Selasa, 02 April 2013
Cerpen: KETIKA KOLAM MERENGGUT KAKAKKU
Pagi baru datang, tapi eyang kakung sudah siap menyambut mentari, duduk di kursi malas samping rumah. Lelaki sepuh yang biasa menjaga kami berdua ketika ibu dan ayah pergi mengajar. Dua gadis kecil kakak beradik yang usianya hanya terpaut satu tahun, bisa dikatakan sebaya, dan sangat akur, kami selalu barbagi mainan meski aku yang kecil lebih sering mau menang sendiri.
Melihat eyang ngantuk di kursinya adalah biasa, mungkin hangatnya mentari yang telah melenakannya, terbang ke alam lain dalam mimpinya. Kakakku sedikit mengguncang tubuh eyang, dengan maksud untuk pamit, tapi eyang tidak bergeming, bahkan dengkurnya semakin keras. Mungkin kakak kesal sampai mencubit kakinya... Dan akhirnya terbangun juga, eyang hanya tersenyum ketika melihat kami berdua di hadapannya, tapi mata eyang terpejam lagi.
Yang kuingat ketika itu, kakak menggandeng tanganku dan membawaku kejalan menuju belik*1). Sebelum sampai belik ada kolam yang sangat dalam yang harus dilewati. Sepanjang jalan menuju belik itu tidak kami temui seorang pun, sepi sekali. Mungkin waktu itu semua orang sedang ada di pasar, karena memang penduduk Tamansari, biasa disebut begitu, mayoritas adalah pedagang. Jujur ada perasaan takut sebenarnya, dan kakak tahu itu karena aku tidak sekali saja merengek memintanya kembali ke tempat di mana eyang teridur tadi, tapi kakak bersikeras untuk melanjutkan perjalananya. "Jangan takut, nanti eyang kalo terbangun biar nyariin kita, pasti seru melihat eyang kebingungan, nah nanti kita sembunyi di dekat kolam itu ya." Begitu yang kakakku bisikkan di telingaku.
Sesampainya di kolam, aku bertambah takut, sepinya semakin sepi, hanya kami berdua. Dua bocah kecil usia tiga dan empat tahun bermain di pematang kolam, berlarian kesana kemari di bibir kolam. Tiba-tiba kudengar seperti ada benda yang terjatuh kedalam kolam. Aku semakin ketakutan ketika kakakku menghilang, dan aku melihatnya lagi ia ada di dalam kolam, tangannya menggapai-gapai timbul tenggelan di permukaan. Seketika tubuhku menggigil, panas dingin hingga pandanganku kabur tidak karuan.
Aku berusaha menjulurkan tanganku, tapi tangan kecilku terlalu pendek untuk bisa mencapai tanganya. Aku menjerit sekeras yang aku bisa, tapi hanya gaung, pantulan suaraku yang kembali kudengar, sedih, sakit, melihat matanya yang memohon ketika tubuhnya timbul ke permukaan, matanya yang bercampur air mata dan air kematian, aku semakin histeris ketika melihat mulutnya megap-megap berusaha memanggil namaku. Jeritanku tak seorang pun mendengar, aku hanya bisa menangis melihat kakak yang semakin menyerah.
Sampai akhirnya aku tak melihat kakak lagi, ia lenyap ditelan kolam. Sepi smakin mengiris, hatiku sakit tidak ada yang bisa aku lakukan. Aku terus terduduk lemas di bibir kolam, menunggu keajaiban. Sontak hatiku melonjak girang ketika tiba-tiba kakak muncul ke permukaan, kulihat baju baru pink yang kembaran denganku masih ia kenakan, kakak mengapung! Tapi kenapa diam saja, tertelungkup seperti ketika dia tertidur menyembunyikan wajahnya ke bantal? Kenapa kakak sudah tidak bergerak lagi? "Kak... ketepilah, lihat aku masih di sini, kenapa kakak diam saja? Kasihan eyang, pasti dia kebingungan mencari kita." Suaraku yang kian melemah pun pasti tidak di dengarnya.
"Ada anak tenggelam...! Ada anak tenggelam...! Ada anak tenggelam...!," tiba-tiba aku mendengar teriakan orang sambil memukul-mukul brokoh*2) keras-keras. Seketika itu juga orang berdatangan dan berkerumun di kolam. Lalu beberapa orang terjun menolong kakak. Namun kakak sudah tidak bergerak sama sekali, matanya yang biasa menatap sayang padaku sudah rapat terpejam, bibirnya yang selalu tersungging, tersenyum mempesona, berubah pucat terdiam terkatup rapat tertutup, tangannya yang selalu lembut menggandeng memelukku, terkulai lemas tak berdaya.
Orang-orang membawa kakak kerumah ke tempat eyang kami tinggal. Aku kebingungan ketika orang-orang menanyaiku, aku tidak tahu, aku hanya terdiam ketika orang-orang bosan lalu akhirnya meninggalkanku. Tiba-tiba saja ada yang mengangkatku dari belakang kemudian memelukku erat-erat. Begitu kumenoleh ternyata ibu dan bapakku, sambil menangis mereka terus memelukku.
Aku melihat orang-orang bergantian menyiramkan air ke tubuh kakak, dalam benak aku bertanya "kenapa kakak madi sambil tiduran? tidak seperti biasanya, dia selalu mengajakku mandi bersama." Sampai akhirnya aku melihat kakak di bungkus dengan kain kafan. Aku semakin tidak mengerti ketika bapak menggendongku dan ikut kesebuah tempat di mana lobang telah disiapkan dan kakak dimasukan kesana lalu di timbun dengan tanah-tanah.
Aku hanya terpaku menyaksikan itu, air mataku sudah mengering, suaraku juga habis. Lalu tiba-tiba saja ada yang mendekatiku, memandangiku dengan pandangan yang menyalahkan, dia pegang tanganku, "anak nakal...!"
(Bersambung)
Keterangan: belik*1) = tempat pemandian
brokoh*2) = wadah ikan dari anyaman bambu
BNA wanadadi 13022012
Pagi baru datang, tapi eyang kakung sudah siap menyambut mentari, duduk di kursi malas samping rumah. Lelaki sepuh yang biasa menjaga kami berdua ketika ibu dan ayah pergi mengajar. Dua gadis kecil kakak beradik yang usianya hanya terpaut satu tahun, bisa dikatakan sebaya, dan sangat akur, kami selalu barbagi mainan meski aku yang kecil lebih sering mau menang sendiri.
Melihat eyang ngantuk di kursinya adalah biasa, mungkin hangatnya mentari yang telah melenakannya, terbang ke alam lain dalam mimpinya. Kakakku sedikit mengguncang tubuh eyang, dengan maksud untuk pamit, tapi eyang tidak bergeming, bahkan dengkurnya semakin keras. Mungkin kakak kesal sampai mencubit kakinya... Dan akhirnya terbangun juga, eyang hanya tersenyum ketika melihat kami berdua di hadapannya, tapi mata eyang terpejam lagi.
Yang kuingat ketika itu, kakak menggandeng tanganku dan membawaku kejalan menuju belik*1). Sebelum sampai belik ada kolam yang sangat dalam yang harus dilewati. Sepanjang jalan menuju belik itu tidak kami temui seorang pun, sepi sekali. Mungkin waktu itu semua orang sedang ada di pasar, karena memang penduduk Tamansari, biasa disebut begitu, mayoritas adalah pedagang. Jujur ada perasaan takut sebenarnya, dan kakak tahu itu karena aku tidak sekali saja merengek memintanya kembali ke tempat di mana eyang teridur tadi, tapi kakak bersikeras untuk melanjutkan perjalananya. "Jangan takut, nanti eyang kalo terbangun biar nyariin kita, pasti seru melihat eyang kebingungan, nah nanti kita sembunyi di dekat kolam itu ya." Begitu yang kakakku bisikkan di telingaku.
Sesampainya di kolam, aku bertambah takut, sepinya semakin sepi, hanya kami berdua. Dua bocah kecil usia tiga dan empat tahun bermain di pematang kolam, berlarian kesana kemari di bibir kolam. Tiba-tiba kudengar seperti ada benda yang terjatuh kedalam kolam. Aku semakin ketakutan ketika kakakku menghilang, dan aku melihatnya lagi ia ada di dalam kolam, tangannya menggapai-gapai timbul tenggelan di permukaan. Seketika tubuhku menggigil, panas dingin hingga pandanganku kabur tidak karuan.
Aku berusaha menjulurkan tanganku, tapi tangan kecilku terlalu pendek untuk bisa mencapai tanganya. Aku menjerit sekeras yang aku bisa, tapi hanya gaung, pantulan suaraku yang kembali kudengar, sedih, sakit, melihat matanya yang memohon ketika tubuhnya timbul ke permukaan, matanya yang bercampur air mata dan air kematian, aku semakin histeris ketika melihat mulutnya megap-megap berusaha memanggil namaku. Jeritanku tak seorang pun mendengar, aku hanya bisa menangis melihat kakak yang semakin menyerah.
Sampai akhirnya aku tak melihat kakak lagi, ia lenyap ditelan kolam. Sepi smakin mengiris, hatiku sakit tidak ada yang bisa aku lakukan. Aku terus terduduk lemas di bibir kolam, menunggu keajaiban. Sontak hatiku melonjak girang ketika tiba-tiba kakak muncul ke permukaan, kulihat baju baru pink yang kembaran denganku masih ia kenakan, kakak mengapung! Tapi kenapa diam saja, tertelungkup seperti ketika dia tertidur menyembunyikan wajahnya ke bantal? Kenapa kakak sudah tidak bergerak lagi? "Kak... ketepilah, lihat aku masih di sini, kenapa kakak diam saja? Kasihan eyang, pasti dia kebingungan mencari kita." Suaraku yang kian melemah pun pasti tidak di dengarnya.
"Ada anak tenggelam...! Ada anak tenggelam...! Ada anak tenggelam...!," tiba-tiba aku mendengar teriakan orang sambil memukul-mukul brokoh*2) keras-keras. Seketika itu juga orang berdatangan dan berkerumun di kolam. Lalu beberapa orang terjun menolong kakak. Namun kakak sudah tidak bergerak sama sekali, matanya yang biasa menatap sayang padaku sudah rapat terpejam, bibirnya yang selalu tersungging, tersenyum mempesona, berubah pucat terdiam terkatup rapat tertutup, tangannya yang selalu lembut menggandeng memelukku, terkulai lemas tak berdaya.
Orang-orang membawa kakak kerumah ke tempat eyang kami tinggal. Aku kebingungan ketika orang-orang menanyaiku, aku tidak tahu, aku hanya terdiam ketika orang-orang bosan lalu akhirnya meninggalkanku. Tiba-tiba saja ada yang mengangkatku dari belakang kemudian memelukku erat-erat. Begitu kumenoleh ternyata ibu dan bapakku, sambil menangis mereka terus memelukku.
Aku melihat orang-orang bergantian menyiramkan air ke tubuh kakak, dalam benak aku bertanya "kenapa kakak madi sambil tiduran? tidak seperti biasanya, dia selalu mengajakku mandi bersama." Sampai akhirnya aku melihat kakak di bungkus dengan kain kafan. Aku semakin tidak mengerti ketika bapak menggendongku dan ikut kesebuah tempat di mana lobang telah disiapkan dan kakak dimasukan kesana lalu di timbun dengan tanah-tanah.
Aku hanya terpaku menyaksikan itu, air mataku sudah mengering, suaraku juga habis. Lalu tiba-tiba saja ada yang mendekatiku, memandangiku dengan pandangan yang menyalahkan, dia pegang tanganku, "anak nakal...!"
(Bersambung)
Keterangan: belik*1) = tempat pemandian
brokoh*2) = wadah ikan dari anyaman bambu
BNA wanadadi 13022012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar