Kau, telah siap, untuk menjadi layar yang dikembangkan, untuk kemudikan sebuah bahtera.
Sudah cukup lama aku percaya, bahkan sebelum kau datang, kalau hidup tak hanya berkisar pada kesedihan. Aku selalu percaya bahwa, kelak kesedihan itu akan ditenggelamkan oleh kebahagiaan, yang di depan sana telah Dia siapkan, dengan segala keindahannya. Dan aku telah bertekad untuk tidak lagi menyajikan lara dan kesedihanku pada dunia.
Telah sekian masa aku kerontang, lalu kau sirami aku dengan kesejukan jiwamu.
Tadinya segala hal telah aku lalui, dengan sangat mudah... Tanpa khawatir atau merasa takut. Namun tiba-tiba saja, seperti ada semacam tetabuhan, yang aku tidak nyaman mersakan riuhnya. Getarannya terlalu menyakitkan untuk kudengar. Tak hanya semalam aku memikirkan ini, tapi malam-malam yang telah lama lewat.
Seolah aku telah terperangkap, terpenjara di jeruji maya. Terjerat, hingga semua tersendat...
Akan kuteriakkan ini padamu, andai kubisa, tapi akau tak bisa. Gemuruh di dadaku terbungkam, entah harus apa ketika kubenci yang telah sudah. kau... kau... kau, mestinya tahu, sesungguhnya telah lama aku kehilangan, semakin kau, kau, kau, dekat semakin aku kehilangan. Andai kau bisa rasakan kepedihan yang telah lama aku simpan...
Dan...
Malam ini, aku mencoba mengingat, ketika saat ternyaman yang pernah aku rasakan. Segalanya memang belum berakhir, ini baru awalnya saja. Masih beribu kemungkinan terbentang di depan sana, harapan-harapan kebaikan, dia kunamai doa.
Aku menyesal ketika hampir terayu rasa putus asa.
Meski masih nun jauh, dan harus bersimbah peluh, harus aku tempuh. Akan kubasuh mukaku, agar bisa kulihat bentang jalan. Ia terjal dan berliku, atau bahkan harus kudaki bukit, biar curam namun bukan untuk kuhindari, biar kutemu samudera luas pun sekuat bisa kuseberangi. Aku tidak sendiri, Dia sang pemilik Arsy... Menemani.
Kapan lagi...
Meski tinggal sisa-sisa, masih tersimpan sepenggal bisa. Sudah terlalu sering aku tersentak, yang kemarin... biarlah dia tinggal pada kemarin. Tidak akan aku biarkan mataku mengembara pada ruang-ruang kosong. Biarkan dia menembus lapis demi lapis hingga terbentang pandang pada pesona yang menyejukkan.
Aku sedang berkisah... Entah sampai bila, aku terus berkisah.
BNA Wanadadi 31032013
Sudah cukup lama aku percaya, bahkan sebelum kau datang, kalau hidup tak hanya berkisar pada kesedihan. Aku selalu percaya bahwa, kelak kesedihan itu akan ditenggelamkan oleh kebahagiaan, yang di depan sana telah Dia siapkan, dengan segala keindahannya. Dan aku telah bertekad untuk tidak lagi menyajikan lara dan kesedihanku pada dunia.
Telah sekian masa aku kerontang, lalu kau sirami aku dengan kesejukan jiwamu.
Tadinya segala hal telah aku lalui, dengan sangat mudah... Tanpa khawatir atau merasa takut. Namun tiba-tiba saja, seperti ada semacam tetabuhan, yang aku tidak nyaman mersakan riuhnya. Getarannya terlalu menyakitkan untuk kudengar. Tak hanya semalam aku memikirkan ini, tapi malam-malam yang telah lama lewat.
Seolah aku telah terperangkap, terpenjara di jeruji maya. Terjerat, hingga semua tersendat...
Akan kuteriakkan ini padamu, andai kubisa, tapi akau tak bisa. Gemuruh di dadaku terbungkam, entah harus apa ketika kubenci yang telah sudah. kau... kau... kau, mestinya tahu, sesungguhnya telah lama aku kehilangan, semakin kau, kau, kau, dekat semakin aku kehilangan. Andai kau bisa rasakan kepedihan yang telah lama aku simpan...
Dan...
Malam ini, aku mencoba mengingat, ketika saat ternyaman yang pernah aku rasakan. Segalanya memang belum berakhir, ini baru awalnya saja. Masih beribu kemungkinan terbentang di depan sana, harapan-harapan kebaikan, dia kunamai doa.
Aku menyesal ketika hampir terayu rasa putus asa.
Meski masih nun jauh, dan harus bersimbah peluh, harus aku tempuh. Akan kubasuh mukaku, agar bisa kulihat bentang jalan. Ia terjal dan berliku, atau bahkan harus kudaki bukit, biar curam namun bukan untuk kuhindari, biar kutemu samudera luas pun sekuat bisa kuseberangi. Aku tidak sendiri, Dia sang pemilik Arsy... Menemani.
Kapan lagi...
Meski tinggal sisa-sisa, masih tersimpan sepenggal bisa. Sudah terlalu sering aku tersentak, yang kemarin... biarlah dia tinggal pada kemarin. Tidak akan aku biarkan mataku mengembara pada ruang-ruang kosong. Biarkan dia menembus lapis demi lapis hingga terbentang pandang pada pesona yang menyejukkan.
Aku sedang berkisah... Entah sampai bila, aku terus berkisah.
BNA Wanadadi 31032013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar