Selasa, 09 April 2013

Serangkum Sajak: RINDU SEKETIKA


1)
hanya
gelembung air di permukaan
ketika tubuhmu mengaram

berlahan
kaumenghilang
kolam tak lagi beriak
kutahan sesak
tak lagi teriak

kutengadah
ku lihat langit
masih saja gagah
putihnya birunya
penyaksi terkikis asa
menyisa luka

(11:06

2)
menyanyi menangis
riang sayang
ibu kita kartini, seputih awan
kesayangan kenangan
ketika pagi buta di tepi jurang

kuharap burung memberiku kabar
tragedi itu tidaklah benar
hanya mimpi pagi yang buyar

bahkan jurang pun hanya menyisakan cerita
seketika

(11:23)

3)
aku penyaksi
ketika asa pergi
akulah penyaksi
ketika sunyi membuat mati
akulah penyaksi
ketika, ia
telah sungguh-sungguh pergi

(11:32)

4)
seketika kupatah
ketika tubuhmu tertanam
teriak tangis jerit panggilan
aku tahu kau dengar
namun tak sanggup memberiku sahutan

ketika bisik senyum kudengar
kusayang kau, kusayang
relakan relakan
kau tak sendirian

(11:42)

5)
andai tangan bisa kupanjangkan
tubuh kubesarkan
teriak kulenkingkan
mungkin kau masih ada sekarang
pasti akan kuserahkan punggung ibu sepanjang malam untukmu
pasti akan kubiarkan jika kaumau dekat wajah ibu
pasti akan kuturut yang kaumau
meski itu punggung ibu kesayanganku
akan kukembalikan ranting kering itu
bahkan jika kau suka milikku akan kuberikan semua padamu
asal... Kau ada lagi untukku
sayangku.... Kautahu
aku rindu

(11:56)

6)
sajakku
kenang
sajakku
hayalkan
rindu seketika
kakak tercinta

indah tak terkata
sesal tak terkira
namun kubisa apa
jika takdir merenggutnya

duhai Kau Penguasa Raya
ampunkan hamba
terlalunya aku merindukannya
aku rela
sungguh rela
namun izinkan
kukenang
sekejap saja

(12:04)

BANJARNEGARA 08/08/2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar