Kamis, 02 Mei 2013

AKU PERNAH MERASA

AKU PERNAH MERASA
oleh admin Erlin Erlina Soraya


Ada yang tak kumengerti ketika kumenemui begitu banyak mimpi. Belasan tahun lalu, ada yang terjadi, meski aku percaya, kalau hidup itu bisa berubah seketika oleh suatu sebab yang sama sekali tidak diduga, entah kenapa aku masih kaget juga ketika aku mengalaminya. Hal yang paling berat bagiku adalah, ketika kenyataan itu seperti pukulan godam yang berulang, sehingga aku memilih untuk diam. Entah diamku menerima kenyataan atau diam karena merasa telah putus asa, aku sudah tak lagi bisa membedakannya.

Ketika aku ditempatkan pada tempat yang orang bilang "seperti telur di ujung tanduk." Aku sudah merasa telah benar-benar kalah, menerima keadaan dengan terpaksa sebab seolah sudah tak mungkin bisa diubah, dan aku sudah terlanjur menamainya sebagai takdir. Sedih itu menyiksa ternyata, dan selama belasan tahun aku terperangkap, terpenjara, tanpa bisa melakukan apa-apa.

Setiap malam, aku hanya terus berharap, pagi segeralah datang, karena sungguh aku ketakutan pada gelap dan senyapnya. Takut akan segera datang laki-laki berjubah putih, takut pada cerita Ayah tentang jemputan yang tak seorang pun bisa lari darinya. Aku takut kesakitan yang tak tertangguhkan ketika saat itu datang... "Tuhan, masih terlalu banyak yang harus aku lakukan, beri aku kesempatan untuk membereskan."

Sejak saat itu, seakan aku tak pernah menemui keindahan, apalagi harapan untuk hidup. Tidak ada tujuan yang aku pikir bisa capai, semangatku bena-benar telah padam, seperti lentera yang sudah meredup tertimpa hujan. Nyaris mati. Entah siapa yang bisa kuanggap pantas untuk kutunjukkan kelemahanku untuk bisa kujadikan kekuatan, untuk menyimpan kepedihanku.

Setelah sekian masa aku berputar-putar di tempat yang sama, sehingga harapan-harapan itu satu persatu menjadi kabur, aku semakin takut kalau semakin lama ia akan menjadi sirna. Dan yang lebih aku takutkan lagi adalah, timbulnya rasa benci, pada keadaan, pada yang Dia kondisikan sampai pada membenci nasib dan yang telah Dia takdirkan. Aku benar-benar takut.

Sekarang, yang aku rasakan adalah malu saat aku mengingat ketika itu. Inilah seperangkat dari aku, yang aku harus bisa menerimanya. Aku harus bisa melangkah, meninggalkan (aku) yang dulu. Aku harus memulainya dengan rasa malu pada-Nya, Sang Pemilik seperangkatku.



BNA Wnd, 02052013
Ilustrasi: Aquaticforum - Edited by Farrah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar