IBU... TETAPLAH BERSAMAKU
oleh Erlin Erlina Soraya
Kain merah menjelma pintu, namun kenapa yang kulihat dinding rapat
begitu pintu kubuka... Aku terperangkap, kemana pun kumenghadap adalah
dinding. "Ibu...! Di mana pintu keluar?" Seketika
ibu ada di hadapanku begitu kujerit takut... Entah dari mana ibu
datang, tapi dinding yang tadi rapat tiba-tiba menghilang.
Bu,
tetaplah bersamaku, jangan tinggalkan aku sendiri di sini, berdiam
dengan kesedihan dan kesendirian. Ajak aku seperti dulu, menunggu bulan
muncul di balik sudut telaga. Aku rindu semilirnya angin, hingga
kudengar riuh nyanyi daun. Rindu tegak liuknya pohon, bagai pesona
tarian.
Aku ingin lihat lagi Ibu, saat malam yang semakin
larut, bulan bergerak turun, lalu telaga dimandikan oleh cahaya.
Kunang-kunang perlahan mengitari tempat kita duduk bersama. Di pinggir
telaga di bawah pohon kenari, biasa kita memandang tenang ke air yang
berkilau keperakan. Bercakap tentang cinta...
Temani aku Bu,
ceritakan kembali tentang keheningan malam yang Dia muliakan. Tentang
kisah kearifan, dan kisah-kisah kebesaran-Nya. Lalu isyaratkan padaku,
bisikkan pada jiwaku, cerita-cerita indah itu, biar kelak kujadikan
bekal untuk kepulanganku.
BNA Wanadadi 02092013
[Ilustrasi: internet - Follow us on Twitter @duniaaksara]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar