Rabu, 04 September 2013

IBU... TETAPLAH BERSAMAKU

IBU... TETAPLAH BERSAMAKU
oleh  Erlin Erlina Soraya

Kain merah menjelma pintu, namun kenapa yang kulihat dinding rapat begitu pintu kubuka... Aku terperangkap, kemana pun kumenghadap adalah dinding. "Ibu...! Di mana pintu keluar?" Seketika ibu ada di hadapanku begitu kujerit takut... Entah dari mana ibu datang, tapi dinding yang tadi rapat tiba-tiba menghilang.

Bu, tetaplah bersamaku, jangan tinggalkan aku sendiri di sini, berdiam dengan kesedihan dan kesendirian. Ajak aku seperti dulu, menunggu bulan muncul di balik sudut telaga. Aku rindu semilirnya angin, hingga kudengar riuh nyanyi daun. Rindu tegak liuknya pohon, bagai pesona tarian.

Aku ingin lihat lagi Ibu, saat malam yang semakin larut, bulan bergerak turun, lalu telaga dimandikan oleh cahaya. Kunang-kunang perlahan mengitari tempat kita duduk bersama. Di pinggir telaga di bawah pohon kenari, biasa kita memandang tenang ke air yang berkilau keperakan. Bercakap tentang cinta...

Temani aku Bu, ceritakan kembali tentang keheningan malam yang Dia muliakan. Tentang kisah kearifan, dan kisah-kisah kebesaran-Nya. Lalu isyaratkan padaku, bisikkan pada jiwaku, cerita-cerita indah itu, biar kelak kujadikan bekal untuk kepulanganku.

BNA Wanadadi 02092013
[Ilustrasi: internet - Follow us on Twitter @duniaaksara]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar