Senin, 29 Juli 2013

OPINI DUNIA AKSARA : MENGHADAPI ANAK YANG DEPRESI


OPINI DUNIA AKSARA
: MENGHADAPI ANAK YANG DEPRESI
oleh Erlin Erlna Soraya

"Pada awalnya, putraku terlihat sedih, murung, karena dia telah tinggal kelas. Sejak saat itu, mengunci diri di kamar menjadi kesehariannya, tidak mau bicara, tidak mau makan, menolak masuk sekolah. Badannya semakin kurus."

Perasaan dan suasan hati ternyata tidak hanya dimiliki oleh orang dewasa, anak-anak pun sama, kadang ada perasaan bahagia, di lain hari bisa tiba-tiba saja di landa kesedihan, bahkan tangisan frustasi sebab persoalan yang dia pikir sangat memalukan.

Suasana hati yang terjadi adalah suatu hal yang normal, juga pada anank-anak, sebaiknya kita jangan menganggap ini sepele, sebab suasana menyedihkan depresi pada anak sangat berpengaruh untuk masa depannya jika kita membiarkannya tanpa ada solusi bagaimana mengeluarkannya dari suasan hati yang membuatnya tidak nyaman.

Seperti yang saya hadapi, suasan hati menyedihkan yang dihadapi putra saya, sebab dari hasil situasi yang sangat mengecewakan baginya, tinggal kelas adalah termasuk penyebab frustrasi yang lahir dari lingkungan sosial. "Sebuah keinginan yang tidak terpenuhi."

Kenapa saya mengatakan putra saya mengalami deperesi, sebab gejala yang nampak seperti; pola makan yang semakin memburuk, sangat manja, sulit tidur, tidak mau lagi berhubungan dengan kawan sebayanya, lebih suka mengunci diri di kamar dan marah jika diganggu.

Seperti yang disarankan kawan saya, untuk menghadapi anak yang demikian, perlu cara yang halus, bukan mengkritik, atau memarahinya sebab kesalahan yang telah dia lakukan "tinggal kelas." tidak mutlak kesalahannya, bisa jadi sebab kita sebagai orang tua yang kurang memperhatikannya. Bahkan jika kritik ini kita lakukan, akan memperburuk susana hatinya dan membuatnya smakin menyalahkan dirinya sendiri.

Bertanya adalah cara terbaik untuk menenangkannya, apa yang sudah mengganggu perasaannya. Dan bersikap optimis ketika anak sudah seperti diambang putus asa, akan menolongnya. Tidak apa dengan mengiming-imingkan hadiah sebagi imbalan jika dia mau berubah. Memberinya pengertian kalau yang dialaminya itu bukan hal yang baru terjadi, ada banyak orang yang telah mengalaminya juga.

Jangan bosan memberinya semangat, untuk merubah sikap yang menyebabkan timbulnya masalah. Dan hal yang lebih penting adalah jangan memperlihatkan sikap menyalahkannya.
Biarkan dia melupakan yang sudah membuatnya terluka dengan membimbingnya, mengarahkannya agar yang telah sudah itu tidak terulang.

Ciptakan suasana yang menyenangkan, sehingga semangat belajarnya kembali. Namun bukan memanjakan, atau mengekangnya. "Jangan berdiri lebih tinggi darinya, tapi berusahalah untuk bisa sejajar dengannya." Agar anak bisa menganggap kita sebagai kawan yang bisa diajaknya bicara.

BNA Wanadadi, 20072013
[Follow us on Twitter @duniaaksara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar