti Alicia. Omar sangat menyayanginya. Kali ini Omar merasa sangat tidak berdaya untuk menghadapi Alicia, seandainya harus dengan langsung, mengatakan yang sejujurnya.
"Rabb, Engkau Maha Tahu pada apa yang nyata dan tersembunyi. Tak satupun makhluk yang bisa lari dari penglihatan-Mu. Engkau mengetahui berkacamuknya hatiku, sedang cinta-Mu, adalah satu-satunya harapanku.Janganlah kesulitan ini memperdayaku, hingga aku menjauh dari-Mu. Limpahkanlah rahmat dan curahkanlah hidayah-Mu, bukakanlah pintu solusi bagiku, duhai Allah Tuhanku!" Semakin deras air mata Omar.
Alicia memejamkan mata sebelum membaca surat balasan dari Omar yang dititipkan Arie, dua hari setelah Alicia memberikan suratnya. Dalam hatinya tiba tiba terbersit rasa takut ditinggalkan. Jemarinya bergetar hampir tak sanggup membuka amplop biru muda di tangannya. "Bismillah... beri aku kekuatan ya Allah!"
Aliciaku...
Assalamu'alaikum.
Semoga kondisi ini tak membuat semakin sedihnya hatimu Alicia, karena kakak tahu, Alicia sudah tidak seperti dulu.
Alicia yang Kakak lihat sekarang, tangguh, pantang mengeluh.
Engkau tahu bagaimana cinta kakak padamu, sehingga bisa bertahan sampai sekarang. Sayang kakak tak pernah habis, meski jarak sudah memisahkan kita sekian waktu.
Setiap hela napasku tak sedetikpun aku melupakanmu.
Namun apa dayaku, duhai kekasihku, Alicia. Kakak harus mampu menyampaikan ini padamu.
Waktu serasa berhenti ketika kakak harus menyetujui keputusan keluarga kakak.Terutama keputusan Ibu Kakak.
"Kakak harus memutuskan hubunga kita"
Sampai di situ, Alicia langsung melipat surat itu. Meski tak sampai selesai dibacanya, Alicia sudah faham dengan yang Omar maksudkan, dan dugaan Alicia selama ini tidak salah.
Entah Omar masih cinta atau tidak, surat Omar adalah merupakan keputusan bagi Alicia, dan Alicia harus bisa menerimanya. "Ini adalah keputusan yang terbaik dari Allah untukku", begitu dalam hatinya berbisik. Meski tak urung air mata tak kuasa dibendungnya.
BNA Wanadadi, 30/08/2012
arnya kepulan kabut dari mulut Alicia, sehela dengan keluarnya napas.
Alicia memasukan kedua tangannya kedalam kedua saku jaketnya, demi untuk penawar dingin yang sangat menusuk tulang. Bibir Alicia sampai menggigil membiru menahan dingin pagi itu. Jika bukan karena Omar, Alicia lebih suka menarik lagi selimut lalu mendekap guling kesayangannya.
Dengan membawa sepucuk surat untuk Omar, setapak demi setapak jalanan penuh kenangan itu dilewatinya. Tampak begitu banyak burung-burung yang hinggap dan terbang dari dahan ke dahan, kicaunya sungguh sangat menghiburnya, setelah peristiwa yang sudah membingungkannya bersama Omar kemarin.
Arie sedang sibuk mencuci motornya di samping rumah, ketika Alicia datang. Arie menampakkan senyum, ia paham apa maksud kedatangan Alicia. Seperti biasa, Arie-lah yang selalu menyampaikan pesan Alicia pada Omar, baik lisan maupun dengan surat. Alicia langsung duduk percis di hadapan motor Arie.
"Aku tahu dari Mak, bahwa tadi dia lewat depan rumah. Apa tak sebaiknya ditunggu di sini saja, paling dia sedang kasih makan ikan-ikan di karambanya." Kata Arie, sepupu yang paling dekat, dan sangat memahaminya.
"Karamba, tempat itu, dulu aku sangat menyukainya. Membantu Omar kasih makan ikan-ikannya atau sekedar duduk-duduk di lincak, di pinggir karamba, melihat ikan-ikan berebut makanan. Tuhan, apa masih bisa aku mengulangnya?" Seketika Alicia kaget, tersadar dari lamunannya, ketika tiba-tiba saja tangan Arie menyentuh bahunya.
"Eh, iya... Aku cuma mau memastikan saja, kenapa dia bersikap seperti itu kemarin ketika datang kerumah." Jawab Alicia sambil menyerahkan sepucuk suratnya pada Arie.
"Apa ini surat keputusan final?"
"Apa maksudmu Rie?" Alicia memandang Arie meminta keterangan.
"O, Omar belum cerita apa sebenarnya yang terjadi dengannya, Alicia?" Alicia hanya bengong, tidak mengerti dengan keterangan Arie. "Ya sudah, nanti kusampaikan suratmu ini padanya, biar dia sendiri yang cerita padamu." Alicia mengangguk setuju.
"Aku pulang ya Rie, tolong jangan bilang aku datang ke sini." Sambil menepuk bahu Arie.
***
Dengan hati-hati, Omar menyobek sampul surat Alicia, yang diterimanya dari Arie, ketika melintas di depan rumah nenek Alicia tadi.
Debar jantungnya berpacu bergemuruh tak karuan, solah ada puluhan kuda berlarian di sekelilingnya. Getar rindu yang dia tahan mengiring jemarinya untuk segera menarik lembar-lembar cintanya. Omar sangat penasaran apa yang tertulis di sana. Meski Omar sudah bisa menduga kalau isi surat itu pasti sederet pertanyaan yang mungkin tak sanggup Omar menjawabnya.
Yang selalu ada dalam hatiku
Kak Omar...
Assalamu'alaikum warahmatullah.
Semoga kakak senantiasa sehat wal afiat dan dalam lindungan Allah swt. Aamiin.
Keadaan Alicia seperti yang kakak lihat kemarin, Alicia tidak mengerti kenapa kakak demikia bersikap.
Kakak berkunjung ke rumah dengan kondisi yang tidak biasa. Jujur Alicia bingung kak, dan tanpa penjelasan kakak berlalu begitu saja.
Dengan sabar Alicia menunggu kepulangan kakak, dari detik ke menit, dari hari ke minggu, hingga bulan ke tahun. Namun begitu saat yang di nanti tiba... kenapa kak?
Entah kenapa orang bisa mengatakan kalau cinta itu akan selalu indah, dan bahagia.
Kak, kepulanganmu sudah membawa kesedihan. Rindu yang telah tersimpan berubah jadi kepingan luka. Dulu, Alicia kau tinggalkan sudah dalam keadaan sakit. Alicia pasrah, namun kakak meyakinkan Alicia untuk terus bertahan. Tidak masalah betapapun parahnya sakit Alicia, bahkan andaikan bisa, akan kakak berikan jantung kakak pada Alicia.
Dokter pernah bilang bahwa sakit Alicia hanya bisa dikurangi keluhannya dengan tidak menghentikan pegobatan, namun untuk sembuh... adalah keajaiban.
Kak, Alicia menunggu penjelasan.
Wasalam, Alicia.
Omar sangat terenyuh membaca, dan tak segera melipat surat itu. Tak terasa bola matanya mengaca, mengingat yang diharuskan orang tua dan seluruh keluarganya, di sisi lain ia tak ingin menyakiti Alicia. Omar sangat menyayanginya. Kali ini Omar merasa sangat tidak berdaya untuk menghadapi Alicia, seandainya harus dengan langsung, mengatakan yang sejujurnya.
"Rabb, Engkau Maha Tahu pada apa yang nyata dan tersembunyi. Tak satupun makhluk yang bisa lari dari penglihatan-Mu. Engkau mengetahui berkacamuknya hatiku, sedang cinta-Mu, adalah satu-satunya harapanku.Janganlah kesulitan ini memperdayaku, hingga aku menjauh dari-Mu. Limpahkanlah rahmat dan curahkanlah hidayah-Mu, bukakanlah pintu solusi bagiku, duhai Allah Tuhanku!" Semakin deras air mata Omar.
Alicia memejamkan mata sebelum membaca surat balasan dari Omar yang dititipkan Arie, dua hari setelah Alicia memberikan suratnya. Dalam hatinya tiba tiba terbersit rasa takut ditinggalkan. Jemarinya bergetar hampir tak sanggup membuka amplop biru muda di tangannya. "Bismillah... beri aku kekuatan ya Allah!"
Aliciaku...
Assalamu'alaikum.
Semoga kondisi ini tak membuat semakin sedihnya hatimu Alicia, karena kakak tahu, Alicia sudah tidak seperti dulu.
Alicia yang Kakak lihat sekarang, tangguh, pantang mengeluh.
Engkau tahu bagaimana cinta kakak padamu, sehingga bisa bertahan sampai sekarang. Sayang kakak tak pernah habis, meski jarak sudah memisahkan kita sekian waktu.
Setiap hela napasku tak sedetikpun aku melupakanmu.
Namun apa dayaku, duhai kekasihku, Alicia. Kakak harus mampu menyampaikan ini padamu.
Waktu serasa berhenti ketika kakak harus menyetujui keputusan keluarga kakak.Terutama keputusan Ibu Kakak.
"Kakak harus memutuskan hubunga kita"
Sampai di situ, Alicia langsung melipat surat itu. Meski tak sampai selesai dibacanya, Alicia sudah faham dengan yang Omar maksudkan, dan dugaan Alicia selama ini tidak salah.
Entah Omar masih cinta atau tidak, surat Omar adalah merupakan keputusan bagi Alicia, dan Alicia harus bisa menerimanya. "Ini adalah keputusan yang terbaik dari Allah untukku", begitu dalam hatinya berbisik. Meski tak urung air mata tak kuasa dibendungnya.
BNA Wanadadi, 30/08/2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar