Kehilangan
kenangan ketika kecil mungkin kehilangan yang termahal. Setidaknya
itulah yang sedang kuingat lagi sekarang. Sepenggal demi sepenggal
ingatanku ini bukan lagi seperti memori yang terputus.
Terbayang kembali kisah perjalanan dan tentang desa itu, sepeda kumbang bapak adalah tungganganku, bapak pun senang mendengar nyanyian kecil yang tak pernah henti mengiring keriangan perjalananku, semua tergambar jelas di ingatan, kiri kanan sepenjang jalan panorama sawah dan hutan... Menyejukkan!
Selain rasa bahagia berbunga tidak ada lagi, membayangkan begitu sampai di sana sudah sangat menggetarkan hati, senyum tersungging selalu, ah!
Terlintas saat yang paling membahagiakan adalah ketika aku harus menyeberangi sungai untuk bisa sampai ke rumah nenek. Aku harus melewati pasir kerikil batu kecil batu besar dan air sungai yang sejuk memanjakan kakiku... berbaris uceng si ikan-ikan kecil melawan arus menyambutku, basahlah aku, godaan air bening sungai begitu menyenangkan.
Berenang menyelam mecari batu bintang di kedalaman sungai itu selelu... Aku biasa berlomba mencarinya dengan teman-teman, lalu setelah itu menghimpun daun-daun kering dan menumbukkan dua batu bintang di atasnya sampai terpercik bunga api, siapa batunya bisa menyalakan daun dialah pemenangnya... Subhanallah bagaimana kubisa melupakan keindahan itu...?
Tebing jalan setapak yang mendaki berpagar pohon bambu dan pohon-pohon besar, gemerisik daun-daun kering ketika terinjak kaki begitu menggelitik telingaku, juga nyanyian ciricit burung-catik, teriring derit bambu yang tertiup sang bayu tercipta irama mendayu, bagai syimphoni ketika itu, sepoi angin begitu sampai di puncak tebing pondok nenek, kuhirup udara kubentang tangan tengadahkan wajah...
Kuteriak bisikan kegembiraan "Tuhan Allahu Akbar...! berilah untukku kemampuan untuk menerima & menikmati apapun yg Engkau berikan padaku."
Terbayang kemudian peluk cium nenek paman bibi yang selelu memanjakanku, Wati, Si sam, si As, Tingah kawan-kawan kecilku juga Si Sum satu-satunya sepupuku.
Keceriaan itu telah membangkitkan rindu, belum lagi, nasi jagung, ikan asin, sayur singkong, sambal terasi makanan favorit yang selalu nenek siapkan untukku... Lentreh klandingan lalap tambahan menambah selera makanku.
Begitu menyenangkan ketika suasana malam, yang tidak pernah mengelam sunyi, meski temaran lentera sudah cukup benderang karena sang bulan penuh pun menerangi. Semarak malam, sayang jika harus terlewatkan begitu saja. Benthik, dakonan, slawean dan masih banyak lagi permainan yang kumainkan bersama kawan-kawan kala malam.
Keramahan membuatku semakin betah tinggal, aku seperti ratu kecil yang disayang dilayani dipatuhi... Namun bukan itu yang menyenangkanku, tapi sorot mata rindu bahagia, tawa ceria nenek, bibi paman dan kawan-kawan kecilku begitu bertemu denganku, karena kedatanganku yang hanya tiap akhir pekan itu...
BNA, Wanadadi 12/08/2012
Ilustrasi: Aquaticforum
Terbayang kembali kisah perjalanan dan tentang desa itu, sepeda kumbang bapak adalah tungganganku, bapak pun senang mendengar nyanyian kecil yang tak pernah henti mengiring keriangan perjalananku, semua tergambar jelas di ingatan, kiri kanan sepenjang jalan panorama sawah dan hutan... Menyejukkan!
Selain rasa bahagia berbunga tidak ada lagi, membayangkan begitu sampai di sana sudah sangat menggetarkan hati, senyum tersungging selalu, ah!
Terlintas saat yang paling membahagiakan adalah ketika aku harus menyeberangi sungai untuk bisa sampai ke rumah nenek. Aku harus melewati pasir kerikil batu kecil batu besar dan air sungai yang sejuk memanjakan kakiku... berbaris uceng si ikan-ikan kecil melawan arus menyambutku, basahlah aku, godaan air bening sungai begitu menyenangkan.
Berenang menyelam mecari batu bintang di kedalaman sungai itu selelu... Aku biasa berlomba mencarinya dengan teman-teman, lalu setelah itu menghimpun daun-daun kering dan menumbukkan dua batu bintang di atasnya sampai terpercik bunga api, siapa batunya bisa menyalakan daun dialah pemenangnya... Subhanallah bagaimana kubisa melupakan keindahan itu...?
Tebing jalan setapak yang mendaki berpagar pohon bambu dan pohon-pohon besar, gemerisik daun-daun kering ketika terinjak kaki begitu menggelitik telingaku, juga nyanyian ciricit burung-catik, teriring derit bambu yang tertiup sang bayu tercipta irama mendayu, bagai syimphoni ketika itu, sepoi angin begitu sampai di puncak tebing pondok nenek, kuhirup udara kubentang tangan tengadahkan wajah...
Kuteriak bisikan kegembiraan "Tuhan Allahu Akbar...! berilah untukku kemampuan untuk menerima & menikmati apapun yg Engkau berikan padaku."
Terbayang kemudian peluk cium nenek paman bibi yang selelu memanjakanku, Wati, Si sam, si As, Tingah kawan-kawan kecilku juga Si Sum satu-satunya sepupuku.
Keceriaan itu telah membangkitkan rindu, belum lagi, nasi jagung, ikan asin, sayur singkong, sambal terasi makanan favorit yang selalu nenek siapkan untukku... Lentreh klandingan lalap tambahan menambah selera makanku.
Begitu menyenangkan ketika suasana malam, yang tidak pernah mengelam sunyi, meski temaran lentera sudah cukup benderang karena sang bulan penuh pun menerangi. Semarak malam, sayang jika harus terlewatkan begitu saja. Benthik, dakonan, slawean dan masih banyak lagi permainan yang kumainkan bersama kawan-kawan kala malam.
Keramahan membuatku semakin betah tinggal, aku seperti ratu kecil yang disayang dilayani dipatuhi... Namun bukan itu yang menyenangkanku, tapi sorot mata rindu bahagia, tawa ceria nenek, bibi paman dan kawan-kawan kecilku begitu bertemu denganku, karena kedatanganku yang hanya tiap akhir pekan itu...
BNA, Wanadadi 12/08/2012
Ilustrasi: Aquaticforum
Tidak ada komentar:
Posting Komentar