DUHAI KAU
oleh Erlin Erlina Soraya
Doa-doamu, bagai anak panah yang meluncur dari busur yang tak luput dari pengawasan-Nya. Bagai lesatan cahaya bintang di langit yang tak lepas dari penglihatan-Nya. Bagai petir yang menggelegar di antara hujan yang selalu didengar-Nya.
Kau selalu menyadari ketika dosa-dosa telah tertampung dalam tabung yang menghalangi, antara kau dan nur-Nya. Kau tahu saat harus bersegera kembali pada petunjuk-Nya. Kau telah tahu ke mana jerit permohonan, meminta pengampunan. Karena kau memiliki Tuhan.
Ketika ketidakberdayaan melandamu, mengamuk bagai gelombang lautan, bagai angin yang membadai... Hanya pada-Nya kau mengaku tak berdaya. Betapa kau tak meragukan kemampuan-Nya, kemahakayaan-Nya. Kau tak pernah hentikan lidahmu untuk melafadzkan permintaan pertolongan pada-Nya.
Kau tak pernah takut, pintu-pintu yang kauketuk akan terus tertutup, karena kau yakin, yang kauketuk adalah pintu-pintu milik-Nya. Betapapun jauh perjalanan yang kautempuh, demi pintu-pintu itu, kau tak pernah mengeluh. Meski begitu peluh. Kau tak hentikan mencari tali-tali-Nya, agar kau bisa berpegang dan tak mudah tumbang.
BNA wanadadi 06052013
Edited by Myst - Ilustrasi: Internet
oleh Erlin Erlina Soraya
Doa-doamu, bagai anak panah yang meluncur dari busur yang tak luput dari pengawasan-Nya. Bagai lesatan cahaya bintang di langit yang tak lepas dari penglihatan-Nya. Bagai petir yang menggelegar di antara hujan yang selalu didengar-Nya.
Kau selalu menyadari ketika dosa-dosa telah tertampung dalam tabung yang menghalangi, antara kau dan nur-Nya. Kau tahu saat harus bersegera kembali pada petunjuk-Nya. Kau telah tahu ke mana jerit permohonan, meminta pengampunan. Karena kau memiliki Tuhan.
Ketika ketidakberdayaan melandamu, mengamuk bagai gelombang lautan, bagai angin yang membadai... Hanya pada-Nya kau mengaku tak berdaya. Betapa kau tak meragukan kemampuan-Nya, kemahakayaan-Nya. Kau tak pernah hentikan lidahmu untuk melafadzkan permintaan pertolongan pada-Nya.
Kau tak pernah takut, pintu-pintu yang kauketuk akan terus tertutup, karena kau yakin, yang kauketuk adalah pintu-pintu milik-Nya. Betapapun jauh perjalanan yang kautempuh, demi pintu-pintu itu, kau tak pernah mengeluh. Meski begitu peluh. Kau tak hentikan mencari tali-tali-Nya, agar kau bisa berpegang dan tak mudah tumbang.
BNA wanadadi 06052013
Edited by Myst - Ilustrasi: Internet

Tidak ada komentar:
Posting Komentar