BERTAHANLAH UNTUKKU, PEREMPUANKU
Oleh Diezt Pramudya
Pesanmu membuyarkan lamunanku
merobek tirai kabut
yang masih pekat menyelimutiku
seketika sukmaku tersentak
mengalir air mataku laksana rinai hujan sore tadi
ketika kudengar suaramu
yang lemah dan tersengal
menusuk relung hatiku
hingga hanya isakku
yang mampu menjawabmu
inikah jawaban gelisahku?
Hatiku dan hatimu
jiwaku dan jiwamu
batinku dan batinmu
terikat erat seiring berjalannya waktu
apa yang kaurasa
aku juga rasakan
dan lirihmu di ujung pagiku
begitu menyayat hatiku
apa kau tahu,
seperti aku menguliti tubuhku sendiri
sakit, perih..
dan sukmaku pun merintih
Wahai engkau
perempuan yang selalu
berdiri di tepian setiap hati bersamaku
yang menggenggam kabut bersamaku
tegarlah untukku
kuatlah demi hati
yang menunggu sentuhan kasihmu
Sayangku, kekasih hatiku
engkaulah lentera bagi jiwaku
yang tak pernah padam
meski badai bertiup kencang
perempuanku,
engkaulah semangat yang menyala
di rumah batinku
jangan redup sinarmu, bintangku
karena aku akan kehilangan arah
Wahai engkau,
perempuan yang selalu berkidung bersamaku
ketika malam menyelesaikan hari
istirahatlah sayangku,
aku akan menyelimutimu
dengan doaku
karena esok hari
kita akan menari bersama
di tengah deru badai
berkidung bersama
ketika senja menyentuh cakrawala
dan menguntai aksara
dalam sajak tak bernada
yang lalu kita warnai
agar menjadi tembang padang pembangkit sukma
Sayangku,
bertahanlah...
aku tahu engkau bisa
meski rapuh ragamu
namun jiwa dan semangatmu sangat kuat
tak pernah padam oleh deras rinai hujan
ataupun luruh oleh pekatnya malam
siapakah perempuan
yang menyangga ketegaran hatiku?
kau!
bisikan lembut yang meredakan sukmaku yang meradang pun
itu kau!
Wahai perempuan
yang sangat berarti buatku
yang menjadi makna suka dan dukaku
tegarlah, kuatlah
dan bertahanlah
untukku...
*Diezt Pramudya,
Djogja, 04092013
(Erlina Soraya: get well soon, honey. Tetaplah menjadi lentera bagi jiwaku. I love you so much, my dearest)
Editor: Ra
Ilustrasi: Internet
Follow us on Twitter @duniaaksara
Oleh Diezt Pramudya
Pesanmu membuyarkan lamunanku
merobek tirai kabut
yang masih pekat menyelimutiku
seketika sukmaku tersentak
mengalir air mataku laksana rinai hujan sore tadi
ketika kudengar suaramu
yang lemah dan tersengal
menusuk relung hatiku
hingga hanya isakku
yang mampu menjawabmu
inikah jawaban gelisahku?
Hatiku dan hatimu
jiwaku dan jiwamu
batinku dan batinmu
terikat erat seiring berjalannya waktu
apa yang kaurasa
aku juga rasakan
dan lirihmu di ujung pagiku
begitu menyayat hatiku
apa kau tahu,
seperti aku menguliti tubuhku sendiri
sakit, perih..
dan sukmaku pun merintih
Wahai engkau
perempuan yang selalu
berdiri di tepian setiap hati bersamaku
yang menggenggam kabut bersamaku
tegarlah untukku
kuatlah demi hati
yang menunggu sentuhan kasihmu
Sayangku, kekasih hatiku
engkaulah lentera bagi jiwaku
yang tak pernah padam
meski badai bertiup kencang
perempuanku,
engkaulah semangat yang menyala
di rumah batinku
jangan redup sinarmu, bintangku
karena aku akan kehilangan arah
Wahai engkau,
perempuan yang selalu berkidung bersamaku
ketika malam menyelesaikan hari
istirahatlah sayangku,
aku akan menyelimutimu
dengan doaku
karena esok hari
kita akan menari bersama
di tengah deru badai
berkidung bersama
ketika senja menyentuh cakrawala
dan menguntai aksara
dalam sajak tak bernada
yang lalu kita warnai
agar menjadi tembang padang pembangkit sukma
Sayangku,
bertahanlah...
aku tahu engkau bisa
meski rapuh ragamu
namun jiwa dan semangatmu sangat kuat
tak pernah padam oleh deras rinai hujan
ataupun luruh oleh pekatnya malam
siapakah perempuan
yang menyangga ketegaran hatiku?
kau!
bisikan lembut yang meredakan sukmaku yang meradang pun
itu kau!
Wahai perempuan
yang sangat berarti buatku
yang menjadi makna suka dan dukaku
tegarlah, kuatlah
dan bertahanlah
untukku...
*Diezt Pramudya,
Djogja, 04092013
(Erlina Soraya: get well soon, honey. Tetaplah menjadi lentera bagi jiwaku. I love you so much, my dearest)
Editor: Ra
Ilustrasi: Internet
Tidak ada komentar:
Posting Komentar