tidurpun tak memberiku waktu
untuk melupakan
tiap detik kurasakan dalam genggaman-Mu
kuadukan setiap lelahku
kuhimpun helai-helai harapan
agar kelak jadi bukit yang bisa ku dan ia daki
kurangkum berkas cahaya
agar benderang yang kurindu datang
ini adalah malam kesekian setelah dia pergi
2)
sampai kapan
apakah kulit keriput hingga beruban rambut?
dan nona panggilanku berubah menjadi nenek
sampai kautak lagi mengenaliku
hanya bayang ketika itu
bermain kejar-kejaran sesekali petak umpet
saling mencari hingga berakhir di balik daun pintu
kau telah siapkan kelopak melati untukku
3)
malam itu aku, kau hanya diam
duduk di tepi bengawan
kenapa Tuhan mengirimkanmu untukku
seperti kau juga aku, sudah cukup lelah
di malam berikut
kau pun aku masih diam
4)
malam sudah seperti lorong
sempit hampir tak berudara
nafas kian sulit terhela
kesunyian yang kian senyap
membuatku tak lagi lelap
sinar bulan sepotong itupun terhalang
bahkan nyaris menghilang
kutunggu meski temaram
pesona senyum bulan semalam
5)
kumanjakan diri bersama senyap
kupeluk kelam
kurengkuh malam
kutunggu hingga sepertiga
biar kujumpa dengannya
kuadukan lara
kuceritakan luka
ketika Dia telah turun ke langit bumi
sayap-sayap utusan-Nya telah di bentangkan
siap turun ke bumi
meng amini
6)
sunyi kian meraja
suara semakin menipis
di bawah remang
kucari, hanya tertinggal bayang
dingin gerimis rinding malam
seolah menitahku tetap diam
merasakan perjalanan
seperti sungai yang tak berhulu
yang mengulum sekian lelahku
duhai Tuhanku
meski sekian banyak senyap
sekian banyak kelam
menghampiriku
aku tak hirau itu
pasti Kau tahu
yang aku rindu
(1:42)
BANJARNEGARA 10/08/2012
Ilustrasi: Aquaticforum
untuk melupakan
tiap detik kurasakan dalam genggaman-Mu
kuadukan setiap lelahku
kuhimpun helai-helai harapan
agar kelak jadi bukit yang bisa ku dan ia daki
kurangkum berkas cahaya
agar benderang yang kurindu datang
ini adalah malam kesekian setelah dia pergi
2)
sampai kapan
apakah kulit keriput hingga beruban rambut?
dan nona panggilanku berubah menjadi nenek
sampai kautak lagi mengenaliku
hanya bayang ketika itu
bermain kejar-kejaran sesekali petak umpet
saling mencari hingga berakhir di balik daun pintu
kau telah siapkan kelopak melati untukku
3)
malam itu aku, kau hanya diam
duduk di tepi bengawan
kenapa Tuhan mengirimkanmu untukku
seperti kau juga aku, sudah cukup lelah
di malam berikut
kau pun aku masih diam
4)
malam sudah seperti lorong
sempit hampir tak berudara
nafas kian sulit terhela
kesunyian yang kian senyap
membuatku tak lagi lelap
sinar bulan sepotong itupun terhalang
bahkan nyaris menghilang
kutunggu meski temaram
pesona senyum bulan semalam
5)
kumanjakan diri bersama senyap
kupeluk kelam
kurengkuh malam
kutunggu hingga sepertiga
biar kujumpa dengannya
kuadukan lara
kuceritakan luka
ketika Dia telah turun ke langit bumi
sayap-sayap utusan-Nya telah di bentangkan
siap turun ke bumi
meng amini
6)
sunyi kian meraja
suara semakin menipis
di bawah remang
kucari, hanya tertinggal bayang
dingin gerimis rinding malam
seolah menitahku tetap diam
merasakan perjalanan
seperti sungai yang tak berhulu
yang mengulum sekian lelahku
duhai Tuhanku
meski sekian banyak senyap
sekian banyak kelam
menghampiriku
aku tak hirau itu
pasti Kau tahu
yang aku rindu
(1:42)
BANJARNEGARA 10/08/2012
Ilustrasi: Aquaticforum
Tidak ada komentar:
Posting Komentar