Selasa, 02 April 2013

Sekapur sirih untuk bukuku: Serangkum Sajak Erlin Erlina "KETIKA AKU HARUS BERTERIMA KASIH"


Bismillahirahmanirahim

Kehidupan yang ku alami ini berbeda dengan tahun-tahun yang telah lama lewat. Terpaan badai gelombang yang telah membuat kehidupanku terus merayap mengalami perubahan.

Ketika kuterhempas, serasa tak lagi mungkin bisa bangkit menata kembali yang telah nyaris hancur karena hal yang tak terbayangkan datang.

Enam belas tahun setelah itu, Allah telah menggerak membimbingku pada suatu perjalanan yang tak terkatakan indahnya.
Kubersyukur pada-Mu duhai Kau sang penggenggam kehidupan.

Pada Ibu, yang tak pernah mengering kasih sayangnya padaku, ketika masih dalam kandungan hingga lahir sampai ku tumbuh menjadi dewasa yang bahkan setelah itu aku semakin tak berdaya, cinta dan lasih sayang ibu bertambah besar saja.
Sungguh bola mataku mengaca saat kutulis ini duhai Ibu, dariku bayi hingga dewasa seperti sekarang ini, aku hanya menyusahkanmu, kesabaranmu tak bisa ditukar dengan apapun jua, terlebih cintamu, tak kan bisa terbalaskan.
Ketika ku bayi engkau suapi aku makan, setelah dewasapun masih disuapi. Ibu, aku teramat mencintaimu, ku mohon ampun serta maaf yang sebesr-besarnya karena tak lagi tahu bagaimana cara agar aku bisa membahagiakanmu.
Terima kasih yang tak terhingga pada mbah Dul Kholik, dengan izin Allah telah melahirkan ibu yang sangat baik, penuh sayang penuh cinta.

Bapak, ketabahan serta kerja kerasmu adalah tanda engkaupun sungguh sangat menyayangiku, tak sekalipun kudengar bentakkan apalagi marah padaku, dengan sangat sabar, telaten selalu memberiku cara bagaimana untuk bisa bersabar menghadapi hidup yang tidak mudah ini, engkau adalah penyemangatku untuk terus bisa berupaya maju pantang mundur, pantang menyerah pantang menyalahkan keadaan.

Uswatun Khasanah, adekku kau adalah lentera yang selalu siap di saat ku dalam gelap, Yani, kau seumpama riak air sungai yang tak pernah diam jika aku melakukan kesalah lalaian, dan kau Rina kasih sayang kami tercurah padamu duhai bungsu, ditambah lagi dengan kau persembahkan pada kami dua permata yang lucu-lucu Ajua Akhsan.

Gilang, Bagus, kamipun bangga, bahagia kalian ada bersama kami. Hakim, Dayat, Subhanallah aku sangat senang Allah mengirimkan kalian berdua untuk membahagiakan kedua adik perempuanku, terima kasih.

Aku bahagia terlahir di tengah-tengah keluarga besar Dul Cholik dan Abu seri, bersama pak de, bibi-bibi dan pa' lillku, tak akan pernah kulupa limpahan kasih sayang kalian, pada bulikku Sri meski dulu kau sering membuatku  nangis kesal tapi kau yang membuatku sering tersenyum geli sendiri kala ingat ketika itu, pa' Lik Upri... kau teman kecil yang membuatku jadi pemberani setelah terjadi tragedi, Mas Annas Alm aku tak akan lupa bagaimana kau menyayangiku saat itu.

Padamu sahabat sahabat terkasihku, Ibu Rachmaini Junnah, Catur Purwaningsih, di saat jalanku teras menggelap kalian berikan lentera dengan ketulusan, Lilis Ujianti..., ah kau selalu santai dan dan menenangkan disaat gemuruh melandaku, Dwi Kuntari teman kecilku yang sngat setia sabar mendengar tiap keluhku, senyummu mendamaikanku, Endang Setyaati Endang Yuni,tanpa pamrih kalian denganku dekat, berbagi cerita suka pun duka sangat menyenangkan, Erno aku tak akan lupa kau yang selalu membantuku sehingga aktifitasku di jaringan Facebook menjadi lancar, Djoko Nusantara, Nur Yulia, Grisna, Kukuh Adie, Chusen, Penny,Johar Arifin, Suryo Herbayu, Purwaningrum PA, Yunianto K, dan semua kawan-kawan SMA Negeri Bawang 1 yang tak bisa ku sebutkan satu-satu.

Terima kasih ya Allah, engkau pertemukan aku pula dengan kakak-kakak yang baik, Kak Johar Arifin dan Kak Endai, dari kalian aku mengenal indahnya puisi, pertemuan masih harapan, semoga Allah berikan kesempatan.

Maey Hyu, Danish, Mba' Elsye, Kenar Kiki, Mba Sri Winarsih, Sri Kusumawati, Rahma adelia, mba' Utami max, Dea Amora, Aryanti Rendah Hati, juga semua teman-teman Facebookku yang tak bisa ku sebutkan satu-satu, bersama kalian semua HARI-HARIKU JADI BEGITU INDAH. Terima kasih.

Hingga saya berjumpa dengan penulis, penyair dan pelukis senior AKI (Abdul Kohar Ibrahim) tatkala saya giat berkarya puisi di dunia maya (Internet) juga sangat aku syukuri, ketulusan tunjuk ajar yang beliau berikan tak terbilang, entah dengan apa aku harus membalasnya. Padamu AKI,...... ku kirimkan salam takzim, dan terima kasih yang tak terhingga, Allah yang akan membalas semua kebaikanmu.

Kemudian disusul oleh kehadiran perupa senior lainya dari Sanggar Bumi Tarung 1961 yaitu  Pak  Misbach Tamrin dan Pak Amrus Natalsya keduanya menjalin silaturahim menjalin persahabatan dengan saya di dunia maya (Internet). Alhamdulillah ternyata keduanya memiliki kepedulian untuk membantu saya  untuk meerbitkan buku " Serangkum Puisi Erlin Erlina Soraya". Tentu tak cukup dengan limpahan ucapan terima kasih tak terhingga saja... Semoga Allah membalas kebaikan beliau-beliau juga.

Jadi terhadap peran dan jerih payah ketiga para seniman senior yakni Abdul Kohar Ibrahim, Misbach Tamrin, dan Amrus Natalsya telah mewujudkan impian saya. Kepada beliau bertiga kembali saya ucapkan beribu terima kasih, hanya Allah yang dapat membalaskan kebaikannya. Alhamdulillahirabilalamin.



BANJARNEGARA, 10/06/2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar