Kamis, 17 Oktober 2013

CERPEN: Ko

Ko
oleh Erlin Erlina Soraya 




"Sayangku, si tukang jual sendal sebelah, apa kabar?"

Belum lagi aku menjawab sapaanya yang mengagetkan, Ko sudah panjang lebar mengapresiasi lukisanku, yang masih setengah jadi.

Wah! Karya lukisan terbaru, terbagus. Logis puitis. Perkembangan yang selaras dari yang terdahulu, bahkan awal mula. Suatu komposisi nada irama warna-warni dan variasi bentuk dengan bentuk daun hati, terjalin untaian tali kelembutan melodi. Komposisi ini merupakan suatu simfoni. Simfoni Kasih Sayang?"

"Tapi ini masih belum jadi Ko."

Seketika Ko tersenyum dan menggelengkan kepalanya, lalu mendekat dan duduk di sebelahku.

"Li... Ko bangga mengenal, juga sangat bahagia bersamamu, lukisan itu boleh belum jadi, tapi sudah terlihat bagaimana nanti hasil akhirnya, pasti akan sangat indah." Ko meraih kedua tanganku, lalu mengambil koas dan tempat catnya, diletakkannya di meja dekat papan lukisan, lantas digenggamnya telapak tanganku, lekat Ko memandang tepat ke bola mataku.

"Eh, sejak kapan Ko di situ? Sama siapa? Kok nggak ngabari dulu?" Otomatis aku menghentikan aktifitas melukisku. Perasaanku sumringah bungah. Di saat aku begitu merindukannya ia datang.

"Bertanyalah satu-satu, jangan bertubi begitu." Sambil menyentuhkan jari telunjuknya ke bibirku. Aku mengangguk patuh, lalu Ko melanjutkan perkataanya.

"Bersama Heri, dia yang bawa mobilnya. Ko nggak sempat ngabari, rindu ini sudah terlalu padamu, atau Li nggak suka Ko pulang ya?"

Bertambah sumringah senyumku, mengembang menjadi tawa senang. Merasakan pelukan Ko di bahuku.

Dan seperti biasa, Ko selalu menggoda, ia suka sekali melihatku serba salah mendengar pertanyaan anehnya.

"Bagaimana Ko, sudah enakan? Masih batuk yah?" Aku tak bisa menyembunyikan kecemasanku, sejak teleponnya beberapa hari lalu, mendengar batuk dan hela napasnya yang berat.

"Seperti yang Li lihat sekarang, masih batuk-batuk, napas belum lagi leluasa dihela, kata dokter, Ko kekurangan oksigen. mesti hati-hati, jika memburuk mesti ke rumah sakit segera, supaya dapat oksigen secepatnya yang diperlukan."

"Maafkan Li, Ko, tak bisa mendampingimu, harusnya Li yang mengurusmu di sana, bukannya Heri. Li menyesal, masih saja tidak bisa melakukan apa-apa untukmu. Membiarkanmu sedirian. Padahal kita sudah bersama sejak lama."

"Sayang, kan Li juga sedang sakit, jadi nggak usah sedih begitu, Rani tidak pernah lupa menyiapkan keperluan Li kan, juga obat-obatan yang harus Li minum." Ko tahu, aku sama dengannya, kalau sudah asik di depan kanvas, selalu saja lupa segalanya. Jadi seringkali harus diingatkan.

"Sayang... Diajeng Li." Panggilan yang aneh, tapi aku suka mendengarnya.

Masih dengan menggenggam tanganku, Ko tak henti-hentinya bertanya ini itu.

"Iya, Rani anak baik, dia selalu menjalankan tugasnya dengan benar."

"Syukurlah jika begitu, jadi Ko bisa tenang meninggalkan Li di sini." Hela napas Ko terdengar lega.

"Iya, dan Ko juga ya, hati-hatilah, jangan dipaksakan aktifitas, siapa yang membantumu di sana sekarang? Masih Heri?"

"Njih, diajeng. Heri masih sama setianya seperti saat Li tinggalkan studio dulu, penuh perhatian, dan sangat memahami Ko, begitu duhai tukang dagang sendal sebelah nan indah!"

"Haaa, lagi-lagi sendal sebelah....! Ko, masih ingat saja foto itu, yang bahkan aku lupa ada di mana sekarang."

"Ko yang menyimpannya, itu foto pertama Li yang paling Ko sukai, setelah foto bersama ayah bunda itu."

"Ko, kau selalu saja perhatian pada hal-hal kecil yang Li seringkali melupakannya. Terima kasih sayang."

"Sayang, Li itu Puisi! Tukang dagang sandal sebelah juga, ding! Hahaha." Tertawa gemas Ko mencubit kedua pipiku.

"Hahaha.... Lantas, Ko tukang apa?

"Tukang dukung, gendong, pangku sang Puisi Tamansari!

"Waaa...Ko!" Aku menjerit senang, tiba-tiba saja Ko menggendongku.

"Sudah, sudah, Ko turunkan Li! nanti ko sakit lagi, tubuh Ko belum cukup kuat untuk menggendong Li, ayolah Ko, turunkan."

"Timang-timang kasihku sayang... Jangan menangis, kangmas di sini..."

Ko bahkan tak memperdulikan permintaanku, dia terus saja nyanyi-nyanyi, sambil membawaku berputar-putar.

"Uhuk uhuk uhuk!" Segera aku memaksa turun dari gendongan, begitu Ko terbatuk-batuk.

"Ko... bagaimana? Li harap Ko baik-baik aja."

"Ko-mu ini akan selalu kuat sayang, dan baik-baik aja, jangan khawatir ah!"

"Li hanya ingin Ko kembali ke sini, melukis bersama di sini."

"Diajeng Li, kan di sana dekat dengan tempat Ko biasa rutin berobat, kalau di sini, akan sangat merepotkan, Ko harus selalu di sana sebab sakit ini datangnya suka mendadak, kalau terjadi apa-apa Li nggak bisa gendong kan? Sayang, sabar ya, nanti kalau sudah benar-benar sehat, pasti pulang ke sini dan tidak akan meninggalkanmu sendiri. Kalau pun terlambat pulang, anggap sedang melakukan aktifitas lain seperti melukis atau menulis. Na, sekarang Li lihat sendiri, Ko masih suka batuk-batuk berkepanjangan. Maka untuk sementara, harus tetap di sana. Li, sudah sangat mengenal Ko, yang akan selalu upaya bertahan. Insya Allah. Li juga, harus kuat, tetap jaga semangat dan kreatif, apapun yang terjadi, yah?"

"Iya Ko. Tapi apa kata dokter? Sekarang juga harus cerita yang sebenarnya, Li nggak mau Ko terus menyembunyikannya. Pasti batukmu itu bukan batuk biasa."

"Sayang, diajeng Li, sakit Ko sudah sangat lama, dan upaya hanya untuk bisa bertahan saja, sebab untuk bisa sembuh itu hanya jika ada keajaiban dari Tuhan. Tapi persetan dengan kanker itu, dia memang sudah menjalar ke paru-paru, bahkan sudah mengganggu jantung."

"Oh, Ko... Apa yang harus Li lakukan untukmu? Andai bisa, ingin sebenarnya selalu berada di sampingmu."

"Lakukan saja seperti yang selalu kita lakukan, berjuang selagi masih diberi kesempatan, ingat, satu hela napas adalah kemenangan!"

"Li hanya cemas, dan selalu berharap Ko akan selalu baik-baik saja, masih selalu menang, iya, satu hela napas adalah kemenangan."

"Sayang, Li harus selalu jaga kesehatan, patuhi apa kata dokter, jangan rewel sebab apapun juga, dan jika Ko lama nggak datang, jangan cemas... Pikirkan yang baik-baik yah. Li tidak akan pernah sendirian." Lalu Ko bangkit.

"Tapi, mau ke mana lagi? Tinggalah sejenak Ko." Aku setengah memohon, sebab aku tahu, Ko pasti menolak permintaanku.

"Eh, diajengku kok masih manja ya, belum lupa to, kewajiban kangmasmu ini? Masih ada beberapa lukisan yang harus selesai, sabar ya, Ko hanya sebentar, nanti pasti kembali."

"Janji ya, awas kalo enggak!"

Ko hanya tersenyum, setelah sekilas mencium kening, kemudian berlalu dari hadapanku. Seperti biasa, Ko hanya sebentar pulang melihatku, lalu pergi ke tempat biasa dia melukis. Tak kulepaskan pandang hingga mobil yang membawanya tak lagi bisa kulihat.

Ko telah bangun studio kecil di lereng bukit, yang di bawahnya mengalir sungai bening. Dia dan aku memang sangat menyukai daerah pegunungan. Dulu sebelum sakit aku juga tinggal di sana. Apalagi kami masih pengantin baru ketika itu, ke mana-mana inginnya selalu bersama. Namun sekarang, udara dingin tidak baik untuk kesehatanku. Terpaksa aku tinggal di rumah lama peninggalan orang tuanya. Kalau Ko memang nggak bisa dicegah orangnya, dengan alasan pengobatan dia tetap tinggal dan sesekali datang menengok keadaanku.

Hingga menjelang ulang tahunku, Ko belum kembali, tak menyapa seperti biasa, lewat telepon atau inbox-nya. Semalaman aku menunggunya, namun sampai menjelang pagi masih tak ada pesan.

"Kenapa Ko? Apa kau lupa hari ini ulang tahunku? Kau bahkan pernah berjanji di ulang tahun tahun lalu, akan menghabiskan waktu bersama, bertukar cerita seperti biasa. Bahkan inbox, SMS-ku pun sama sekali tak kaubalas. Telepon juga sudah tidak. Kemana kau Ko?"

Aku semakin cemas, sebab ini tidak seperti biasanya. Ko tidak pernah tidak perhatian terhadapku, bahkan pada hal-hal kecil sekali pun. Apalagi ulang tahun, Ko selalu punya kejutan indah setiap tahunnya.

"Ko, angkat dong teleponnya..." Berkali-kali aku mencoba telepon, tapi tidak ada yang angkat."

Li sedang terbaring di kamar ketika ponselnya berbunyi.

"Ya sayang, Ko, baik-baik aja kan?"

"Ini saya bu, Heri. Ibu yang sabar ya, sebentar bapak dibawa pulang."

"Bapak kenapa Her, kenapa?"

"Sakit bapak sebenarnya sudah kambuh sejak pulang ke studio, tapi bapak tidak boleh saya mengabari ibu. Dan sekarang bapak sudah tenang bu."

" Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun, Ko...!"

Seketika kepalaku seperti tersambar petir, dunia seolah berubah menjadi gelap.

TAMAT

BNA 17102013
Editor:
Ilustrasi: Karya lukisan 2013 erlinerlina soraya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar