kau menunggu pagi ketika bulan masih sepotong di ufuk
embun mulai menggantung di pucuk pelepah
sebentar akan terlihat indah, sebentar sirna
matahari pagi tak pernah membiarkanya sendiri
kau seperti burung yang tak pernah puas dengan dahan
kicaunya kali ini terdengar ganjil, panjang dan sedih
sesaat hinggap kemudian berjingkrak mengepak, gelisah
dendang tembang yang ketika itu indah, kini telah berubah
aku harap kabar itu telah sampai padamu
sesungguhnya ada yang menghiasi jalanmu
ia adalah bekal kekuatan hatimu ketika kelu
dan ia adalah kehidupan kegembiraan, kebahagiaan jiwamu
ia akan jadi penyubur ketika hatimu kerontang
bahkan bulan bintang, bumi dan seluruh semesta raya tak pernah alpa
udara, awan, angin, hujan, kilat petir pun
langit yang tujuh, dan semua yang ada di dalamnya
bertasbih berdzikir pada-Nya
BNA Wanadadi 07/10/2012
Ilustrasi: Resim & Fotograf & eftelya
embun mulai menggantung di pucuk pelepah
sebentar akan terlihat indah, sebentar sirna
matahari pagi tak pernah membiarkanya sendiri
kau seperti burung yang tak pernah puas dengan dahan
kicaunya kali ini terdengar ganjil, panjang dan sedih
sesaat hinggap kemudian berjingkrak mengepak, gelisah
dendang tembang yang ketika itu indah, kini telah berubah
aku harap kabar itu telah sampai padamu
sesungguhnya ada yang menghiasi jalanmu
ia adalah bekal kekuatan hatimu ketika kelu
dan ia adalah kehidupan kegembiraan, kebahagiaan jiwamu
ia akan jadi penyubur ketika hatimu kerontang
bahkan bulan bintang, bumi dan seluruh semesta raya tak pernah alpa
udara, awan, angin, hujan, kilat petir pun
langit yang tujuh, dan semua yang ada di dalamnya
bertasbih berdzikir pada-Nya
BNA Wanadadi 07/10/2012
Ilustrasi: Resim & Fotograf & eftelya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar