Selasa, 02 April 2013
Cerpen: TERIMA KASIH IBU (I)
Keindahan pagi ini kembali kunikmati, begitu terbangun dari tidur masih bernafas dengan lega, badan bergerak leluasa. Pekik nyaring kran air bersaing dengan gema adzan subuh, sungguh riuh telah membelah pagi. Di sebelah timur matahari masih sembunyi di balik punggung bukit, embun masih senang bergelayut pada ujung daun menunggu ciuman matahari yang akan membawanya pergi sebentar lagi.
Seperti biasa, sebelum ibu pergi mengajar, selalu berada di depan pawon*1) menanak nasi. Sejak semalam aku sangat merindukan ibuku, senyum ibu yang selalu memesona itu melupakanku pada getir luka yang telah bertahun-tahun lalu.
Sekilas ibu menoleh kearahku, dengan senyum yang biasa, lalu lambaian serta anggukan yang mengisyaratkan aku mendekat padanya, "di sini kau tidak akan kedinginan" begitu kata ibu. Dengan senang hati, aku mendekat dan memeluk pinggang ibu, menyandarkan tubuhku padanya, seperti biasa ibu tidak pernah keberatan, yang jelas bukan karena kecilnya tubuhku, tapi sayang ibu padaku.
"Kau sudah besar sekarang nak... Ibu senang Allah masih memberi ibu kesempatan melihatmu tumbuh, setelah peristiwa yang membuat ibu hampir berputus asa ketika kau kecil dulu. Hancur hati ibu melihatmu tak berdaya, nafas yang kau hela tak pernah lega. Tubuhmu kurus, demam hampir tidak pernah turun sehingga seringkali membuatmu step karena tingginya panasmu.
Sambil terus memelukku ibu terus berkisah tentangku. Ketika itu senja sudah beranjak pergi, malam mulai merangkak menuruni bumi. Tidak mau ibu menunda lagi untuk membawamu pada seorang mantri yang jarak dari rumah bisa setengah hari jika ditempuh dengan jalan kaki. Kendaraan ketika itu masih sangat langka bahkan hampir tidak ada, jalanan gelap tidak ada lampu sama sekali, kecuali senter yang dibawa ibu.
Ibu sangat panik melihat wajahmu yang sudah pasi, pucatnya sepias kapas. Berulang kali ibu meraba keningmu, padahal dalam gendongan pun sebenarnya ibu sudah merasakan betapa tingginya demammu ketika itu. Ibu sudah tak perduli lagi, jalanan gelap lagi terjal, naik turun bukit yang ibu lalui bukan lagi penghalang bagi ibu, untuk terus berupaya menyelamatkan hidupmu, putriku yang baru berusia tiga bulan.
Di tengah perjalanan, ibu bertemu dengan ibu-ibu yang menggendong anaknya juga, kecemasan di wajahnya sangat terlihat. Tak henti-henti ibu itu menciumi anaknya. Ibu semakin cemas begitu mendegar tangis ibu-ibu yang ibu temui di tengah jalan tadi, yang ternyata punya tujuan sama, membawa anaknya yang sakit ke mantri kesehatan. "Sabar ya nak, sebentar lagi kita sampai. Lihat ibu, mana matamu yang selalu kejora itu duhai putriku," kata-kata itu tak henti ibu bisikan di telingamu, karena ibu terus berharap jangan sampai kau tak sadarkan diri, apa lagi sampai step seperti biasanya.
Sesampainya di klinik, ibu memberi kesempatan pada ibu Fatma, sebut saja begitu, agar anaknya untuk di periksa lebih dulu oleh matri, karena menurut pandangan ibu anak dalam gendongan ibu Fatma terlihat lebih gawat, ia sudah tidak bergerak sama sekali.
Seketika terdengar lengking tangis, jerit miris dari ibu Fatma... Anaknya dinyatakan telah meninggal, Inalillahi waina ilaihi roji'un. Ketakutan ibu semakin menjadi, ketika mantri mengatakan sakitmu sama dengan anak ibu Fatma. Malaria akut.
Pasti karena mantri yang melihat kecemasan ibu, sehingga dia berkata, "Ibu masih belum terlambat membawa putri ibu ke sini, syukurlah ibu cepat, kalau tidak mungkin nasibnya bisa sama dengan putri ibu Fatma...," sambil tersenyum mantri itu menenangkan ibu. Lega perasaan ibu ketika melihat matamu yang dari tadi terpejam tiba-tiba saja terbuka, ibu terus perlihatkan senyum yang paling pesona untukmu.
Begitu ibu mengakhiri ceritanya pagi itu, genangan di kelopak mataku tak bisa aku bendung... Haru, sedih, sekaligus bahagia. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain peluk ciumku untuk ibu.
Mengingat bagaimana perjuangan ibu demi untuk hidupku, sejak aku bayi hingga aku dewasa kini. Bagaimana merasakan kebahagiaan ibu melihatku tumbuh setelah sakit-sakitan sejak menginjak usiaku tiga bulan hingga lima tahun.
Saat yang paling membahagiakan adalah ketika aku sudah mulai masuk sekolah, pesona bahagia membayangkan diri secantik Yoan Tanamal yang selalu keriting sebahu dan dikuncir dua dengan hiasan pita di rambutnya, seolah menjadi sihir untukku lebih semangat menyambut hari, bulan dan tahun baruku. Bertemu kawan-kawan baru seusiaku adalah karunia indah setelah aku di tinggal pergi kakak perempuanku. Adalah peristiwa tragis yang tidak pernah aku lupa.
(Bersambung)
Keterangan:
1) pawon= tungku
BNA Wanadadi 13022012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar