Kamis, 03 Oktober 2013

ITU AKU

ITU AKU
oleh Erlin Erlina

Sekali lagi, kecewa menyelimuti perasaanku, seperti camar yang semula terbang tinggi tiba-tiba merendah lantaran medung yang seketika menggelapkan angkasa. Bungkam, namun bukan mendendam yang tak terpadamkan. Terbangnya merendah bukan berarti takut, bahkan sesekali masih berani meninggi kemudian menukik, lantas diam lagi memainkan sayap mengepak perlahan-lahan.

Aku bisa rasakan, sinar mataku masih tajam, menatap kedepan, dan bukankah gerak-geriku juga tidak mencerminkan kalau aku sedang putus asa? Meski luar biasa kecewanya. Kalaulah aku bisa mengutarakan apa yang kurasa dari relung terdalamku, tentu pertama mengenai rasa sukaduka, cinta, benci, antara aku dan kehidupan yang kujalani.

Dibanding dengan beberapa tahun silam, aku lebih bisa menikmati hidupku sekarang, perasaanku lebih kebal dengan berbagai macam soal, lebih-lebih tentang cinta, aku sudah selalu siap jika dikecewakan. Aku berusaha untuk semakin berani menantang hidup, yang mungkin bagi orang lain sudah meluluh lantakan.

Kosong yang kurasakan hanya beberapa saat, ketika tiba-tiba cinta yang terjalin indah terputus tanpa tahu jelas alasannya. Aku hanya menduga-duga, dan itu sering kutepis demi untuk menjaga perasaan agar tidak terluka.

Jalan-jalan di pantai adalah satu-satunya yang kurindukan selama ini, setelah setengah tahun silam terakhir aku mengunjunginya. Membayangkan pantai yang landai, dengan pasir putih yang terselang-selingi segerombolan pepohonan, daun-daunnya meliuk seolah menari-nari seirama desir angin, dan riak ombak lautnya, membuatku semakin ingin pergi ke sana. Ingin melihat elang laut menukik dengan kecepetan luar biasa menyambar seekor ikan yang kemudian di bawanya terbang entah ke mana. Lagi-lagi hela napas berat yang bisa kulakukan, mengingat perjalanan jauh masih belum mungkin bisa kutempuh sekarang.

Kalau saja aku bisa menjelma elang... Akan aku jelajah seluruh tempat yang selama ini aku rindukan, akan aku cari sesuatu yang aku suka, akan aku bagikan cerita, semua yang telah aku lewati, aku jelajahi... Laut, bukit-bukit, dan bagaimana aku menenbus awan-awan berarak yang berbaris-baris putih-putih.

Matahari mulai meninggi. Sinarnya membias masuk ke celah-celah gorden putih jendela kamar, membuyarkan lamunanku. Tapi kali ini, aku tidak ingin perduli. Bahkan ketika kudengar suara ciricit burung-burung yang hinggap di pohon-pohon besar.

: Aku hanya ingin sendiri.


BNA Wanadadi 29092013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar