Selasa, 02 April 2013

KAU MATAHARIKU

 
Aku, dan kudaku yang kunamai sembrani menghentikan langkah, sungguh lelah telah lama singgah, sejak kepergianku petang kemarin. Pohon besar di pinggir jalan ini cukup nyaman untuk kubersandar. Sejuk sepoinya angin membuatku lena.

Begitu kulelap, "dikau kusebut bintang, bintangku terlalu rendah hati, ah asal jangan rendah diri aja. Dikau bintang. Dikau puisi. Titik." Terngiang perkataan itu... Aku semakin ingin bertemu denganmu.

Bahkan sembraniku pun tahu, apalagi Tuhan yang maha mengetahui segala yang terbisik terbersit, adalah kau yang selalu membesarkan hatiku, setiap kali percaya diriku melesak.

Duhai kau yang di belahan bumi lain, adalah kau semburat cahaya matahari pagi. Yang membuat embun bening lebih suka memilihmu. Membelah langit, mengundang mendung dan menyenangkan bumi dengan hujan, membebaskannya dari kerontang.

Jantungku berdegup, berayun... Ah kau!


BNA Wanadadi 01042013
Ilustrasi: Aquaticforum

Tidak ada komentar:

Posting Komentar