Jumat, 16 Agustus 2013
MESKI MASIH SEANDAINYA BAGIKU
oleh Erlin Erlina Soraya
Lelah mulai hinggap, ragaku berada di antara serpih perih. Petualangku sejauh pergimu, pernahkah kau tahu? Letihku disergap sunyi tak sesekali, namun setiap singgah, setiap menepi, ia masih selalu menyusup di tiap celahnya dinding hati.
Aura adamu masih kulihat di antara lesat bintang semalam, sejak bulan putih dua enam kautinggalkan. Seperti sudut cakrawala, aku masih mengingatmu. Harum senyummu yang tertinggal masih tercium...menyimpan rasa yang takkan terlupa.
Perlahan kuhirup napas, membebaskanku dari terasing serupa fana, kupu-kupu yang kemarin melandaku telah mengambil senyum. Aku hanya bisa bersama hening yang setia. Selamanya.
Seperti terperangkap, tertahan pada raga, yang entah di mana. Aku mengering, tanpa sejuknya embun di pucuk kuntum. Terus kumenunggu hingga ufuk menyingsing. Menanti senyum yang melati, kembali.
Kucoba bertahan, kubiarkan mataku menyentuh cahaya, menyibak pekat, yang meluntur dalam kilau kuning keemasan. Takkan kumenghilang menelusup kelubang hitam. Kulihat masih terbias terang, dan kelopakku sudah tak lagi takut berkedip, menumpahkan yang telah lama menggenang.
Meski nun jauh, bahkan mendaki...akan aku tempuh. Kupeluk tebingnya dengan hatiku, kudengarkan ceritanya tentang gerimis hingga hujan, tentang sepoi angin hingga badai, juga tentang tetes-tetes harapan yang dibawa embun pagi.
Kau, yang di relung terdalamku, karena Kau aku akan menemukannya. Adalah persuaan yang Kau janjikan, meski masih dalam seandainya bagiku, namun bayang itu telah menari-nari di pelupukku...dan tentang pelangi setelah badai, aku masih percaya itu...
BNA Wanadadi 16082013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar