Senin, 14 Oktober 2013

CERPEN: MASIH CERITA TENTANG KAU


oleh Erlin Erlina Soraya

Dahulu, kau adalah temanku, tepatnya sahabat yang mengerti apa yang ada padaku, hanya sebab secoret lengkung lurus itu. Selanjutnya adalah... Kedatanganmu meyakinkanku. "Kalau aku bukan hanya boleh mencoba untuk bisa, tapi sungguh aku memang bisa." Lantas, terima kasih kuucapkan pada siapa? Jika sampai detik aku mencarimu, tak lagi pernah ada.

Aku yang kausebut seperti air mengalir... Rindu sapa, rindu hadirmu, kembali menarikan jemari, memainkan warna bersama, menggerakkan kuas di atas kanvas, melukiskan semua yang meletup, bergejolak hingga bergelombang tenang. Namun yang aku rasakan... Iya aku rasakan, bukan yang aku lihat, sekarang adalah, kau hanya menyunggingkan senyuman letih penuh beban. Entah senyuman itu masih menyalahkan dirimu atau memaafkan. Sepertinya tidak adil jika kau harus meminta maaf sebab telah jatuh cinta.

Selain bercerita, aku juga suka mendengar ceritamu, ketika kaumulai berbicara, perhatianku tak pernah terbagi. Seringkali kuhanya mengangguk pelan dan tersenyum penuh syukur, sebab lantaran kau, aku dianugerahi kepercayaan besar. Tak mudah bagiku untuk menceritakan ulang, bagaimana besarnya peranmu dalam kehidupanku. Pada Tuhan aku berterimakasih, dipertemukan denganmu hingga kumulai mengerti diriku.

Ketika itu cuaca cerah 2012, mendekati ulang tahunku. Kita berdua duduk di tepi telaga, di keteduhan naungan pohon besar... Di atas batu-batu besar.

"Untuk ulang tahunmu Lina, aku tahu yang kauinginkan."

"Oh, ya?" Sambutku, tersenyum senang.

Kemudian kau berkata. "Aku akan mengajakmu ke tempat yang pernah kauangankan, tempat kau bisa menjadi elang laut. Bebas terbang ke mana kausuka.. Ke tengah-tengahnya samudera menerjang angin sepoi pun badai. Lalu ke bukit-bukit mencari pohon tempat kau singgah jika lelah."

"Terima kasih, semoga Tuhan mengijinkanmu."

Aku tidak terlalu berharap itu akan terwujud, kebiasaanku menyederhanakan setiap harapan yang bersemayam di hati adalah yang membuatku tak terlalu kecewa, jika yang menjadi keinginan tak terlaksana.

Dua minggu sebelum kau menepati janjimu. Kubenamkan rasa bahagiaku, hanya dalam hatiku.

"Jika Tuhan mengijinkan kita bertemu, kau akan lihat, bagaimana aku bisa membahagiakanmu, mewujudkan impianmu."

"Buku perdanamu bisa terbit, dan setelah ini selesai, kau bisa memulai yang dulu kau tak berani melakukannya. Melukis." Dari seberang, suaranya memberiku satu lagi kabar gembira.

Aku senang ketika saat itu telah tiba, namun keresahanmu sudah mulai tampak, ketika kita berencana memulai perjalanan. Di tengah perjalanan, kau melakukan yang tak biasa kaulakukan... Behenti, di sebuah taman, memetik kelopak-kelopak bunga dari kuntumnya, lalu kausematkan di telinga. Dan jika lelah singgah, yang kaulakukan adalah, duduk bersandar pada pohon besar yang kautemui, menatap lekat-lekat yang menarik di hadapanmu.

"Biarkan aku menepati janjiku, jangan bertanya atau kaupikirkan apa yang sedang menimpaku. Aku tahu, kau cemas melihatku tak tenang. Tapi itu bukan hal penting. Aku hanya menyayangimu sepenuh hatiku."

"Aku tahu... Tapi, kau juga harus mengerti, untuk bisa bersamaku, ada yang harus kaulakukan. Aku tidak ingin ada luka di kemudian hari. Aku hanya ingin hidup tenang."

Begitu sampai ke tempat yang kaujanjikan, kta berusaha untuk bisa bahagia. Sejenak melupakan yang menjadi beban. Sepoi angin laut, dan debur ombaknya menghapus beribu tanya dibenak. Melihat laut di ketinggian serasa benar aku menjelma elang laut. Senyumku yang mengembang membuatmu senang. Tuhan! Ini lebih dari yang aku bayangkan... Keindahan yang Kausajikan tak terkatakan. Hingga gambaran-gambaran masa lalu yang biasa berkelebatan tak lagi mengganggu. Betapa tidak terasa, waktu begitu cepat berlalu.

Kemudian, Tuhan menunjukan padaku kenyataan yang harus aku terima, kalau hidup itu tidak akan selalu bahagia. Namun aku tak harus terbelalak kaget ketika bumi seolah retak menganga. Air mata juga tak pernah kujadikan senjata. Bagiku Allah adalah segala harap dan doa. Kepada Allah-lah kugantungkan atas jawab untuk segala tanya.

Sedih seketika kukira wajar saja, saat kutak lagi diijinkan melihat, mendengar tentangmu, iya... Siapalah yang bisa memahamimu kecuali aku sendiri. Mungkin. Ya, Allah Yang Maha Bijaksana, memberikan kelemahan pada setiap manusia... Dan di antara sekian banyak kelemahanku adalah... Aku merasa belum bisa sendiri menghadapi hidupku dengan tanggung jawab besar, yang pernah kaukatakan dulu...

Tanggung jawab besar? Sejujurnya aku pernah tidak tahu apa. Tapi perlahan aku mulai mengerti, bahkan sejak kau menghilang dengan tiba-tiba tanpa sempat aku bertanya... Mengira-ngira... Setiap kali kuingat memang hanya mengira-ngira. Dan hingga sekarang aku masih juga mengira-ngira.

Kaulihat, lelahku mulai hinggap, ragaku berada di antara serpih perih. Petualangku sejauh pergimu, pernahkah kau tahu? Letihku disergap sunyi tak sesekali, namun setiap singgah, setiap menepi, ia masih selalu menyusup di tiap celahnya dinding hati.

Aura adamu masih kulihat di antara lesat bintang semalam, sejak bulan putih dua enam kautinggalkan. Seperti sudut cakrawala, aku masih mengingatmu. Harum senyummu yang tertinggal masih tercium...menyimpan rasa yang takkan terlupa.

Perlahan kuhirup napas, membebaskanku dari terasing serupa fana, kupu-kupu yang kemarin melandaku telah mengambil senyum. Lalu kuhanya bisa bersama hening yang setia. Selamanya.

Seperti terperangkap, tertahan pada raga, yang entah di mana. Aku mengering, tanpa sejuknya embun di pucuk kuntum. Terus kumenunggu hingga ufuk menyingsing. Menanti senyum yang melati, kembali.

Kucoba bertahan, kubiarkan mataku menyentuh cahaya, menyibak pekat, yang meluntur dalam kilau kuning keemasan. Takkan kumenghilang menelusup ke lubang hitam. Kulihat masih terbias terang, dan kelopakku sudah tak lagi takut berkedip, menumpahkan yang telah lama menggenang.

Meski nun jauh, bahkan mendaki...akan aku tempuh. Kupeluk tebingnya dengan hatiku, kudengarkan ceritanya tentang gerimis hingga hujan, tentang sepoi angin hingga badai, tentang tetes-tetes harapan yang dibawa embun pagi. Juga tentangmu.

"Duhai, Kau, Tuhanku, yang bersemayam di relung hati terdalamku, karena Kau aku akan menemukannya. Adalah persuaan yang Kaujanjikan, meski masih dalam seandainya bagiku, namun bayang itu telah menari-nari di pelupukku...dan tentang hadirnya pelangi setelah badai, dan berhentinya rintik hujan, aku masih percaya."

Dan kau yang kusebut lentera, aku telah lihat. Tak hanya sekarang, aku berjalan sendiri...nun jauh itu kucoba tempuh. Lentera... Hanya pada kau, di ujung sana.

Duhai, tak kaurasakankah sepoi angin malam menyelinap ke telinga? Suara kecilku: Jangan pernah berpaling... Kaulihat yang merona ini adalah karena kau, lentera...

Di sini, di pembaringan kecilku, dalam malam yang kian tua di bilik tak bernama, aku tertidur mendengar kau bernyanyi, teriring serangkai musik suara desir angin dan binatang malam. Aku istirah. Berhenti berjalan menuju kau, lentera.

BNA WAnadadi 10092013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar