ITU AKU
oleh Erlin Erlina
Sekali lagi, kecewa menyelimuti perasaanku, seperti camar yang semula
terbang tinggi tiba-tiba merendah lantaran medung yang seketika
menggelapkan angkasa. Bungkam, namun bukan mendendam yang tak
terpadamkan. Terbangnya merendah bukan
berarti takut, bahkan sesekali masih berani meninggi kemudian menukik,
lantas diam lagi memainkan sayap mengepak perlahan-lahan.
Aku
bisa rasakan, sinar mataku masih tajam, menatap kedepan, dan bukankah
gerak-geriku juga tidak mencerminkan kalau aku sedang putus asa? Meski
luar biasa kecewanya. Kalaulah aku bisa mengutarakan apa yang kurasa
dari relung terdalamku, tentu pertama mengenai rasa sukaduka, cinta,
benci, antara aku dan kehidupan yang kujalani.
Dibanding dengan
beberapa tahun silam, aku lebih bisa menikmati hidupku sekarang,
perasaanku lebih kebal dengan berbagai macam soal, lebih-lebih tentang
cinta, aku sudah selalu siap jika dikecewakan. Aku berusaha untuk
semakin berani menantang hidup, yang mungkin bagi orang lain sudah
meluluh lantakan.
Kosong yang kurasakan hanya beberapa saat,
ketika tiba-tiba cinta yang terjalin indah terputus tanpa tahu jelas
alasannya. Aku hanya menduga-duga, dan itu sering kutepis demi untuk
menjaga perasaan agar tidak terluka.
Jalan-jalan di pantai
adalah satu-satunya yang kurindukan selama ini, setelah setengah tahun
silam terakhir aku mengunjunginya. Membayangkan pantai yang landai,
dengan pasir putih yang terselang-selingi segerombolan pepohonan,
daun-daunnya meliuk seolah menari-nari seirama desir angin, dan riak
ombak lautnya, membuatku semakin ingin pergi ke sana. Ingin melihat
elang laut menukik dengan kecepetan luar biasa menyambar seekor ikan
yang kemudian di bawanya terbang entah ke mana. Lagi-lagi hela napas
berat yang bisa kulakukan, mengingat perjalanan jauh masih belum mungkin
bisa kutempuh sekarang.
Kalau saja aku bisa menjelma elang...
Akan aku jelajah seluruh tempat yang selama ini aku rindukan, akan aku
cari sesuatu yang aku suka, akan aku bagikan cerita, semua yang telah
aku lewati, aku jelajahi... Laut, bukit-bukit, dan bagaimana aku
menenbus awan-awan berarak yang berbaris-baris putih-putih.
Matahari mulai meninggi. Sinarnya membias masuk ke celah-celah gorden
putih jendela kamar, membuyarkan lamunanku. Tapi kali ini, aku tidak
ingin perduli. Bahkan ketika kudengar suara ciricit burung-burung yang
hinggap di pohon-pohon besar.
: Aku hanya ingin sendiri.
BNA Wanadadi 29092013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar