Rabu, 16 Oktober 2013

CURAHAN HATIKU

CURAHAN HATIKU
: Untuk Dunia Aksaraku
oleh Erlin Erlna Soraya

"Apapun yang Allah kondisikan adalah yang terbaik, ketika Allah memberiku kekurangan, pasti Dia akan mengiringinya dengan kelebihan." -EES-

Kehidupan yang kualami sekarang berbeda dengan tahun-tahun lalu. Ketika itu bahkan aku tidak ingin ada yang tahu bagaimana kondisiku, sampai aku benar-benar seperti sendirian, tersingkirkan, merasa paling tidak bahagia. Nyaris putus asa, tiada hari tanpa menangis, sensitif, mudah tersinggung dan suka marah-marah tidak jelas.

Dulu aku segar bugar, sekarang kering kerontang... Orang bilang aku lebih mirip dengan wayang kulit jalan, ketimbang orang. Berat badanku yang 49 kg tersisa 34 kg... Dulu aku pelari cepat, sekarang jalan saja harus diatur agar napas bisa tetap lega terhela. Dulu aku peloncat, pelempar terhebat di sekolah, sekarang pergi ke tempat sejauh 100-200 m saja harus diantar becak, apalagi kalo jalanan yang aku lalui menanjak. Dulu aku juga pernah jatuh cinta, sampai aku sangat menyadari kalau aku tidak perlu kecewa sebab harus kandas sebab sakit yang mendera. Iya, segalanya berbalik 180 derajat.

Sampai suatu hari aku mengenal sesuatu yang mengajariku untuk tidak bersembunyi atau bahkan malu dengan kondisi yang mungkin membuat orang lain, menurut pikiranku pasti akan menghindar jika bertemu denganku. Alhamdulillah, melalui proses yang cukup panjang, aku mulai mengenal bagaimana indahnya kesabaran dan pentingnya pertemanan... Di saat sedih atau senang. Bagaimanapun, aku bahagia dengan kondisi yang sekarang.

Biarlah aku banyak kehilangan, tapi Allah Maha Adil, Dia masih memberiku karunia lebih. Allah mempertemukan aku dengan orang-orang baik, bahkan lebih dari pada itu, mereka yang membimbingku, membangkitan sesuatu yang dulunya terpendam hingga menjadi hal yang membanggakanku. Dengan perantara mereka, aku jadi berani berkata "Bisa" Untuk sesuatu yang tidak pernah terbayangkan.

Terima kasih, ya Allah, selain memberiku kebahagiaan; Telah Engkau karuniakan sepasang makhluk mulia untukku, yang Kaujadikan perantara, aku terlahir ke dunia, Engkau telah menuntunku melalui dunia maya, bertemu dengan dengan orang-orang yang tidak mungkin bisa aku lupakan seumur hidupku. Terima kasih aku haturkan pada, Kak Johar Arifin si Mata Mata Langit, Pak Abdul Kohar Ibrahim alm, berkat beliau berdualah aku jadi penyuka puisi sampai punya buku kumpulan puisi sendiri. Pak Handogo Sukarno dengan Kolcai-nya sehingga aku bahagia, bisa ikut serta dalam pameran di Bandung, yang menjadi pameran perdana lukisanku. Dan tidak lupa yang sudah membuatku berani menerima pesanan lukisan, yang bahkan aku tak tahu di mana beliau hingga sekarang, "Pak Misbach Tamrin, apa kabar pak?" Juga Farrah Adibba Muschaan nandaku, yang tak pernah bosan mengajariku bagaimana menulis dengan benar.

Sahabatku, aku yakin semua yang terjadi bukan sebab kebetulan, tapi inilah sekenario yang telah Allah buat untuk aku memerankannya. Dan untuk bisa dengan baik menjalaninya, aku perlu membacanya, mempelajarinya dan tak hanya sekali mendapatkan ujian-Nya.

Iya, ibarat aku adalah pemain drama, bisa ngarang cerita yang aku kehendaki buat dimainkan, tapi Dia sekaligus Pembuat cerita yang harus aku mainkan. Dia bisa mengubah cerita buatku, asal aku nggak cuma ngerti apa yang Dia perintahkan, tapi melaksanakannya. Aku harus terus ingat, "Tak ada yang lebih kuasa tempat singgah kita, selain dari-Nya."

Dengan sekian banyak peristiwa yang kuhadapi, aku semakin merasa kalau Allah itu Maha Sayang. Dia memang memiliki rencana sendiri-sendiri pada tiap pribadi. Seperti halnya Dia sudah mengatur segalanya tentang diriku, keadaanku. Yang penting, aku harus mempunyai semangat hidup sesuai dengan kemampuan dan kehendak-Nya. Dia tidak akan mungkin mencelakakan aku sebagai hamba-Nya. Meski kadang yang Dia hadirkan sesuatu yang tidak menyenangkan, tapi di sinilah letak bagaimana Allah menguji kesabaran.

Dan dari hari ke hari keyakinanku semakin kuat pasti akan selalu ada hikmah di balik suatu kejadian. Tidak akan ada yang sia-sia, Allah menurukan sesuatu bukan tanpa maksud, hanya saja kembali pada kesabaran kita untuk bisa tahu, keindahan yang seperti apakah yang telah Allah siapkan di depan sana.

Mungkin yang aku lakukan sekarang, belum dikatakan sesuatu yang hebat, tapi setidaknya aku merasa hidupku menjadi lebih berarti.




BNA Wanadadi 16102013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar